Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Buru Pecel Lele Enak di Bandung? Ini 4 Tempat yang Wajib Masuk Daftar Kuliner

Senin, 12 Oktober 2026 03:00 WIB

5 Bansos yang Berpotensi Cair Oktober 2026, Ada PKH dan BPNT Rp600.000

Senin, 12 Oktober 2026 01:00 WIB

Bangkit di Babak Kedua, Persib Paksa Dewa United Berbagi Poin

Minggu, 11 Oktober 2026 21:12 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Buru Pecel Lele Enak di Bandung? Ini 4 Tempat yang Wajib Masuk Daftar Kuliner
  • 5 Bansos yang Berpotensi Cair Oktober 2026, Ada PKH dan BPNT Rp600.000
  • Bangkit di Babak Kedua, Persib Paksa Dewa United Berbagi Poin
  • Buntut Bullying Mahasiswa Baru, Telkom University Tetapkan Sanksi Akademik
  • Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu
  • Dua Kali Kebobolan! Persib Tertinggal 0-2 dari Dewa United di Si Jalak Harupat
  • Bikin Geger! Penampilan Susan Dell di Gedung Putih Picu Teori Konspirasi, Dituding Reptil
  • Persib vs Dewa United Malam Ini: Jadwal Kick-off dan Link Live Streaming
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 12 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kritik Tajam Kirab Mahkota Binokasih: Mahasiswa Sebut Rakyat Butuh Solusi Nyata, Bukan Romantisasi Budaya!

By Aga GustianaKamis, 7 Mei 2026 07:16 WIB2 Mins Read
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat acara Kirab Budaya Tatar Sunda. (Foto: Biro Adpim Jabar)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di balik kemeriahan iring-iringan Kirab Budaya Mahkota Binokasih yang melintasi Kabupaten Garut, terselip suara lantang dari sekelompok pemuda. Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Garut menggelar aksi protes tepat saat perayaan berlangsung pada Selasa (5/5/2026) malam.

Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan tamparan keras bagi pengambil kebijakan mengenai skala prioritas pembangunan di Jawa Barat.

Bukan Anti-Budaya, Tapi Soal Urgensi

Ketua HMI Cabang Garut, Yusup Saepul Hayat, menegaskan bahwa gerakan ini sama sekali tidak bermaksud merendahkan tradisi Sunda. Namun, menurutnya, ada ketimpangan antara kemegahan seremoni dengan realita kesulitan yang dihadapi masyarakat kecil.

“Kami ingin meluruskan persepsi terlebih dahulu, bahwa HMI Garut tidak anti terhadap tradisi dan budaya Sunda. Justru kami mencintai itu sebagai bagian dari jati diri. Tapi hari ini, persoalannya adalah perbedaan pandangan soal prioritas,” tegas Yusup.

Ia menilai, wajah Garut saat ini lebih membutuhkan sentuhan nyata di sektor fundamental daripada panggung hiburan. “Kebutuhan masyarakat Garut hari ini bukan pertunjukan. Bukan soal hiburan, tapi bagaimana sektor pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan bisa disentuh secara nyata,” tambahnya.

Menyoal Manfaat untuk 2,9 Juta Warga

Kritik tajam juga mengarah pada efektivitas kegiatan yang dianggap hanya dinikmati segelintir orang. Yusup mempertanyakan apakah euforia kirab ini benar-benar menjadi solusi bagi jutaan warga Garut yang masih berjuang demi kebutuhan pokok.

“Kalau kita hitung, berapa persen masyarakat yang menikmati? Apakah itu benar-benar menjawab kebutuhan 2,9 juta warga Garut? Ini yang menjadi pertanyaan kami,” ungkapnya dengan nada retoris.

Dalam analogi yang cukup menohok, Yusup menggambarkan kondisi daerah saat ini dengan perbandingan kebutuhan pangan. “Garut ini bukan butuh kue, tapi butuh beras,” cetusnya.

Desakan Alokasi Anggaran yang Lebih ‘Membumi’

Senada dengan Yusup, Kepala Bidang PTKP HMI Garut, Respi Malik Abdul Aziz, menekankan bahwa aksi ini adalah pengingat bagi Pemkab Garut dan Pemprov Jabar agar lebih selektif dalam menggunakan sumber daya daerah.

“Kami ingin kegiatan yang sifatnya pertunjukan dan seremonial digeser ke program yang lebih menyentuh kebutuhan masyarakat, seperti fasilitas kesehatan, pendidikan, dan penanganan kemiskinan,” jelas Respi.

Ia menutup aksinya dengan pesan mendalam bahwa hiburan adalah hal yang wajar, namun menjadi ironi jika dipaksakan di tengah kondisi masyarakat yang sedang sulit.

“Garut tidak butuh raja, Garut butuh perbaikan di sektor nyata,” pungkas Respi.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

5 Bansos yang Berpotensi Cair Oktober 2026, Ada PKH dan BPNT Rp600.000

Buntut Bullying Mahasiswa Baru, Telkom University Tetapkan Sanksi Akademik

Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu

Bikin Geger! Penampilan Susan Dell di Gedung Putih Picu Teori Konspirasi, Dituding Reptil

Kecelakaan Motor di Buahbatu Bandung, Polisi Duga Pengendara Kurang Konsentrasi

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Jangan Panik! Ini Alasan Bansos Oktober 2026 Belum Cair dan Cara Mengatasinya

Terpopuler
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Viral! Sejumlah Pengunjung Diduga Keracunan Massal Usai Makan di Restoran Korea Bandung
  • bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.
    BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos
  • Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.