bukamata.id — Derasnya arus informasi di media sosial yang masif dan sulit dikontrol menjadi tantangan besar bagi keutuhan ideologi bangsa. Di era disrupsi ini, media massa memiliki tanggung jawab besar untuk hadir sebagai penyeimbang dengan menyajikan informasi yang objektif dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Hal tersebut ditegaskan oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Rafael Situmorang. Ia menyoroti fenomena media sosial saat ini yang cenderung hanya mengejar popularitas ketimbang substansi dan tujuan informasi yang mengedukasi.
“Ini menjadi tantangan bagi media massa untuk mengimbangi media sosial yang masif dan agak tidak bisa kita kontrol. Kalau media sosial itu kan tunduknya pada banyak follower, bukan pada tujuan,” ujar Rafael, Jumat (5/6/2026).
Media Massa Harus Jadi Benteng Informasi Objektif
Menurut Rafael, saat ini ruang publik digital masih kekurangan penetralisir informasi yang kuat. Oleh karena itu, media massa konvensional maupun digital yang memiliki standar jurnalistik harus mengambil peran strategis tersebut guna menangkal dampak negatif disrupsi informasi.
“Penyimbangnya relatif belum kuat. Saya pikir, media massa kitalah yang harus bisa mengimbangi dengan informasi yang objektif,” katanya.
Sebagai langkah nyata, legislator asal Jawa Barat ini mengaku terus menjalin komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai lembaga penyiaran serta insan pers untuk merumuskan formula terbaik dalam membendung hoaks dan narasi yang berpotensi memecah belah.
“Saya sering berdiskusi dengan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), dengan media massa, radio, dan TV. Kita sering buat acara bareng untuk membahas bagaimana arus informasi yang luar biasa deras ini bisa kita imbangi agar beritanya tetap objektif,” jelas Rafael.
Menjaga Ideologi di Tengah Disrupsi
Lebih lanjut, Rafael mengingatkan bahwa objektivitas media bukan sekadar menyajikan fakta, melainkan juga menyelaraskan informasi dengan ideologi bangsa, yaitu Pancasila. Di tengah gempuran konten media sosial yang tak terbendung, Pancasila harus tetap menjadi kompas utama.
Ia tidak menampik bahwa situasi disrupsi informasi saat ini cukup mengkhawatirkan jika dibiarkan tanpa adanya filter dari media massa yang kredibel.
“Ini memang mengkhawatirkan ketika kita bicara media sosial yang luar biasa. Kita punya ideologi yang harus tetap kita pegang, Pancasila ini jangan sampai terlepas akibat disrupsi informasi yang luar biasa tersebut,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










