bukamata.id – Di sudut permukiman Babakan Cikeruh, Kabupaten Bandung, sebuah rumah berdinding bilik dan beratap bocor menjadi saksi hidup perjuangan Saparudin (56) dan keluarganya.
Di dalam bangunan yang jauh dari kata layak itu, sebanyak 12 jiwa bertahan setiap hari, menggantungkan keselamatan pada dinding rapuh yang bisa goyah kapan saja.
Saat hujan turun, kecemasan menjadi hal yang tak terpisahkan. Air merembes dari atap yang lapuk, membasahi lantai tanah dan perabot sederhana. Angin kencang pun kerap membuat dinding bergoyang, seolah mengancam runtuh.
Namun bagi Saparudin, rumah itu tetap menjadi satu-satunya tempat untuk berteduh.
“Iya, bekerja serabutan saja, belum jelas pemasukannya tiap hari berapa,” ujarnya saat ditemui.
Dengan penghasilan yang tidak menentu, ia tak memiliki kemampuan untuk memperbaiki rumahnya sendiri. Harapan pun selama ini ia gantungkan pada bantuan pemerintah.
Ia mengaku, sejak lama aparat wilayah setempat sudah beberapa kali datang untuk mendata kondisi rumahnya. Proses pengambilan data hingga dokumentasi pun telah berulang kali dilakukan.
Namun hingga kini, realisasi bantuan yang dinanti belum juga datang.
“Pernah ke sini beberapa kali dari wilayah, beberapa kali juga difoto. Data saya sudah banyak, tapi belum direalisasikan,” katanya.
Saparudin menuturkan, ia mulai menempati rumah tersebut sejak tahun 2000. Selama lebih dari dua dekade, bangunan itu nyaris tak pernah tersentuh renovasi.
“Belum pernah ada renovasi. Cuma pengajuan dari desa, kecamatan juga sudah beberapa kali minta identitas,” ujarnya.
Bahkan, proses pendataan disebut sudah berlangsung sejak 2013. Namun hingga kini, belum ada perubahan nyata.
“Dari tahun 2013 sampai sekarang belum ada. Cuma datang, kontrol, foto-foto saja. Sudah,” tuturnya.
Terakhir, ia menyebut ada pihak dari partai politik yang sempat datang pada Februari lalu. Namun, lagi-lagi belum ada tindak lanjut.
“Terakhir kemarin dari partai politik juga ada, bulan dua. Tapi belum ada tindak lanjutnya,” ungkapnya.
Di tengah kondisi serba terbatas, Saparudin hanya bisa berharap ada pihak yang benar-benar tergerak membantu.
“Harapan saya ada yang bermurah hati dapat membantu,” katanya lirih.
Meski sesekali masih menerima bantuan sosial seperti BLT, kebutuhan utama berupa perbaikan rumah belum pernah ia rasakan.
“Kalau BLT kebetulan dapat. Tapi untuk renovasi rumah, belum,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









