bukamata.di – Perbincangan mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan terus bergulir. Setelah ramai dibahas di sejumlah wilayah, perhatian publik kini mengarah ke Kabupaten Majalengka. Foto-foto paket makanan yang beredar di media sosial memunculkan diskusi soal kesesuaian menu dengan ekspektasi masyarakat.
Sejak hari pertama masuk sekolah pada 23 Februari 2026, unggahan berisi isi paket MBG di berbagai kecamatan mulai viral. Sejumlah warganet menilai menu yang diterima siswa terlihat sederhana dan tidak sebanding dengan anggaran yang selama ini ramai diperbincangkan.
Program MBG sendiri merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Isi Paket Berbeda di Tiap Kecamatan
Berdasarkan foto yang beredar, isi paket MBG di Majalengka tidak seragam. Di Kecamatan Rajagaluh, misalnya, siswa menerima susu kotak 110 ml, satu butir telur asin, dan satu buah pisang ambon.
Di Kecamatan Jatiwangi, menu terdiri dari susu 110 ml, kurma, serta roti. Sementara itu, di Kecamatan Ligung, paket yang diterima salah satu sekolah berisi susu 110 ml, dua buah salak, kacang bawang, roti tawar, dan keju.
Perbedaan ini memicu pertanyaan publik mengenai standar menu serta besaran anggaran sebenarnya.
Penjelasan Soal Anggaran Bahan Baku
Menanggapi polemik tersebut, Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Majalengka, Intan Diena Khoerunisa, memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa selama Ramadan, anggaran bahan baku MBG tetap mengacu pada skema hari biasa.
“Untuk anggaran bahan baku di angka Rp8.000 dan Rp10.000. Porsi kecil seperti bayi, balita, TK, PAUD, hingga SD kelas 1-3 itu di Rp8 ribu. Sedangkan kelas 4 SD sampai SMA di Rp10 ribu,” jelasnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa seluruh anggaran Rp13 ribu atau Rp15 ribu digunakan untuk makanan.
“Anggaran Rp13 ribu dan Rp15 ribu itu bukan untuk bahan baku saja. Di dalamnya ada biaya operasional, sewa, dan lainnya. Jadi bukan semuanya untuk makanan,” katanya.
Dengan demikian, dana riil untuk pembelian bahan makanan berkisar Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per siswa.
Tantangan Menyusun Menu di Tengah Batas Anggaran
Menurut Intan, penyusunan menu harus dilakukan dengan perhitungan ketat agar tetap memenuhi unsur gizi.
“Kalau susu sekitar Rp3.500, bolu dari UMKM Rp3 ribuan, itu sudah Rp6 ribu. Ditambah buah Rp3 ribu saja sudah lewat dari Rp8 ribu,” ujarnya.
Karena itu, untuk kategori Rp8 ribu biasanya terdiri dari tiga item, sedangkan kategori Rp10 ribu memungkinkan empat item.
Selama Ramadan, menu diarahkan menjadi makanan kering sesuai ketentuan dalam Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2026. Distribusi tetap dilakukan setiap hari, namun tanpa nasi seperti pada hari biasa.
“Siswa diarahkan ke menu kering. Walaupun ada kelas bawah, tapi sudah belajar puasa,” ujar Intan.
Ia menegaskan bahwa istilah “menu kering” bukan berarti makanan ringan kemasan pabrikan.
“Menu kering bukan chiki bermerk. Karbohidrat bisa dari bolu atau kentang goreng. Protein dari telur atau ayam katsu. Serat dari buah-buahan. Itu tetap mengacu pada AKG (Angka Kebutuhan Gizi),” katanya.
Setiap paket, lanjutnya, tetap dirancang memenuhi tiga komponen utama: karbohidrat, protein, dan serat.
Tidak Bersifat Wajib
Di tengah polemik, Intan juga menegaskan bahwa penerimaan MBG Ramadan tidak bersifat wajib bagi sekolah atau lembaga.
“Kalau sekolah keberatan menerima paket MBG selama Ramadan, itu tidak apa-apa. Bisa dibuatkan surat penolakan,” ujarnya.
Sejauh ini belum ada sekolah di Majalengka yang mengajukan penolakan. Namun satu pondok pesantren memilih tidak menerima distribusi karena para santri dipulangkan selama Ramadan.
“Pesantren itu karena siswanya pulang. Kami terbuka,” katanya.
Saat ini terdapat 134 dapur SPPG yang tersebar di seluruh kecamatan Majalengka. Total penerima manfaat mencapai 359.235 orang, dengan 264.610 di antaranya merupakan siswa.
Perdebatan mengenai menu MBG Ramadan menunjukkan adanya perbedaan persepsi antara ekspektasi publik dan realitas teknis pelaksanaan di lapangan. Pemerintah daerah memastikan program tetap berjalan sesuai ketentuan gizi dan kemampuan anggaran yang tersedia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











