bukamata.id – Viralnya tautan video bertajuk “ibu tiri vs anak tiri” hingga “Vell TikTok Blunder” di berbagai platform media sosial seperti TikTok, Telegram, X, hingga WhatsApp bukan sekadar fenomena hiburan.
Di balik tren tersebut, tersimpan ancaman serius berupa serangan malware dan praktik phishing yang berpotensi membahayakan data pribadi pengguna.
Fenomena ini kembali mengulang pola lama kejahatan siber, di mana pelaku memanfaatkan rasa penasaran publik untuk menjebak korban melalui tautan mencurigakan.
Modus Link Viral: Pancing Rasa Penasaran
Pelaku kejahatan siber biasanya menyebarkan link dengan narasi provokatif seperti “Full Video”, “No Sensor”, atau “Part Lanjutan” untuk menarik perhatian pengguna.
Namun, alih-alih menampilkan konten yang dijanjikan, tautan tersebut justru mengarah ke situs berbahaya yang dapat mencuri data atau menginfeksi perangkat.
Dampaknya tidak bisa dianggap remeh. Pengguna berisiko kehilangan akses akun media sosial, hingga mengalami pembobolan rekening jika data sensitif berhasil dicuri.
Phishing Kembali Marak, Data Pribadi Jadi Target
Phishing merupakan metode penipuan digital yang bertujuan mencuri informasi penting seperti username, password, PIN, hingga kode OTP.
Pelaku biasanya menyamar sebagai pihak resmi dan mengirim pesan yang terlihat meyakinkan, bahkan mendesak korban untuk segera mengklik tautan tertentu.
Data yang berhasil dikumpulkan kemudian dimanfaatkan untuk berbagai kejahatan, mulai dari pencurian identitas hingga transaksi ilegal.
Ciri-Ciri Link Berbahaya yang Harus Diwaspadai
Agar tidak menjadi korban, pengguna perlu mengenali tanda-tanda umum link phishing, di antaranya:
- Meminta data sensitif seperti password, PIN, atau kode OTP
- Mengatasnamakan instansi resmi secara palsu
- Mengirim tautan atau file mencurigakan
- Menggunakan bahasa mendesak, ancaman, atau iming-iming hadiah
Modus ini sengaja dirancang untuk membuat korban panik dan tidak sempat melakukan verifikasi.
Ancaman Malware Semakin Meningkat
Selain phishing, ancaman malware juga semakin nyata seiring maraknya konten viral berisiko. Laporan dari Kaspersky mengungkap bahwa jutaan pengguna internet berpotensi terinfeksi malware saat mengakses tautan mencurigakan.
Pada perangkat Android, ditemukan sedikitnya 23 jenis malware yang memanfaatkan celah ini. Dari sekitar 4,9 juta kasus infeksi, sekitar 25,4 persen berasal dari akses konten berisiko.
Jenis malware yang beredar pun beragam, mulai dari clickers, banking trojan, hingga ransomware yang mampu mencuri data finansial pengguna.
Jangan Tergiur Konten Viral
Fenomena viral seperti “Vell TikTok Blunder” menjadi pengingat bahwa tidak semua konten di internet aman untuk diakses.
Pengguna disarankan untuk selalu berhati-hati, tidak sembarangan mengklik tautan, serta memastikan sumber informasi berasal dari pihak terpercaya.
Kesadaran digital menjadi kunci utama untuk menghindari jebakan kejahatan siber yang kini semakin canggih dan masif.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








