Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Kakang Rudianto Ungkap Sosok di Balik Perkembangannya di Persib

Senin, 2 November 2026 14:03 WIB

Tiwi/Fadia Taklukkan Wakil Taiwan, Gelar HYLO Open 2026 Jadi Milik Indonesia

Senin, 2 November 2026 13:37 WIB
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Apakah Namamu Terdaftar? Cek Penerima Bansos November 2026 di Sini

Senin, 2 November 2026 13:02 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kakang Rudianto Ungkap Sosok di Balik Perkembangannya di Persib
  • Tiwi/Fadia Taklukkan Wakil Taiwan, Gelar HYLO Open 2026 Jadi Milik Indonesia
  • Apakah Namamu Terdaftar? Cek Penerima Bansos November 2026 di Sini
  • Persib Gilas Isenmulang 4-0, Runje: Mental Pemain Luar Biasa!
  • Panik Didatangi Polisi, Tiga Pemuda Bersajam di Karasak Bandung Tak Berkutik
  • Cuma Butuh Hasil Seri di Australia! Ini Skenario Mulus Persib Melenggang ke 16 Besar ACL 2
  • Jadwal Padat Persib, Bobotoh Soroti Risiko Cedera dan Pentingnya Recovery
  • Awal November, BMKG Prediksi Hujan Sedang hingga Lebat di Sejumlah Wilayah Jabar
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 2 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Mahalnya Prestasi! Atlet Angkat Berat Gagal Tampil di Ajang Dunia Gara-gara Uang Jaminan

By Aga GustianaKamis, 9 April 2026 12:15 WIB4 Mins Read
Atlet angkat berat, I Gede Wahyu Surya Wiguna. (Foto: Instagram)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di balik tubuh kekar dan mental baja seorang lifter, ada beban yang jauh lebih berat daripada besi ratusan kilogram: beban ketidakpastian. Bagi I Gede Wahyu Surya Wiguna, atlet angkat berat (powerlifting) kebanggaan Buleleng, Bali, panggung dunia di Druskininkai, Lithuania, seharusnya menjadi puncak pembuktian. Namun, alih-alih bersiap melakukan squat di bawah lampu sorot internasional, ia kini harus terduduk lesu menghadapi realita pahit di tanah air.

Wahyu Surya resmi dinyatakan gagal tampil di ajang World Classic Powerlifting Championship. Bukan karena cedera otot, bukan pula karena performa yang menurun, melainkan karena tembok tebal bernama dana jaminan dan birokrasi surat rekomendasi yang tak kunjung turun.

“Kalah Sebelum Berperang”

Melalui sebuah unggahan di media sosial yang kemudian viral, Wahyu mencurahkan isi hatinya. Kalimat “Kalah sebelum berperang” menjadi pembuka yang menyayat hati bagi siapa saja yang mengikuti perjalanannya. Atlet yang berada di peringkat 11 dunia kelas 66 kg junior ini mengungkapkan bahwa syarat untuk menginjakkan kaki di Lithuania sangatlah mustahil baginya.

“Pengurus Pabersi Bali meminta dana jaminan sebesar $20.000 atau setara Rp339 juta. Uang itu digunakan apabila terjadi sesuatu, maka uang itu yang digunakan untuk denda. Jika tidak terjadi apa-apa, uang dikembalikan. Tapi uang sebanyak itu dari mana?” ujar Wahyu.

Angka Rp339 juta bukan sekadar nominal; bagi seorang atlet daerah, itu adalah angka yang mencekik mimpi. Wahyu menjelaskan bahwa ketiadaan anggaran dari pihak pengurus membuatnya harus memikul beban finansial tersebut secara mandiri jika ingin tetap berangkat. Sebuah syarat mutlak yang akhirnya menjadi “vonis mati” bagi partisipasinya di kejuaraan dunia tahun ini.

Baca Juga:  Dibikin Kaget DJ No 1 Dunia! Aksi Musisi Lokal Kendari Pake Keyboard Ini Bikin Lil Jon Ajak Colab?

Prestasi Dunia yang Seolah Terlupa

Ironisnya, Wahyu Surya bukanlah atlet sembarangan. Rekam jejaknya adalah tinta emas bagi Indonesia. Pada tahun 2025, ia sempat mengguncang dunia olahraga di ajang Asian African Pacific Powerlifting and Bench Press Championships yang digelar di Jepang.

Di sana, Wahyu menyabet dua medali emas dan satu perak. Tak hanya itu, ia mencetak sejarah dengan memecahkan rekor Asia dan dunia di kategori angkatan squat kelas 66 kilogram dengan total beban 230 kilogram. Dengan prestasi sementereng itu, logikanya, jalan menuju kejuaraan dunia seharusnya dibentangkan karpet merah, bukan justru dipasangi barikade finansial.

Kekecewaan netizen pun meledak. Akun-akun besar seperti @jakarta.keras ikut menyoroti kasus ini. Komentar pedas bermunculan, mulai dari tudingan bahwa pemerintah hanya hadir saat atlet sudah menang (pansos), hingga kritik mengenai sulitnya menjadi orang berprestasi di negeri sendiri.

