bukamata.id – Jawa Barat mencatat lonjakan signifikan kasus HIV sepanjang 2024, dengan kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) atau gay menjadi penyumbang terbesar. Dari total 1,19 juta tes HIV yang dilakukan, sebanyak 52.105 peserta berasal dari kelompok gay. Hasilnya, 3.247 di antaranya dinyatakan positif HIV—angka tertinggi dibanding kelompok lainnya.
“Kalau melihat dari grafik yang ada, itu artinya dari hampir 1,2 juta orang yang dites, penularan HIV paling banyak memang melalui hubungan seksual, khususnya di kelompok laki-laki yang seks sama laki-laki,” ujar Landry Kusmono, Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa Barat, dikutip Jumat (27/6/2025).
Risiko Meluas ke Populasi Umum
Menurut Landry, tantangan utama dalam pengendalian HIV di Jawa Barat adalah kompleksitas relasi seksual dalam kelompok LSL. Banyak dari mereka ternyata juga memiliki pasangan lawan jenis, sehingga risiko penularan tidak hanya terbatas dalam komunitas LSL.
“Agak sulit memang kita mendefinisikan hubungan seksual itu sejenis atau lain jenis. Karena banyak juga dari yang berhubungan seksual sejenis itu juga melakukan hubungan seksual lain jenis. Banyak LSL di Jawa Barat itu juga punya pasangan,” jelasnya.
Kondisi ini membuka potensi penyebaran virus ke populasi umum, menjadikan pengendalian epidemi semakin rumit.
Seks Bebas Jadi Jalur Penularan Dominan
Landry juga mengungkapkan bahwa dari dua jalur utama penularan HIV—yakni hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik—penularan melalui hubungan seksual masih jauh lebih dominan di Jawa Barat.
Lonjakan Kasus HIV dalam Tiga Tahun Terakhir
Data menunjukkan peningkatan tajam kasus HIV baru sejak 2022. Jika pada tahun-tahun sebelumnya kasus baru cenderung stabil di kisaran 5.000 per tahun, tren berubah drastis dalam tiga tahun terakhir:
- 2019: 6.066 kasus
- 2022: 8.620 kasus
- 2023: 9.710 kasus
- 2024: 10.405 kasus
“Biasanya dari tahun 2010 sampai 2021 itu angkanya di 5.000. Tapi sejak 2022 angkanya langsung naik. Artinya, kenaikan kasus HIV baru yang ditemukan itu sudah 100 persen,” tutur Landry.
Mobilitas Pascapandemi Jadi Pemicu
Lonjakan kasus juga dipengaruhi oleh mobilitas tinggi pascapandemi. Banyak pekerja seks dan migran kembali ke daerah asal karena kehilangan pekerjaan selama masa COVID-19, yang kemudian berdampak pada penyebaran HIV di lingkungan terdekat.
“Banyak faktor, terutama perempuan pekerja seks dari luar daerah yang kembali karena tidak ada aktivitas di daerah sebelumnya. Mereka akhirnya menularkan di lingkungan terdekat mereka, keluarga ataupun masyarakat. Termasuk laki-laki dari Jawa Barat yang dulu kerja di luar daerah, itu juga yang menularkan,” ujarnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











