Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Mental Juara Maung Bandung Diuji! Mutombo Kirim Pesan Keras Jelang Hadapi Persija Jakarta

Selasa, 4 Agustus 2026 06:00 WIB

Chat WhatsApp Makin Penuh? Fitur Baru Ini Bisa Otomatis Bersihkan Pesan Promosi

Selasa, 4 Agustus 2026 03:00 WIB
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Bansos Agustus 2026 Cair! Cek Daftar Bantuan yang Masuk Rekening, Ada PKH hingga Beras 10 Kg

Selasa, 4 Agustus 2026 01:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Mental Juara Maung Bandung Diuji! Mutombo Kirim Pesan Keras Jelang Hadapi Persija Jakarta
  • Chat WhatsApp Makin Penuh? Fitur Baru Ini Bisa Otomatis Bersihkan Pesan Promosi
  • Bansos Agustus 2026 Cair! Cek Daftar Bantuan yang Masuk Rekening, Ada PKH hingga Beras 10 Kg
  • Padang Dikepung Banjir Bandang: Ratusan Rumah Terendam, Warga Dievakuasi Dini Hari
  • Dedi Mulyadi Pastikan Gasibu Siap untuk Upacara HUT Ke-81 RI, Penataan Ditarget Rampung 10 Agustus
  • Balsa Sekulic Sesumbar! Persib Siap Singkirkan Persija dan Rebut Tiket Final Piala Presiden 2026
  • Dedi Mulyadi Desak Bersih-bersih Internal Pemkot Bandung, ASN Lalai Awasi Penebangan Pohon Harus Disanksi
  • Owner Padela Bantah Lapangannya Berisik: Sudah Pasang Peredam, Warga Lain Tak Ada yang Komplain
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 4 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Mahalnya Prestasi! Atlet Angkat Berat Gagal Tampil di Ajang Dunia Gara-gara Uang Jaminan

By Aga GustianaKamis, 9 April 2026 12:15 WIB4 Mins Read
Atlet angkat berat, I Gede Wahyu Surya Wiguna. (Foto: Instagram)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di balik tubuh kekar dan mental baja seorang lifter, ada beban yang jauh lebih berat daripada besi ratusan kilogram: beban ketidakpastian. Bagi I Gede Wahyu Surya Wiguna, atlet angkat berat (powerlifting) kebanggaan Buleleng, Bali, panggung dunia di Druskininkai, Lithuania, seharusnya menjadi puncak pembuktian. Namun, alih-alih bersiap melakukan squat di bawah lampu sorot internasional, ia kini harus terduduk lesu menghadapi realita pahit di tanah air.

Wahyu Surya resmi dinyatakan gagal tampil di ajang World Classic Powerlifting Championship. Bukan karena cedera otot, bukan pula karena performa yang menurun, melainkan karena tembok tebal bernama dana jaminan dan birokrasi surat rekomendasi yang tak kunjung turun.

“Kalah Sebelum Berperang”

Melalui sebuah unggahan di media sosial yang kemudian viral, Wahyu mencurahkan isi hatinya. Kalimat “Kalah sebelum berperang” menjadi pembuka yang menyayat hati bagi siapa saja yang mengikuti perjalanannya. Atlet yang berada di peringkat 11 dunia kelas 66 kg junior ini mengungkapkan bahwa syarat untuk menginjakkan kaki di Lithuania sangatlah mustahil baginya.

“Pengurus Pabersi Bali meminta dana jaminan sebesar $20.000 atau setara Rp339 juta. Uang itu digunakan apabila terjadi sesuatu, maka uang itu yang digunakan untuk denda. Jika tidak terjadi apa-apa, uang dikembalikan. Tapi uang sebanyak itu dari mana?” ujar Wahyu.

Angka Rp339 juta bukan sekadar nominal; bagi seorang atlet daerah, itu adalah angka yang mencekik mimpi. Wahyu menjelaskan bahwa ketiadaan anggaran dari pihak pengurus membuatnya harus memikul beban finansial tersebut secara mandiri jika ingin tetap berangkat. Sebuah syarat mutlak yang akhirnya menjadi “vonis mati” bagi partisipasinya di kejuaraan dunia tahun ini.

Prestasi Dunia yang Seolah Terlupa

Ironisnya, Wahyu Surya bukanlah atlet sembarangan. Rekam jejaknya adalah tinta emas bagi Indonesia. Pada tahun 2025, ia sempat mengguncang dunia olahraga di ajang Asian African Pacific Powerlifting and Bench Press Championships yang digelar di Jepang.

Di sana, Wahyu menyabet dua medali emas dan satu perak. Tak hanya itu, ia mencetak sejarah dengan memecahkan rekor Asia dan dunia di kategori angkatan squat kelas 66 kilogram dengan total beban 230 kilogram. Dengan prestasi sementereng itu, logikanya, jalan menuju kejuaraan dunia seharusnya dibentangkan karpet merah, bukan justru dipasangi barikade finansial.

Kekecewaan netizen pun meledak. Akun-akun besar seperti @jakarta.keras ikut menyoroti kasus ini. Komentar pedas bermunculan, mulai dari tudingan bahwa pemerintah hanya hadir saat atlet sudah menang (pansos), hingga kritik mengenai sulitnya menjadi orang berprestasi di negeri sendiri.

