Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi Terbaru, Bisa Berbeda Tanggal!

Selasa, 17 Maret 2026 18:25 WIB

Kata Inara Rusli Soal Video Syur: Akui Ada Rekaman, Bantah Tuduhan Perzinaan

Selasa, 17 Maret 2026 17:13 WIB

Waktu Maghrib Kota Bandung Hari Ini Jam Berapa? Jangan Lewatkan Doa Buka Puasa

Selasa, 17 Maret 2026 17:01 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi Terbaru, Bisa Berbeda Tanggal!
  • Kata Inara Rusli Soal Video Syur: Akui Ada Rekaman, Bantah Tuduhan Perzinaan
  • Waktu Maghrib Kota Bandung Hari Ini Jam Berapa? Jangan Lewatkan Doa Buka Puasa
  • Kantongi Belasan Miliar dari Kompetisi Asia, Intip Proyek ‘Los Galacticos’ Persib Bandung Musim Depan
  • Misteri ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ di TikTok: Durasi 7 Menit yang Bikin Penasaran
  • Polisi Umumkan Tol Gedebage Dibuka 24 Jam saat Arus Mudik Lebaran 2026
  • Viral! Adam Alis dan Saddil Ramdani Usul Tukar Pemain Borneo FC ke Persib
  • Laba Tembus Rp1,15 Triliun, bank bjb Buktikan Ketahanan Finansial di Tengah Gejolak Ekonomi 2025
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 17 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kasus Bullying SMPN 40 Bandung Ungkap Keterbatasan Penanganan Siswa Inklusi di Sekolah Negeri

By Muhammad Rafki Razif KiransyahRabu, 21 Januari 2026 21:34 WIB2 Mins Read
Ilustrasi perundungan. (Pixabay)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kasus perundungan (bullying) yang menimpa seorang siswa di SMPN 40 Bandung mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Bandung. Korban dilaporkan mengalami trauma hingga menolak kembali bersekolah.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, melalui unggahan di akun Instagram resminya. Farhan menegaskan bahwa keamanan anak di lingkungan sekolah merupakan hak mutlak yang tidak bisa ditawar.

Menindaklanjuti kasus tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Bandung, Asep Gufron, mengungkapkan bahwa pihaknya bersama tim psikolog sekolah telah melakukan asesmen terhadap korban.

“Hasil asesmen tenaga psikolog merekomendasikan anak itu dipindah ke sekolah berkebutuhan khusus. Karena memang di tingkat SMP (umum), kami belum memiliki tenaga pengajar khusus untuk menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK),” ujar Asep, Selasa (20/1/2026).

Baca Juga:  ‎Pengakuan Pilu Dika Bocah Banjaran: Trauma Bullying hingga Putus Sekolah

Asep menjelaskan, korban yang kini duduk di bangku kelas VII memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi. Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu pemicu terjadinya perundungan di lingkungan sekolah sejak sekitar tiga bulan lalu.

“Anak itu kalau mengobrol agak terbata-bata, komunikasinya susah. Mungkin saat berinteraksi, teman-temannya bercanda (hereuy), lalu anak ini merasa tersinggung. Dari sana muncul masalah tersebut,” jelasnya.

Baca Juga:  Cegah Bullying, Bambang Tirtoyuliono Sebut Pendidikan Karakter di Sekolah Wajib Dapat Porsi Lebih

Ia juga mengungkapkan bahwa korban merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara yang seluruhnya memiliki kebutuhan khusus. Dua kakaknya menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB), sementara korban sebelumnya dimasukkan ke sekolah umum.

Disdik Kota Bandung mengakui bahwa sekolah negeri, baik SD maupun SMP, masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi khusus untuk menangani siswa inklusi atau ABK.

Menanggapi isu yang berkembang di media sosial, Asep menegaskan bahwa pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan tidak lepas tangan. Hingga kini, komunikasi intensif terus dilakukan dengan orang tua korban untuk mencari solusi terbaik.

Baca Juga:  Kasus Bullying Meningkat, KPAI Sebut 3.800 Anak Alami Kekerasan di Era Digital

“Kami masih terus membujuk dan meyakinkan orang tuanya. Jujur saja, di SMP 40 tidak ada tenaga pengajarnya. Kami khawatir jika dipaksakan, pola pembelajarannya tidak akan maksimal bagi si anak. Kami ingin ada keberlanjutan pendidikan yang tepat sesuai hasil asesmen,” katanya.

Asep menambahkan, Dinas Pendidikan Kota Bandung memastikan akan memfasilitasi proses pemindahan sekolah agar korban tetap memperoleh hak pendidikannya di lingkungan yang lebih aman, suportif, dan sesuai dengan kebutuhan emosional maupun akademiknya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

anak berkebutuhan khusus bullying Dinas Pendidikan Bandung inklusi pendidikan keamanan sekolah SMPN 40 Bandung
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi Terbaru, Bisa Berbeda Tanggal!

Waktu Maghrib Kota Bandung Hari Ini Jam Berapa? Jangan Lewatkan Doa Buka Puasa

Polisi Umumkan Tol Gedebage Dibuka 24 Jam saat Arus Mudik Lebaran 2026

Laba Tembus Rp1,15 Triliun, bank bjb Buktikan Ketahanan Finansial di Tengah Gejolak Ekonomi 2025

Bukan Sembarang Prajurit! Prada Nawawi Harumkan Indonesia di Langit Libya, Netizen: Tentara Allah!

Obat Rindu Perantau: Kala Jurnalis Ju’e Hangatkan Hati Pedagang Cibeunying yang Tak Mudik

Terpopuler
  • Viral Video Kebun Sawit Ibu Tiri vs Anak Tiri, Apa Isinya? Hati-hati Jebakan Batman!
  • Video Aksi Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit Viral, Link Diburu Netizen
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Netizen Penasaran! Video Mukena Pink ‘No Sensor’ Viral, Banyak yang Buru Link Aslinya
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Waspada Klaim Full Durasi Video Ukhti Mukena Pink ‘No Sensor’, Ini Faktanya
  • Viral video ukhti mukena pink.
    Hati-hati! Link Video Viral Mukena Pink ‘No Sensor’ Bisa Sebarkan Malware
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.