Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Ilustrasi emas antam

Tembus Rekor Baru! Harga Emas Antam di Pegadaian Sentuh Rp3 Juta per Gram Hari Ini 2 April 2026

Kamis, 2 April 2026 07:20 WIB

Cuan Melimpah! Persib Bandung Berpotensi Diguyur Uang dari FIFA Berkat Frans Putros

Kamis, 2 April 2026 07:05 WIB
Ilustrasi gempa

Update Gempa Hari Ini: Bitung-Manado Diguncang Magnitudo 7,3, Berpotensi Tsunami

Kamis, 2 April 2026 06:57 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Tembus Rekor Baru! Harga Emas Antam di Pegadaian Sentuh Rp3 Juta per Gram Hari Ini 2 April 2026
  • Cuan Melimpah! Persib Bandung Berpotensi Diguyur Uang dari FIFA Berkat Frans Putros
  • Update Gempa Hari Ini: Bitung-Manado Diguncang Magnitudo 7,3, Berpotensi Tsunami
  • Banyak Kode Aktif! Kode Redeem FF 2 April 2026: Ambil Jaket EVOS Juara dan Incubator Voucher Sekarang
  • Daftar Kode Redeem FF Terbaru Kamis 2 April 2026: Ada Skin SG2, Bundle Langka, dan Diamond Gratis
  • Jangan Sampai Terlewat! Ini 4 Syarat Ikut Program Nikah Gratis Kota Bandung
  • Video ‘Part 2’ Ibu Tiri vs Anak Tiri Viral, Benarkah Ada Versi Lengkapnya?
  • Persib Larang Bobotoh ke Padang, Ada Ancaman Sanksi Berat!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 2 April 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kontroversi Kepala BNPB: Publik Rindukan Sosok Sutopo, Doni Monardo dan Ahmad Yurianto

By SusanaSelasa, 2 Desember 2025 19:29 WIB4 Mins Read
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto. Foto: Tangkapan Layar YouTube BPNB.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatera dalam sepekan terakhir memunculkan duka mendalam sekaligus menyulut polemik publik.

Di tengah meningkatnya jumlah korban, pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menyisakan kontroversi dan mendapat respons keras dari masyarakat.

Bencana yang meliputi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat ini telah menelan ratusan korban jiwa serta membuat puluhan ribu keluarga mengungsi. Namun di saat situasi mencekam tersebut, pernyataan awal BNPB tentang tidak adanya status bencana nasional justru menjadi sorotan yang melahirkan gelombang kritik.

Pernyataan Kontroversial: “Mencekamnya Hanya di Sosmed”

Dalam konferensi pers daring di Jakarta, Sabtu 29 November 2025, Suharyanto menjelaskan alasan pemerintah tidak menetapkan banjir dan longsor Sumatera sebagai bencana nasional.

Menurutnya, skala dan karakteristik bencana saat ini belum memenuhi kriteria yang digunakan Indonesia dalam penetapan status nasional. Ia mencontohkan dua bencana besar yang pernah dinyatakan sebagai bencana nasional: tsunami Aceh 2004 dan pandemi Covid-19.

“Situasi di Sumatera tidak masuk dalam kategori bencana nasional. Banyak bencana besar sebelumnya tetap ditangani dalam skala daerah, seperti gempa Palu, gempa NTB, dan gempa Cianjur,” kata Suharyanto.

Ia juga menyebut bahwa situasi di lapangan lebih terkendali dibandingkan gambaran di media sosial.

Baca Juga:  Keluarga Hilang Kontak di Aceh, Dedi Mulyadi Gerak Cepat Terbang ke Lokasi Bencana

“Memang kemarin kelihatannya mencekam ya, tapi begitu rekan-rekan media hadir di lokasi, kemudian tidak hujan. Yang menjadi hal serius itu Tapanuli Tengah, yang lain relatif,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sontak memicu reaksi keras publik, terutama para penyintas dan keluarga korban yang merasa kondisi lapangan masih sangat jauh dari kata terkendali.

Minta Maaf Setelah Tinjauan Lapangan

Kritik makin meluas setelah kondisi riil di Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan menunjukkan kerusakan lebih masif dari perkiraan awal BNPB.

Saat meninjau Desa Aek Garoga, Batang Toru, Senin (1/12/2025), Suharyanto akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan.

“Pak, saya surprise, saya tidak mengira sebesar ini. Saya mohon maaf, Pak Bupati. Bukan berarti kami tak peduli,” ujar Suharyanto.

Ia menegaskan bahwa kehadirannya di lokasi bencana, bersama TNI–Polri dan tim BNPB, merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk membantu para korban.

Respons Warganet: “Blunder Lagi, Minta Maaf Lagi”

Permintaan maaf tersebut justru memicu gelombang komentar pedas di media sosial. Dikutip dari kolom komentar Instagram @feedgramindo, warganet meluapkan kekecewaan:

  • “Capek gua maafin pejabat-pejabat di medsos. Ga bakal kapok kalau penyelesaian sekadar minta maaf,” tulis akun @bun***.
  • “Wkwkwk blunder… Makanya dilihat dulu Pak,” komentar @hap***.
  • “Di Konoha kalau blunder minta maaf langsung selesai,” ujar @ssy***.
  • “Makanya lihat dulu sebelum bicara. Anda ini pejabat, bukan anak TK,” tulis akun @sa***.
Baca Juga:  Keluarga Hilang Kontak di Aceh, Dedi Mulyadi Gerak Cepat Terbang ke Lokasi Bencana

Di tengah kritik tersebut, muncul pula kerinduan publik pada figur komunikator publik saat krisis di masa lalu seperti Sutopo Purwo Nugroho, Doni Monardo, dan Ahmad Yurianto, tokoh yang dinilai empatik, transparan, dan konsisten menyampaikan informasi.