Pembelaan dari Balik Meja Federasi

Menanggapi kegaduhan tersebut, Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi) Buleleng memberikan klarifikasi. Sekretaris Umum Pabersi Buleleng, Ketut Widi Sandiada, menegaskan bahwa tidak ada unsur pungutan liar (pungli) dalam persyaratan tersebut.

Menurut Widi, angka ratusan juta itu berkaitan erat dengan protokol ketat organisasi internasional dan kebutuhan tes doping yang diatur oleh World Anti-Doping Agency (WADA). “Itu semua sudah sesuai dengan aturan kejuaraan,” ujarnya singkat. Namun, yang tetap menjadi pertanyaan besar adalah mengapa beban biaya “pengamanan” aturan internasional tersebut harus dibebankan langsung kepada atlet, bukannya ditanggung oleh federasi atau dinas terkait.

Di sisi lain, KONI Buleleng melalui Ketua Hariannya, Putu Nova Putra, hanya bisa memberikan apresiasi verbal. Ia mengakui prestasi Wahyu yang luar biasa, namun melempar bola tanggung jawab ke tingkat pusat.

“Kami di daerah tentunya mendukung dan mendorong atlet agar berprestasi di level yang lebih tinggi. Namun, untuk proses administrasi seperti rekomendasi, kewenangannya berada di pusat,” kata Putu Nova. Sebuah pernyataan klasik birokrasi yang seringkali membuat atlet terjepit di antara hirarki daerah dan pusat.

Dilema Atlet: Mandiri atau Mati?

Kasus Wahyu Surya membuka kembali luka lama dalam sistem pembinaan atlet di Indonesia. Di satu sisi, kita menuntut prestasi dunia. Di sisi lain, ekosistem pendanaan kita masih sangat rapuh. Ketika seorang atlet lolos kualifikasi dunia berdasarkan kemampuan teknisnya, ia seringkali dibenturkan pada kenyataan bahwa “kemampuan teknis” saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan “kemampuan logistik”.

Bagi Wahyu, Rp339 juta adalah harga sebuah kehormatan bangsa yang diminta dari kantong pribadinya. Padahal, jika ia berangkat dan menang, bendera Merah Putih yang berkibar, lagu Indonesia Raya yang berkumandang, dan para pejabat yang akan berebut foto di bandara saat penyambutan.

Menanti Solusi, Bukan Sekadar Simpati

Hingga saat ini, pintu menuju Lithuania tampaknya sudah tertutup rapat bagi Wahyu Surya. Namun, isu ini menjadi pengingat keras bagi pemerintah dan pemangku kepentingan olahraga. Jika aturan internasional menuntut jaminan finansial yang besar, sudah seharusnya ada mekanisme talangan atau asuransi yang disediakan oleh negara bagi atlet-atlet elit yang sudah terbukti berprestasi.

Wahyu Surya mungkin tidak bisa memecahkan rekor di Lithuania tahun ini. Namun, keberaniannya bersuara telah memecahkan kesunyian mengenai betapa beratnya perjuangan atlet di belakang layar. Indonesia tidak kekurangan talenta hebat seperti Wahyu, Indonesia hanya seringkali “kekurangan anggaran” untuk menjaga talenta tersebut tetap bersinar.

“Saya hanya ingin bertanding, saya hanya ingin berprestasi,” pungkas Wahyu dalam sebuah video. Pertanyaannya sekarang: Sampai kapan suara-suara seperti Wahyu hanya akan berakhir menjadi tumpukan surat permohonan yang dijawab dengan kalimat “tidak ada anggaran”?

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Atlet Angkat Berat KONI Buleleng Pabersi Buleleng Skandal Olahraga viral Wahyu Surya Wiguna
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Chat WhatsApp Makin Penuh? Fitur Baru Ini Bisa Otomatis Bersihkan Pesan Promosi

Garena Bagikan Kode Redeem FF 3 Agustus 2026, Hadiah Langka Menanti Pemain yang Cepat Klaim

Dulu Jualan Ikan, Kini Tahan Derita! Nasib Bertrand Peto Terjebak di Tengah Perang Ruben dan Sarwendah

Daftar Tanggal Merah Agustus 2026: Cek Jadwal Libur Nasional dan Strategi Long Weekend Tanpa Cuti

Ilustrasi Hujan.

Awas Cuaca Ekstrem! BMKG Rilis Daftar Wilayah Berpotensi Diguyur Hujan Lebat dan Angin Kencang

Negara Konsumen Micin Tertinggi Justru Punya IQ Tinggi, Begini Fakta Ilmiah di Balik Bumbu Penyedap

Terpopuler
  • Rindang Jadi Beton! 9 Pohon di Cihapit Ditebang Demi Lapangan Padel?
  • Rahasia Persib Tak Terkalahkan Terungkap, Igor Tolic Sebut Faktor Ini Jadi Kunci Lolos ke Semifinal
  • Pengelola Harian SixNine Buka Suara soal Dugaan Penebangan Pohon di Jalan Riau: Kami Hanya Jalankan Operasional
  • Timnas Indonesia Bungkam Timor Leste dan Kuasai Puncak Klasemen Piala AFF 2026
  • Salip Elektabilitas Prabowo, Pintu RI 1 Terbuka Lebar untuk Dedi Mulyadi
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.