bukamata.id – Dunia pesantren dituntut untuk tidak menutup mata dari masifnya perkembangan dunia digital. Pesan krusial tersebut mengemuka dalam momentum Haul Akbar ke-5 Muassis dan Masyayikh Pondok Pesantren Al-Husaeni yang digelar di Desa Ciheulang, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, pada Selasa (16/6/2026).
Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, yang hadir langsung dalam acara tersebut menegaskan pentingnya lembaga pendidikan Islam tradisional untuk bergerak dinamis. Sebagai salah satu alumni berprestasi dari Ponpes Al-Husaeni, Cucun mengajak seluruh elemen pesantren agar melek teknologi informasi demi menjawab tantangan peradaban modern.
Kilas Balik Satu Abad Ponpes Al-Husaeni
Pondok Pesantren Al-Husaeni sendiri bukan nama baru dalam peta syiar Islam di Jawa Barat. Menjadi salah satu lembaga pendidikan keagamaan tertua di Kabupaten Bandung, embrio pesantren ini sejatinya telah berdenyut sejak tahun 1919 lewat majelis pengajian kecil yang dirintis oleh KH Husen dan Hj Rukiyah.
Seiring membeludaknya jumlah santri yang datang menimba ilmu, barulah pada tahun 1940 komplek pendidikan ini resmi dinamai Al-Husaeni untuk mengabadikan dedikasi perjuangan KH Husen.
Kini, setelah melintasi zaman, ponpes ini telah bertransformasi menjadi pusat pendidikan formal yang lengkap, mulai dari jenjang RA, MI, SMP, hingga SMA, serta sukses mencetak ribuan lulusan yang berkarier di berbagai sektor strategis nasional.
Ruang Nostalgia dan Fondasi Karakter
Kembali ke tempatnya dahulu mengaji, Cucun sempat membagikan cerita emosional di hadapan para ulama, santri, dan masyarakat yang memadati area haul. Bagi politisi PKB ini, Al-Husaeni adalah tempat sakral yang ikut menggembleng prinsip hidupnya hingga bisa duduk di kursi pimpinan Senayan.
“Pesantren ini memiliki arti tersendiri dalam perjalanan hidup saya. Saya pernah belajar di sini dan banyak mendapatkan pelajaran yang menjadi bekal dalam kehidupan,” kata Cucun.
Tantangan Santri Menghadapi Era AI (Artificial Intelligence)
Namun, alih-alih sekadar bernostalgia, Cucun memanfaatkan podium untuk memantik kesadaran kolektif seputar urgensi digitalisasi di lingkungan pesantren. Menurutnya, metode pengajaran klasik harus mulai dikombinasikan dengan pemanfaatan teknologi terkini agar santri tidak gagap teknologi (gaptek).
“Saya sekali lagi menyampaikan bahwa pesantren sekarang harus sudah adaptif dengan perkembangan teknologi informasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, modernisasi sistem ini sama sekali tidak bertujuan untuk mengikis identitas pesantren, melainkan memperkaya fasilitas belajar yang ramah teknologi dengan tetap memegang teguh nilai-nilai luhur dan moralitas keislaman.
“Saya ingin pesantren-pesantren itu sudah ramah dengan perkembangan teknologi informasi karena tantangan zaman ke depan,” katanya.
Lebih spesifik, legislator asal Kabupaten Bandung ini menyoroti kehadiran teknologi kecerdasan buatan yang kini mulai mengubah lanskap industri dan edukasi secara global.
“Sekarang sudah lahirnya AI, lahirnya sekarang berbagai konsep-konsep tentang teknologi yang harus diadaptif dibagi oleh para santri yang ada di pesantren,” ucapnya.
Cucun berharap ada langkah konkret dari pemangku kebijakan pesantren untuk merombak metodologi belajar mengajar agar selaras dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan substansi ilmu fikih dan akidah.
“Saya ingin bagaimana metodologi yang diajarkan di pesantren ini harus bertransformasi menuju kepada adaptasi ini,” katanya.
Menutup pidatonya, Cucun mengingatkan konsekuensi serius jika lembaga pendidikan Islam memilih berdiam diri di tengah arus modernisasi.
“Jadi jangan sampai nanti ada dunia pembelajaran pesantren ketinggalan,” tegasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










