bukamata.id – Momen wisuda di perguruan tinggi biasanya menjadi puncak kebahagiaan bagi para mahasiswa. Namun, ada kisah mendalam yang mencuri perhatian dalam Wisuda Doktor, Magister, Sarjana, dan Diploma Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 Universitas Islam Indonesia (UII).
Rektor UII, Fathul Wahid, membagikan pengalaman personalnya selama delapan tahun masa kepemimpinan yang jarang diketahui publik. Ia mengaku telah menandatangani sekitar 200.000 lembar ijazah dan transkrip nilai secara manual, bukan menggunakan sistem tanda tangan elektronik.
Namun yang membuat kisah ini berbeda bukan sekadar jumlah dokumen yang ia tandatangani, melainkan makna spiritual yang ia sertakan di dalamnya.
Tanda Tangan yang Mengandung Doa dan Harapan
Dalam pidatonya pada Sabtu (25/4/2026), Fathul menjelaskan bahwa setiap lembar ijazah yang ia tanda tangani bukan hanya dokumen administratif, tetapi juga menjadi ruang untuk menyelipkan doa bagi para lulusan.
“Saya sudah tanda tangan ijazah, transkrip, dan salinannya sekitar 200.000 lembar,” ungkapnya di hadapan para wisudawan.
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini dirinya tetap memilih menggunakan tanda tangan basah, meskipun teknologi tanda tangan digital sudah tersedia dan banyak digunakan di berbagai institusi.
Menurutnya, keputusan tersebut bukan karena menolak modernisasi, melainkan karena ingin mempertahankan nilai spiritual dalam proses akademik yang sangat penting bagi mahasiswa.
Alasan Menolak Tanda Tangan Elektronik
Fathul Wahid mengungkapkan bahwa setiap proses penandatanganan ijazah menjadi momen refleksi dan doa yang tidak bisa digantikan oleh sistem digital.
“Justru ketika saya menandatangani itu, saya punya kesempatan untuk mewiridkan doa untuk setiap ijazah dan transkrip yang saya tanda tangani,” jelasnya.
Doa tersebut ia baca secara rutin setelah salat, berisi harapan agar para lulusan dimudahkan dalam perjalanan hidup, baik di dunia maupun akhirat.
Ia juga menambahkan bahwa proses tersebut menjadi bentuk tanggung jawab moral seorang pendidik kepada mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan.
Doa Khusus untuk Para Lulusan
Dalam kesempatan itu, Fathul juga membacakan doa yang ia sisipkan dalam setiap proses penandatanganan ijazah. Doa tersebut berisi permohonan agar para lulusan diberikan kemudahan dalam segala urusan kehidupan.
“Ya Allah, permudahlah urusan keturunan kami, sahabat kami, murid kami, dan para pendidik kami di dunia dan akhirat,” ucapnya.
Baginya, setiap lulusan bukan hanya membawa gelar akademik, tetapi juga membawa harapan besar dari para pendidik yang telah membimbing mereka selama masa studi.
Wisuda Terakhir dengan Tradisi Spiritual
Momen wisuda tahun akademik 2025/2026 ini disebut menjadi yang terakhir bagi Fathul dalam menjalankan tradisi menyisipkan doa pada setiap ijazah, seiring berakhirnya masa jabatannya pada 1 Juni 2026.
Ia menyampaikan bahwa pengalaman tersebut menjadi bagian paling bermakna selama memimpin universitas, karena dapat berinteraksi secara simbolis dengan ribuan mahasiswa melalui setiap tanda tangan yang ia bubuhkan.
Sosok Rektor yang Dikenal Sederhana dan Humanis
Sebelumnya, Fathul Wahid juga dikenal sebagai sosok pemimpin kampus yang sederhana dan dekat dengan civitas akademika. Ia bahkan sempat viral karena meminta agar tidak lagi dipanggil dengan gelar profesor dalam komunikasi sehari-hari.
Melalui surat edaran resmi bernomor 2748/Rek/10/SP/VII/2024, ia menegaskan pentingnya budaya kolegial di lingkungan kampus.
“Maka mulai hari ini mohon panggil saja Fathul, Dik Fathul, Kang Fathul, atau Pak Fathul,” ujarnya.
Kebijakan tersebut mencerminkan upayanya untuk menghilangkan sekat hierarki yang terlalu formal dalam dunia akademik.
Perjalanan Panjang Karier Akademik
Fathul Wahid menjabat sebagai Rektor UII selama dua periode, yakni 2018–2022 dan 2022–2026. Sebelum menjadi rektor, ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknologi Industri UII dan dikenal sebagai dekan termuda pada masanya.
Latar belakang pendidikannya dimulai dari Jepara, Jawa Tengah, hingga menempuh pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung, sebelum melanjutkan studi magister dan doktor di University of Agder, Norwegia.
Perjalanan akademiknya menunjukkan konsistensi dalam dunia pendidikan dan teknologi informasi yang kemudian membawanya menjadi salah satu pemimpin perguruan tinggi ternama di Indonesia.
Viral di Media Sosial, Warganet Tersentuh
Kisah ini kemudian menyebar luas di media sosial, terutama setelah potongan video dan kutipan pidatonya dibagikan di akun Instagram Instagram @shiftmedia.
Banyak warganet mengaku tersentuh dengan ketulusan yang ditunjukkan dalam proses penandatanganan ijazah tersebut.
Komentar warganet di antaranya:
- “Jadi berkaca-kaca saat tahu beliau mendoakan setiap ijazah yang ditandatangani,” tulis akun @nad***
- “MasyaAllah, ilmu, adab, dan doa menyatu dalam satu momen,” tulis akun @wil***
- “Beliau sadar setiap jabatan akan dimintai pertanggungjawaban,” tulis akun @ded***
- “Sosok seperti ini yang benar-benar menginspirasi dunia pendidikan,” tulis akun @tes***
Reaksi tersebut menunjukkan kuatnya dampak emosional dari kisah sederhana yang sarat makna spiritual ini.
Makna Besar di Balik Sebuah Tanda Tangan
Di era digitalisasi dokumen dan sistem administrasi modern, keputusan Fathul Wahid untuk tetap mempertahankan tanda tangan manual memberikan pesan yang lebih dalam.
Bagi dirinya, setiap ijazah bukan sekadar lembar kelulusan, tetapi simbol perjalanan hidup mahasiswa yang harus diiringi dengan doa dan harapan baik dari para pendidik.
Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa teknologi tidak selalu bisa menggantikan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual dalam dunia pendidikan.
Kisah Rektor UII ini menjadi refleksi penting tentang makna pendidikan yang lebih luas. Tidak hanya soal ilmu dan gelar, tetapi juga tentang ketulusan, doa, dan tanggung jawab moral seorang pendidik kepada mahasiswanya.
Tradisi sederhana yang dilakukan selama bertahun-tahun ini kini menjadi warisan makna yang akan dikenang oleh ribuan lulusan Universitas Islam Indonesia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










