Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Update Besar-besaran! Android 17 Resmi Meluncur, Ini Deretan Fitur Baru dan HP yang Kebagian Pertama

Rabu, 17 Juni 2026 20:18 WIB

Link Streaming dan Jadwal Lengkap Mobile Legends Timnas Indonesia di Kualifikasi Asian Games 2026

Rabu, 17 Juni 2026 20:14 WIB

Prediksi AI Piala Dunia 2026: Prancis dan Argentina Berada di Garis Terdepan Calon Juara

Rabu, 17 Juni 2026 19:54 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Update Besar-besaran! Android 17 Resmi Meluncur, Ini Deretan Fitur Baru dan HP yang Kebagian Pertama
  • Link Streaming dan Jadwal Lengkap Mobile Legends Timnas Indonesia di Kualifikasi Asian Games 2026
  • Prediksi AI Piala Dunia 2026: Prancis dan Argentina Berada di Garis Terdepan Calon Juara
  • Kecelakaan Maut di Bandung! Motor Terseret Bus Damri di Jalan Dr Djunjunan, Satu Korban Tewas
  • Queen’s Gambit Nyata! Detik-Detik Raja Catur Dunia Tak Berkutik di Tangan Underdog Indonesia
  • Kejutan Transfer Musim Panas: Bernardo Silva Resmi Membelot ke Real Madrid dengan Status Bebas Transfer
  • Cuma Butuh 1 Gol Lagi, Messi Siap Tumbangkan Rekor Klose Jadi Striker Tersubur Sepanjang Sejarah Piala Dunia
  • Kapolda Jabar Apresiasi Aksi Mahasiswa di DPRD Jabar Berjalan Tertib dan Kondusif
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 17 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Krisis SPMB 2026 di Jabar Memanas! BMPS Sebut Sistem Semrawut dan Tak Transparan

By SusanaRabu, 17 Juni 2026 18:30 WIB4 Mins Read
BMPS Jawa Barat menilai pelaksanaan SPMB 2026 paling kacau dan tidak melibatkan sekolah swasta dalam penyusunan kebijakan. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Jawa Barat menuai kritik tajam. Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Jawa Barat menilai proses tahun ini justru semakin rumit dan tidak terkoordinasi dengan baik, bahkan disebut sebagai salah satu yang paling kacau dalam beberapa tahun terakhir.

BMPS juga menyoroti minimnya keterlibatan sekolah swasta dalam penyusunan kebijakan SPMB yang dinilai berdampak langsung terhadap keberlangsungan pendidikan di daerah.

BMPS Jabar: SPMB 2026 Lebih Kacau dari Tahun Sebelumnya

Ketua BMPS Jawa Barat, Agus Sriyanta, menyebut pelaksanaan SPMB 2026 tidak memberikan kepastian kepada masyarakat. Menurutnya, aturan yang berubah-ubah justru menimbulkan kebingungan di lapangan.

“Ya paling rumit, paling kacau. Tahun kemarin kacau, tahun ini lebih kacau lagi,” ujar Agus di Kantor BMPS Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu (17/6/2026).

Ia menegaskan bahwa salah satu persoalan utama adalah tidak dilibatkannya sekolah swasta dalam proses perumusan kebijakan penerimaan siswa baru.

Kritik Program Sekolah Swasta Kerja Sama (SSK)

Selain SPMB, BMPS juga mengkritik program Sekolah Swasta Kerja Sama (SSK) atau Program Maung yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Baca Juga:  Ini Tiga Pesan Ridwan Kamil saat Lantik 77 Kepala Sekolah di Gedung Sate

Dalam skema tersebut, siswa disebut memperoleh bantuan Dana Sumbangan Pendidikan (DSP) sebesar Rp1,5 juta serta subsidi SPP sebesar Rp100 ribu per bulan.

Namun, BMPS menilai besaran bantuan tersebut tidak sebanding dengan biaya operasional sekolah swasta yang terus meningkat.

“Kontribusi pemerintah berupa DSP Rp1,5 juta dan SPP Rp100 ribu menurut kami sangat tidak relevan. Operasional sekolah swasta jauh lebih besar,” tegas Agus.

BMPS bahkan mengungkap adanya sejumlah sekolah swasta yang memilih mundur dari program kerja sama tersebut karena skema pembiayaan dinilai tidak realistis.

BMPS Bantah Data 751 Sekolah Swasta Kerja Sama

BMPS juga membantah klaim bahwa ratusan sekolah swasta telah bergabung dalam program kerja sama dengan Dinas Pendidikan Jawa Barat.

Agus menyebut pihaknya belum menerima data valid terkait 751 sekolah yang disebut telah terlibat dalam program tersebut.

