Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Diterjang Angin Kencang, Reklame Raksasa di Buah Batu Bandung Roboh Timpa Mobil dan Pos Jaga

Sabtu, 28 Maret 2026 15:00 WIB

Dulu Peluk Boneka Sendirian, Sekarang Punch Berani Pasang Badan untuk Sang ‘Pacar’ Momo-Chan

Sabtu, 28 Maret 2026 14:48 WIB

Alarm Bahaya di Jalan Raya Indonesia: Satu Nyawa Melayang Tiap 20 Menit

Sabtu, 28 Maret 2026 11:25 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Diterjang Angin Kencang, Reklame Raksasa di Buah Batu Bandung Roboh Timpa Mobil dan Pos Jaga
  • Dulu Peluk Boneka Sendirian, Sekarang Punch Berani Pasang Badan untuk Sang ‘Pacar’ Momo-Chan
  • Alarm Bahaya di Jalan Raya Indonesia: Satu Nyawa Melayang Tiap 20 Menit
  • Update Ranking FIFA: Indonesia Meroket ke Posisi 120, Malaysia Terjun Bebas Usai Skandal Pemain Naturalisasi
  • Mumpung Masih Aktif! Sikat Kode Redeem FF 28 Maret 2026: Peluang Dapat M1887 SG Ungu dan Bundle Sultan Gratis
  • Sempat Ingin Polisikan Netizen, Hendrik Irawan Kini Pasrah Dapurnya Disegel Buntut Joget Nyeleneh
  • Harga Emas Antam Meroket Hari Ini, Dekati Rekor Baru di Level Rp2,83 Juta per Gram
  • Kejutan Panglima! Kenaikan Pangkat Luar Biasa untuk Prajurit TNI Penghafal Al-Qur’an
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 28 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kasus HIV Melonjak di Jawa Barat, Gay Jadi Kelompok Penyumbang Terbesar

By Aga GustianaJumat, 27 Juni 2025 19:44 WIB2 Mins Read
Bendera LGBT. (Foto: Pixabay)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Jawa Barat mencatat lonjakan signifikan kasus HIV sepanjang 2024, dengan kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) atau gay menjadi penyumbang terbesar. Dari total 1,19 juta tes HIV yang dilakukan, sebanyak 52.105 peserta berasal dari kelompok gay. Hasilnya, 3.247 di antaranya dinyatakan positif HIV—angka tertinggi dibanding kelompok lainnya.

“Kalau melihat dari grafik yang ada, itu artinya dari hampir 1,2 juta orang yang dites, penularan HIV paling banyak memang melalui hubungan seksual, khususnya di kelompok laki-laki yang seks sama laki-laki,” ujar Landry Kusmono, Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa Barat, dikutip Jumat (27/6/2025).

Risiko Meluas ke Populasi Umum

Menurut Landry, tantangan utama dalam pengendalian HIV di Jawa Barat adalah kompleksitas relasi seksual dalam kelompok LSL. Banyak dari mereka ternyata juga memiliki pasangan lawan jenis, sehingga risiko penularan tidak hanya terbatas dalam komunitas LSL.

“Agak sulit memang kita mendefinisikan hubungan seksual itu sejenis atau lain jenis. Karena banyak juga dari yang berhubungan seksual sejenis itu juga melakukan hubungan seksual lain jenis. Banyak LSL di Jawa Barat itu juga punya pasangan,” jelasnya.

Baca Juga:  Dahsyatnya Banjir Bandang Cisolok Sukabumi: Sungai Mengamuk, Kampung Luluh Lantak

Kondisi ini membuka potensi penyebaran virus ke populasi umum, menjadikan pengendalian epidemi semakin rumit.

Seks Bebas Jadi Jalur Penularan Dominan

Landry juga mengungkapkan bahwa dari dua jalur utama penularan HIV—yakni hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik—penularan melalui hubungan seksual masih jauh lebih dominan di Jawa Barat.

Baca Juga:  4 Cara Dedi Mulyadi Dorong Industri Wisata Jabar

Lonjakan Kasus HIV dalam Tiga Tahun Terakhir

Data menunjukkan peningkatan tajam kasus HIV baru sejak 2022. Jika pada tahun-tahun sebelumnya kasus baru cenderung stabil di kisaran 5.000 per tahun, tren berubah drastis dalam tiga tahun terakhir:

  • 2019: 6.066 kasus
  • 2022: 8.620 kasus
  • 2023: 9.710 kasus
  • 2024: 10.405 kasus

“Biasanya dari tahun 2010 sampai 2021 itu angkanya di 5.000. Tapi sejak 2022 angkanya langsung naik. Artinya, kenaikan kasus HIV baru yang ditemukan itu sudah 100 persen,” tutur Landry.

Baca Juga:  Cara Elegan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Menanggapi Para 'Pencaci'

Mobilitas Pascapandemi Jadi Pemicu

Lonjakan kasus juga dipengaruhi oleh mobilitas tinggi pascapandemi. Banyak pekerja seks dan migran kembali ke daerah asal karena kehilangan pekerjaan selama masa COVID-19, yang kemudian berdampak pada penyebaran HIV di lingkungan terdekat.

“Banyak faktor, terutama perempuan pekerja seks dari luar daerah yang kembali karena tidak ada aktivitas di daerah sebelumnya. Mereka akhirnya menularkan di lingkungan terdekat mereka, keluarga ataupun masyarakat. Termasuk laki-laki dari Jawa Barat yang dulu kerja di luar daerah, itu juga yang menularkan,” ujarnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Covid-19 Data Kesehatan Epidemi HIV hiv jawa barat Kesehatan Masyarakat Komisi Penanggulangan AIDS LSL Pencegahan HIV Tren Kesehatan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Diterjang Angin Kencang, Reklame Raksasa di Buah Batu Bandung Roboh Timpa Mobil dan Pos Jaga

Alarm Bahaya di Jalan Raya Indonesia: Satu Nyawa Melayang Tiap 20 Menit

Sempat Ingin Polisikan Netizen, Hendrik Irawan Kini Pasrah Dapurnya Disegel Buntut Joget Nyeleneh

Kejutan Panglima! Kenaikan Pangkat Luar Biasa untuk Prajurit TNI Penghafal Al-Qur’an

Mantap! Pensiunan PNS Terima Gaji dan Tunjangan hingga Ratusan Ribu Rupiah

Dramatis! Polisi dan Korban Kompak Jebak Maling Motor di Ujungberung

Terpopuler
  • Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.
    Netizen Penasaran! Video Viral Kebun Sawit Ini Bisa Mengandung Risiko Digital
  • Link Video Ojol vs Bule 17 Menit Viral, Ternyata Settingan WNA di Bali demi Konten
  • Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit: Dari TikTok Hingga Ancaman Pidana UU ITE
  • Viral di TikTok! Kronologi Video Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit
  • Heboh! Link Telegram Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ di Kebun Sawit Ramai Diburu, Ini Fakta Sebenarnya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.