Pembelaan dari Balik Meja Federasi

Menanggapi kegaduhan tersebut, Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi) Buleleng memberikan klarifikasi. Sekretaris Umum Pabersi Buleleng, Ketut Widi Sandiada, menegaskan bahwa tidak ada unsur pungutan liar (pungli) dalam persyaratan tersebut.

Baca Juga:  Angin Puting Beliung Terjang Kawasan Rancaekek, Genting Rumah Berhamburan

Menurut Widi, angka ratusan juta itu berkaitan erat dengan protokol ketat organisasi internasional dan kebutuhan tes doping yang diatur oleh World Anti-Doping Agency (WADA). “Itu semua sudah sesuai dengan aturan kejuaraan,” ujarnya singkat. Namun, yang tetap menjadi pertanyaan besar adalah mengapa beban biaya “pengamanan” aturan internasional tersebut harus dibebankan langsung kepada atlet, bukannya ditanggung oleh federasi atau dinas terkait.

Di sisi lain, KONI Buleleng melalui Ketua Hariannya, Putu Nova Putra, hanya bisa memberikan apresiasi verbal. Ia mengakui prestasi Wahyu yang luar biasa, namun melempar bola tanggung jawab ke tingkat pusat.

“Kami di daerah tentunya mendukung dan mendorong atlet agar berprestasi di level yang lebih tinggi. Namun, untuk proses administrasi seperti rekomendasi, kewenangannya berada di pusat,” kata Putu Nova. Sebuah pernyataan klasik birokrasi yang seringkali membuat atlet terjepit di antara hirarki daerah dan pusat.

Dilema Atlet: Mandiri atau Mati?

Kasus Wahyu Surya membuka kembali luka lama dalam sistem pembinaan atlet di Indonesia. Di satu sisi, kita menuntut prestasi dunia. Di sisi lain, ekosistem pendanaan kita masih sangat rapuh. Ketika seorang atlet lolos kualifikasi dunia berdasarkan kemampuan teknisnya, ia seringkali dibenturkan pada kenyataan bahwa “kemampuan teknis” saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan “kemampuan logistik”.

Baca Juga:  Sejarah Panjang Pondok Pesantren Lirboyo, Heboh Diduga Dilecehkan Acara TV

Bagi Wahyu, Rp339 juta adalah harga sebuah kehormatan bangsa yang diminta dari kantong pribadinya. Padahal, jika ia berangkat dan menang, bendera Merah Putih yang berkibar, lagu Indonesia Raya yang berkumandang, dan para pejabat yang akan berebut foto di bandara saat penyambutan.

Menanti Solusi, Bukan Sekadar Simpati

Hingga saat ini, pintu menuju Lithuania tampaknya sudah tertutup rapat bagi Wahyu Surya. Namun, isu ini menjadi pengingat keras bagi pemerintah dan pemangku kepentingan olahraga. Jika aturan internasional menuntut jaminan finansial yang besar, sudah seharusnya ada mekanisme talangan atau asuransi yang disediakan oleh negara bagi atlet-atlet elit yang sudah terbukti berprestasi.

Wahyu Surya mungkin tidak bisa memecahkan rekor di Lithuania tahun ini. Namun, keberaniannya bersuara telah memecahkan kesunyian mengenai betapa beratnya perjuangan atlet di belakang layar. Indonesia tidak kekurangan talenta hebat seperti Wahyu, Indonesia hanya seringkali “kekurangan anggaran” untuk menjaga talenta tersebut tetap bersinar.

“Saya hanya ingin bertanding, saya hanya ingin berprestasi,” pungkas Wahyu dalam sebuah video. Pertanyaannya sekarang: Sampai kapan suara-suara seperti Wahyu hanya akan berakhir menjadi tumpukan surat permohonan yang dijawab dengan kalimat “tidak ada anggaran”?

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

viral
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Mau Beli atau Jual Emas Hari Ini? Cek Dulu Harga Antam dan Buyback Terbaru

Dari Resepsionis Bank Jadi Ratu Horor No. 1! Rahasia Nadia Omara ‘Menyihir’ 87 Juta Penonton

Stop Kebiasaan Makan Telur Setengah Matang, Hati-hati Kena Bakteri Salmonella dan Diare

Anti Berisik! 5 Kafe Tersembunyi di Bandung Ini Bikin Kerja Makin Fokus

Penantian 8 Tahun! dr. Gia Pratama Menangis Dengar Detak Jantung Calon Buah Hati

Mojang Bandung Adjeng Wulandari, Buktikan Prestasi dan Organisasi Bisa Berjalan Beriringan

Terpopuler
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Perang Estetika Kota: Utopia Art Deco vs Megalomania Kerajaan di Saat Kas Pemprov Jabar Sekarat
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
  • KHW 400 OTW Layar Lebar? Heboh Rumah Produksi Daftarkan Judul Film Mirip Konten Nadia Omara!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.