“Itu masih hoaks menurut kami. Kalau memang benar ada 700 sekolah yang sudah bekerja sama, silakan tunjukkan ke publik sekolah mana saja,” ujarnya.

Baca Juga:  Bey Tak Segan Diskualifikasi Calon Siswa yang Pakai Alamat Palsu di PPDB 2024

Selain itu, BMPS juga menerima informasi adanya dugaan pelanggaran di sekolah negeri terkait jumlah rombongan belajar yang melebihi ketentuan. Namun, informasi tersebut masih dalam tahap penelusuran.

BMPS Minta SPMB Segera Dievaluasi

BMPS Jawa Barat berharap seluruh persoalan dalam pelaksanaan SPMB 2026 segera diselesaikan sebelum tahun ajaran baru dimulai. Hal ini penting agar tidak terus menimbulkan kebingungan di masyarakat, khususnya orang tua calon siswa.

BMPS juga menegaskan bahwa sekolah swasta tetap siap menampung siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri.

“Selama ini sekolah swasta ikut berjuang membangun pendidikan di Jawa Barat. Kami siap menerima siswa yang belum tertampung di sekolah negeri,” kata Agus.

Gubernur Jabar Minta Maaf di Tengah Polemik SPMB

Di tengah polemik tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat terkait kisruh Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) dan SPMB 2026.

Ia mengakui banyak orang tua yang kecewa karena anaknya tidak mendapatkan sekolah negeri akibat sistem yang dinilai tidak stabil.

Baca Juga:  Setelah Menuai Polemik, Program Barak Militer Pelajar Jabar Bakal Disetop?

“Saya meminta maaf kepada masyarakat. Jika hari ini masih banyak orang tua yang kecewa karena anaknya tidak mendapatkan sekolah negeri, itu menjadi tanggung jawab kami sebagai penyelenggara negara,” ujar Dedi.

Menurutnya, permasalahan muncul akibat mekanisme pemetaan yang terus berubah seiring bertambahnya jumlah pendaftar, sehingga memengaruhi posisi calon siswa dalam sistem.

Disdik Jabar Tanggapi Laporan ke Ombudsman

Sementara itu, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat juga merespons laporan terkait pelaksanaan SPMB 2026 yang dinilai bermasalah.

Laporan tersebut diajukan oleh Persatuan Purnabakti Pendidik Indonesia (P3I) Jawa Barat bersama sejumlah orang tua siswa.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Purwanto, menyebut langkah pelaporan ke Ombudsman merupakan hak setiap warga negara.

“Ya silakan kalau mau mengadu ke Ombudsman. Itu kan hak setiap orang dan bagian mekanisme yang diatur di negara berlandaskan hukum. Kita mah ikut aja,” ujarnya.

Disdik Jabar menegaskan siap mengikuti seluruh proses klarifikasi apabila diperlukan oleh pihak Ombudsman terkait polemik SPMB 2026 di Jawa Barat.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

BMPS Jabar Dinas Pendidikan Jabar Disdik Jabar Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Kebijakan Pendidikan Jabar PPDB Jabar 2026 sekolah negeri Jawa Barat sekolah swasta jabar SPMB 2026 Jawa Barat SPMB Jabar 2026
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kecelakaan Maut di Bandung! Motor Terseret Bus Damri di Jalan Dr Djunjunan, Satu Korban Tewas

Kapolda Jabar Apresiasi Aksi Mahasiswa di DPRD Jabar Berjalan Tertib dan Kondusif

Gaduh Subsidi Sekolah Swasta Jabar: Klaim Pemprov Dibantah BMPS, Sebut Anggaran Tidak Masuk Akal

Mahasiswa Bandung Raya Gelar Aksi Indonesia Darurat di DPRD Jabar, Bawa Replika Guillotine dan Tujuh Tuntutan

PKC PMII Jabar Gelar Diskusi Paradoks Kebijakan, Soroti Angka Anak Tidak Sekolah hingga Program MBG

Polemik Deklarasi BEM Bersatu Makin Panas, Sejumlah Kampus Bantah Keterlibatan

Terpopuler
  • Link Video Cut Salwa Viral di TikTok dan X, Ini Fakta Sebenarnya yang Mengejutkan
  • Link Video Cut Salwa Viral ‘No Sensor’, Warganet Diminta Jangan Asal Klik!
  • Link Asli Video Cut Salwa di Hotel Diburu Warganet, Apa Isinya?
  • Antisipasi Demo Mahasiswa Memanas, 2.300 Personel Gabungan TNI-Polri Jaga Ketat Kota Bandung
  • Hilang 3 Tahun, Wanita Bandung Ditemukan dengan Wajah Hancur! Diduga Disekap Kekasih Sendiri
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.