bukamata.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, angkat bicara menanggapi kritik tajam terhadap gaya komunikasi dan pendekatan visual dalam politik Indonesia, khususnya yang mengarah pada dirinya.
Dalam pernyataan terbarunya, Dedi menegaskan bahwa makna dari setiap tindakan harus dilihat dari dampaknya bagi masyarakat, bukan hanya dinilai dari bentuk permukaannya.
“Saya memilih menjadi orang yang berpikiran dangkal, tapi melahirkan hamparan tanaman, daripada mengaku pikirannya dalam hanya mampu membuat orang tenggelam,” ujar Dedi dalam unggahan di Instagram pribadinya @dedimulyadi71, Jumat (23/5/2025).
Tak hanya itu, Dedi juga mengajak masyarakat untuk menyikapi berbagai komentar dengan sikap positif.
“Pagi semuanya, kita hadapi berbagai kritikan dengan senyuman, salam bahagia, sehat selalu. Dengan melangkah, hidup akan menjadi berkah,” tandasnya.
Sebelumnya, dalam acara Indonesia Lawyers Club bertajuk “Dulu Mulyono, Kini Mulyadi”, Rocky Gerung menyinggung soal politisi yang dinilainya lebih menonjolkan aspek visual dibandingkan gagasan substansial. Rocky menyebut Dedi Mulyadi sebagai contoh dari fenomena tersebut.
“Yang berbahaya bukan Dedi Mulyadi atau Junto Mulyono, tapi penontonnya. Penonton yang lebih mementingkan visualisasi daripada visi,” kata Rocky dalam siaran ILC yang diunggah di YouTube, Kamis (22/5/2025).
Rocky juga mengkritik salah satu langkah Dedi, yakni mengirim anak-anak ke barak militer sebagai metode pendisiplinan. Menurutnya, tindakan tersebut menunjukkan pendekatan yang keliru dalam memahami pendidikan anak.
“Ngirim anak ke barak itu dangkal. Fungsi barak militer itu untuk mendisiplinkan tubuh, bukan pikiran. Anak itu nakal karena kreativitasnya tumbuh. Yang dibutuhkan adalah pedagogi, bukan demagogi. Pikiran tidak bisa didisiplinkan,” ujarnya.
Ia juga menyindir masyarakat yang dengan mudah terkesima oleh gimmick politik dan metode pendidikan yang dangkal. Menurutnya, publik hari ini lebih banyak menonton permukaan daripada menggali substansi.
“Kita ini sedang menonton kedangkalan, dan itu terjadi setiap hari. Coba renungkan, yang kita lihat sehari-hari bukan leader, tapi dealer. Orang yang tidak mampu mengucapkan sesuatu yang layak untuk dibantah. Padahal, seorang pemimpin sejati adalah mereka yang siap argumennya dibantah. Tapi sekarang, ketika dibantah malah dikira buzzer,” tutup Rocky.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










