bukamata.id – Kondisi kesehatan Presiden RI ke-7, Joko Widodo, tengah menjadi perhatian publik setelah penampilannya menunjukkan perubahan warna kulit pada bagian wajah. Perubahan fisik ini pertama kali mencuri perhatian pasca kepulangan Jokowi dari kunjungan kenegaraan ke Vatikan pada akhir April lalu.
Perjalanan tersebut dilakukan dalam rangka menghadiri prosesi pemakaman Paus Fransiskus sebagai utusan resmi dari Presiden terpilih, Prabowo Subianto. Jokowi berangkat pada 24 April 2025, didampingi sejumlah pejabat kabinet dan mantan menteri.
Muncul Alergi Usai Pulang dari Luar Negeri
Setibanya di tanah air, Jokowi dilaporkan mengalami reaksi alergi yang berdampak pada kondisi kulit wajahnya. Informasi ini dikonfirmasi langsung oleh ajudannya, Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah, saat menjelaskan ketidakhadiran Jokowi dalam peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni lalu.
“Bapak sedang menjalani pemulihan akibat alergi kulit pascapulang dari Vatikan,” ujar Syarif di Solo, Kamis (5/6/2025).
Berbeda dengan spekulasi yang beredar di media sosial, Syarif menegaskan bahwa Jokowi tidak mengalami penyakit berat. Meski wajah tampak mengalami perubahan visual, kondisi fisik secara umum dinyatakan stabil. Bahkan, ia masih aktif bersepeda di akhir pekan.
Kesehatan Jokowi Kembali Disorot Saat Ultah ke-64
Sorotan terhadap kondisi Jokowi kembali mencuat saat perayaan ulang tahunnya yang ke-64, Sabtu (21/6/2025). Dalam momen itu, Jokowi keluar rumah bersama Ibu Negara Iriana dan keluarganya untuk menyapa warga yang datang memberi ucapan. Perbedaan warna pada kulit wajah Jokowi terlihat jelas dan kembali menjadi topik perbincangan publik.
Meski demikian, Kompol Syarif kembali menegaskan bahwa perubahan warna kulit tersebut adalah akibat peradangan ringan karena alergi, bukan penyakit berat seperti autoimun.
“Secara fisik Bapak dalam kondisi baik. Memang ada perbedaan tampilan di wajah, tapi bukan hal serius,” jelasnya.
Isu Autoimun dan Spekulasi SJS
Di tengah perbincangan publik, muncul spekulasi bahwa Jokowi mengidap Stevens-Johnson Syndrome (SJS), yaitu penyakit autoimun langka yang menyerang kulit dan membran mukosa. Namun, Syarif menyatakan bahwa diagnosis pasti hanya bisa ditegakkan oleh tim medis profesional.
“Kalau soal penyakit tertentu seperti SJS, tentunya dokter yang punya kapasitas untuk menjelaskan secara medis,” tuturnya.
Apa Itu Stevens-Johnson Syndrome?
Stevens-Johnson Syndrome merupakan gangguan serius yang biasanya disebabkan oleh reaksi terhadap obat. Gejalanya diawali dengan keluhan mirip flu, lalu berkembang menjadi ruam menyakitkan yang bisa melepuh dan menyebar. Kondisi ini tergolong darurat medis dan memerlukan perawatan intensif.
Faktor risiko SJS meliputi:
- Riwayat alergi terhadap obat tertentu
- Sistem imun lemah
- Penderita HIV/AIDS
- Pasien yang menjalani kemoterapi
- Riwayat keluarga dengan SJS
Alergi Kulit, Penyebab Kemungkinan Paling Rasional
Merujuk pada keterangan dr. Ruri D. Pamela, SpDV, alergi kulit merupakan reaksi berlebihan sistem imun terhadap zat pemicu (alergen), seperti makanan, sabun, debu, atau bahkan perubahan cuaca.
“Ketika tubuh merespons alergen, terjadi pelepasan histamin yang menyebabkan kemerahan, gatal, pembengkakan, bahkan rasa perih,” ujar dr. Ruri.
Faktor lingkungan, seperti perbedaan iklim antara Vatikan dan Indonesia, sangat mungkin menjadi pemicu reaksi alergi pada Presiden Jokowi.
Tetap Aktif Selama Masa Pemulihan
Meski dalam proses pemulihan, aktivitas Jokowi tetap berjalan. Ia menerima kunjungan dari sejumlah tokoh nasional seperti Menko PMK Pratikno dan Penasihat Presiden Muhadjir Effendy. Namun, Syarif menyebutkan kunjungan tersebut bersifat silaturahmi biasa dalam rangka ulang tahun Jokowi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










