bukamata.id – Di sebuah sudut kota Bandung, tepatnya di Jl. Cibodas Raya No.49, Antapani, sebuah pemandangan tak biasa terekam kamera dan mendadak menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Bukan tentang pertikaian atau aksi perpeloncoan yang kerap mewarnai berita pendidikan, melainkan sebuah simfoni kecil tentang empati dan kasih sayang yang dipertontonkan oleh siswa-siswi SD Elfitra.
Melalui unggahan akun Instagram resmi @sdelfitra_official, publik disuguhi video yang mampu menghangatkan hati. Dalam video tersebut, terlihat para siswa senior sedang menjalankan tugas rutin mereka di gerbang sekolah. Namun, alih-alih menampilkan wajah garang atau suara membentak, mereka justru tampil bak kakak kandung yang penuh perhatian.
Sentuhan Lembut sang Kakak Kelas
Seorang kakak kelas laki-laki dengan telaten merapikan kerah seragam adik kelasnya. Tak jauh dari situ, seorang siswi senior dengan nada bicara yang soft-spoken bertanya lembut mengenai kesiapan ibadah dan kerapihan atribut. Tidak ada intimidasi. Yang ada hanyalah percakapan dua arah yang penuh semangat. Para kakak kelas ini bahkan memberikan apresiasi berupa jempol dan senyuman lebar bagi mereka yang disiplin.
Budaya mengayomi ini menuai decak kagum dari warganet. Banyak yang merasa tersentuh melihat bagaimana peran kakak kelas dijalankan dengan begitu manis. “Bagus banget sekolahnya 🥺 yang kakak ngerasain peran jadi kakak. Yang adek dimanjain sama kakaknya,” tulis salah satu netizen di kolom komentar, menggambarkan betapa idealnya hubungan antar-siswa di sekolah tersebut.
Pendidikan Karakter: Adab di Atas Segalanya
Apa yang terjadi di SD Elfitra bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari sistem pendidikan karakter yang terencana. Kedisiplinan tidak ditegakkan dengan rasa takut, melainkan dengan melatih kepemimpinan siswa sejak dini.
Seorang netizen lain memberikan sudut pandang mengenai program semacam ini: “Ini kalau di sekolah aku namanya Leadership, mereka dilatih untuk tanggung jawab mendisiplinkan teman-temannya,” ujarnya. Melalui metode ini, siswa senior tidak merasa memiliki “kekuasaan” untuk menindas, melainkan merasa memiliki “tanggung jawab” untuk membimbing.
Hal ini memicu kebanggaan publik, mengingat tantangan dunia pendidikan saat ini semakin berat. “Masyaallah tabarakallah anak-anak sholeh/sholehah, adab dapat, ilmu dapat, santun, disiplin, penyayang, bangga,” puji seorang netizen yang melihat bahwa keseimbangan antara kepandaian intelektual dan kehalusan budi pekerti adalah kunci utama pendidikan.
Kontradiksi: Luka Senioritas yang Masih Menganga
Namun, di balik indahnya potret di Antapani, dunia pendidikan Indonesia secara luas masih berjuang melawan monster bernama senioritas dan bullying. Saat SD Elfitra mencoba memutus rantai kekerasan, di banyak sekolah lain—terutama di jenjang SMP hingga SMA—budaya intimidasi justru masih dianggap sebagai “tradisi” yang harus dilestarikan.
Senioritas seringkali disalahgunakan sebagai instrumen untuk melampiaskan ego. Bentuknya beragam, mulai dari intimidasi verbal, pengucilan sosial, hingga kekerasan fisik dengan dalih “pembinaan”. Budaya “Dulu saya diginiin, masa kalian nggak?” menjadi racun yang merusak mentalitas generasi muda dan menciptakan siklus dendam yang tak kunjung putus.
Mengapa SD Elfitra Menjadi Penting?
Fenomena di SD Elfitra Bandung memberikan harapan baru. Pesannya jelas: Sudah saatnya kita mengakhiri era senioritas yang intimidatif. Karakter dibangun melalui kebiasaan kecil—seperti cara menyapa di pagi hari, cara merapikan pakaian teman, dan cara memberikan semangat kepada mereka yang lebih muda.
Pendidikan karakter tidak akan berhasil jika hanya diajarkan lewat buku teks, sementara praktiknya di lapangan penuh dengan kekerasan. Kita berharap, semangat dari Jl. Cibodas Raya ini bisa menular ke sekolah-sekolah lain. Agar tidak ada lagi orang tua yang merasa cemas saat melepas anaknya ke sekolah, dan tidak ada lagi siswa yang merasa terancam oleh kakak kelasnya sendiri.
SD Elfitra telah memulai langkah kecil yang berdampak besar. Mereka membuktikan bahwa kehangatan adalah bahasa universal yang jauh lebih efektif daripada bentakan dalam membentuk disiplin. Mari kita jadikan sekolah sebagai tempat di mana “kakak” benar-benar menjadi pelindung, dan “adik” merasa dihargai. Karena pada akhirnya, pendidikan adalah tentang bagaimana kita memperlakukan sesama manusia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









