bukamata.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan tengah melakukan penyelidikan terhadap dugaan tindak pidana korupsi dalam proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh). Proses penyelidikan disebut telah berjalan sejak awal tahun 2025.
“Diawali sejak awal tahun, dan tentunya ini masih terus berjalan,” ujar Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (27/9/2025).
Budi menjelaskan bahwa tahap penyelidikan ini difokuskan untuk menelusuri indikasi awal adanya dugaan pelanggaran hukum dalam proyek tersebut. Menurutnya, lembaga antirasuah masih mengumpulkan bukti dan keterangan dari berbagai sumber.
“Kami masih fokus dulu untuk mencari dan menemukan unsur-unsur peristiwa adanya dugaan tindak pidana korupsinya. Ya, kami fokus dulu di situ dalam tahap penyelidikan,” jelasnya.
KPK Belum Beberkan Detail dan Pihak yang Diperiksa
Ketika ditanya apakah penyelidikan ini berkaitan dengan dugaan kerugian negara atau gratifikasi, Budi menegaskan hal tersebut masih menjadi bagian dari materi penyelidikan dan belum bisa dipublikasikan.
Ia juga belum membeberkan siapa saja pihak yang telah dimintai keterangan. “Itu termasuk yang belum bisa kami sampaikan. Namun, kami pastikan ya, KPK terus menelusuri melalui pihak-pihak yang diduga mengetahui, serta memiliki informasi dan keterangan yang dibutuhkan untuk mengurai, memperjelas, dan membuat terang dari perkara ini,” kata Budi.
KPK menegaskan seluruh proses dilakukan dengan hati-hati agar penyelidikan berjalan sesuai prosedur dan menghasilkan temuan yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.
Mahfud MD Soroti Dugaan Mark Up Biaya Proyek Whoosh
Sebelumnya, mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD mengungkapkan adanya dugaan penggelembungan anggaran (mark up) dalam proyek kereta cepat Jakarta–Bandung.
Dalam video yang diunggah melalui kanal YouTube Mahfud MD Official pada 14 Oktober 2025, Mahfud membeberkan adanya selisih besar antara biaya pembangunan proyek di Indonesia dengan proyek serupa di China.
“Menurut perhitungan pihak Indonesia, biaya per satu kilometer kereta Whoosh itu 52 juta dolar Amerika Serikat. Akan tetapi, di China sendiri, hitungannya 17–18 juta dolar AS. Naik tiga kali lipat,” katanya.
“Ini siapa yang menaikkan? Uangnya ke mana? Naik tiga kali lipat. 17 juta dolar AS ya, dolar Amerika nih, bukan rupiah, per kilometernya menjadi 52 juta dolar AS di Indonesia. Nah itu mark up. Harus diteliti siapa yang dulu melakukan ini,” lanjut Mahfud.
Respons KPK dan Tindak Lanjut Laporan
Setelah pernyataan Mahfud itu viral, pada 16 Oktober 2025, KPK mengimbau agar Mahfud MD menyampaikan laporan resmi terkait dugaan korupsi tersebut.
Pernyataan itu kemudian ditanggapi Mahfud yang menyatakan kesiapannya bekerja sama dengan lembaga antirasuah. Pada 26 Oktober 2025, Mahfud menegaskan dirinya siap memberikan keterangan jika dipanggil untuk membantu penyelidikan KPK.
“Saya siap dipanggil untuk memberikan keterangan terkait dugaan korupsi proyek Whoosh,” ujar Mahfud kala itu.
KPK Resmi Umumkan Naik ke Tahap Penyelidikan
Satu hari setelah pernyataan Mahfud, Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, mengumumkan bahwa dugaan korupsi proyek Whoosh telah resmi naik ke tahap penyelidikan aktif.
Dengan naiknya status ini, KPK memiliki dasar hukum untuk menggali lebih dalam fakta-fakta dan pihak yang diduga terlibat. Langkah ini sekaligus menjadi sinyal bahwa lembaga antirasuah memandang serius laporan dugaan penyimpangan dalam proyek transportasi berteknologi tinggi tersebut.
Proyek Strategis Nasional di Bawah Sorotan
Proyek kereta cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh merupakan proyek strategis nasional yang diharapkan menjadi simbol kemajuan transportasi Indonesia. Namun sejak awal pembangunan, proyek ini kerap dikritik karena pembengkakan biaya dan transparansi yang dipertanyakan.
Publik kini menantikan hasil penyelidikan KPK untuk memastikan apakah benar terdapat praktik mark up dalam proyek kerja sama Indonesia–China tersebut.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