Komentar-komentar dari @pandemictalks menggambarkan suasana hati publik:

  • “Pak Sutopo, Pak Doni & Pak Ahmad kami rindu. Al-Fatihah,” tulis akun @miss***.
  • “Yang paling bagus Pak Sutopo,” kata akun @adi***.
  • “Para pendahulunya luar biasa, semoga husnul khatimah,” tulis @sal***.
  • “Penunjukan kepala BNPB, tidak ada seleksi empati dan belas kasih?” ujar @shi***.

Lonjakan kritik ini menjadi tanda bahwa publik mengharapkan komunikasi bencana yang lebih sensitif, akurat, dan humanis.

Profil Singkat Suharyanto: Karier Panjang di Dunia Militer

Letjen TNI Suharyanto, S.Sos., M.M., lahir di Cimahi pada 8 September 1967. Latar belakang keluarganya yang erat dengan dunia militer membuatnya sejak kecil bercita-cita menjadi prajurit TNI.

Lulus Akmil tahun 1989, ia bertugas di Infanteri Kalimantan selama sembilan tahun, termasuk operasi di Timor Timur. Kariernya melesat melalui sejumlah jabatan strategis:

  • Komandan Batalyon 516/Caraka Yudha
  • Komandan Batalyon 500/Raider
  • Dandim Surabaya Selatan dan Gresik
  • Perwira Intel di Kodam dan Korem
  • Jabatan-jabatan penting di Badan Intelijen Negara
  • Kasdam Jaya (2018–2019)
  • Sekretaris Militer Presiden (2019–2020)
  • Pangdam V/Brawijaya (2020–2021)
Baca Juga:  Keluarga Hilang Kontak di Aceh, Dedi Mulyadi Gerak Cepat Terbang ke Lokasi Bencana

Pada 17 November 2021, Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Kepala BNPB, dan beberapa pekan kemudian pangkatnya naik menjadi Letnan Jenderal.

Lonjakan Korban: 442 Jiwa Meninggal, 402 Masih Hilang

Hingga 1 Desember 2025, data BNPB mencatat total 442 korban meninggal dan 402 orang hilang di tiga provinsi.

Sumatera Utara

  • Meninggal: 217 orang
  • Hilang: 209 orang
  • Wilayah terdampak: Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Barat, Padang Sidempuan, Deli Serdang, Nias
  • Pengungsi: lebih dari 17.000 jiwa di sejumlah titik

Aceh

  • Meninggal: 96 orang
  • Hilang: 75 orang
  • Terdampak di 11 kabupaten/kota
  • Pengungsi: 62.000 KK

Sumatera Barat

  • Meninggal: 129 orang
  • Hilang: 118 orang
  • Pengungsi: 77.918 jiwa

BNPB menegaskan bahwa TNI–Polri, Basarnas, pemerintah daerah, kementerian/lembaga, serta ribuan relawan masih melakukan pencarian korban, membuka akses daerah terisolasi, dan memastikan logistik terpenuhi.

Koordinasi Pemerintah Tetap Diintensifkan

Meski status bencana tidak dinaikkan ke tingkat nasional, pemerintah pusat menekankan bahwa dukungan besar-besaran terus berlangsung. Alutsista dikerahkan, posko utama diperluas, dan distribusi bantuan dipercepat.

Namun, di tengah kerja penanganan itu, kontroversi komunikasi BNPB menjadi pelajaran penting bahwa sensitivitas publik adalah bagian dari manajemen bencana yang tak boleh diabaikan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

banjir bandang sumatera bencana sumatera 2025 bnpb suharyanto korban banjir sumatera kritik publik bnpb update korban banjir aceh sumut sumbar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ilustrasi gempa

Update Gempa Hari Ini: Bitung-Manado Diguncang Magnitudo 7,3, Berpotensi Tsunami

Jangan Sampai Terlewat! Ini 4 Syarat Ikut Program Nikah Gratis Kota Bandung

Diduga Parkir Sembarangan, Truk Picu Kecelakaan Maut di Bandung

Modal Kaos Pemberian Dosen, Anak Ini Buktikan Doa Ibu Tembus Jalur Langit ke ITB!

KA Ciremai Terganggu Longsor di Maswati–Sasaksaat, Lokomotif Anjlok

Heboh Mangga Mini Thailand, Hartono Soekwanto Ungkap Peluang Besar untuk Petani Jabar

Terpopuler
  • Mumpung Masih Aktif! Sikat Kode Redeem FF 28 Maret 2026: Peluang Dapat M1887 SG Ungu dan Bundle Sultan Gratis
  • Heboh! Link Telegram Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ di Kebun Sawit Ramai Diburu, Ini Fakta Sebenarnya
  • Viral Misterius! Potongan Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Kebun Sawit Bikin Heboh, Fakta Aslinya Mengejutkan
  • Di Balik Viral Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ di Kebun Sawit, Ada Ancaman Phishing Mengintai
  • Video Viral ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Heboh, Fakta Sebenarnya Bikin Kaget
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.