bukamata.id – Sebuah patung Pesut Mahakam setinggi hampir 2 meter kini menjadi ikon baru Desa Muara Muntai, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Menariknya, patung ini lahir bukan dari proyek besar atau dana desa, melainkan dari kreasi tangan seorang kuli bangunan dengan modal hanya Rp 350 ribu.
Patung tersebut berdiri kokoh di Jalan Akhmad Dahlan RT 6, dan segera menarik perhatian warga serta wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat mamalia air khas Sungai Mahakam.
Kepala Desa Muara Muntai, Husain Ahmad, menjelaskan bahwa ide pembangunan patung datang dari Joko Saptono (56), seorang pekerja bangunan asal Jawa yang telah menetap di desa selama 10 tahun.
“Ide ini murni dari tukang yang sedang membangun masjid. Ia ingin membuat ikon desa, dan saya setujui,” ujar Husain, Senin (9/2/2026).
Bahan Bekas, Kreativitas Luar Biasa
Keunikan patung Pesut Mahakam ini terletak pada bahan pembuatannya. Joko memanfaatkan sisa material pembangunan masjid, seperti semen, pasir, besi, dan styrofoam, sehingga biaya yang dikeluarkan hampir nol besar, hanya untuk membeli mesin pompa air senilai Rp 350 ribu agar mulut patung dapat mengeluarkan air.
“Saya membuatnya di sela waktu luang, terutama saat hujan. Semuanya dari bahan bekas, jadi bisa cepat selesai,” kata Joko.
Proses pengerjaan hanya memakan waktu 2-3 hari, namun hasilnya berhasil menjadi simbol pelestarian alam yang memikat masyarakat.
Edukasi dan Pelestarian Pesut Mahakam
Selain sebagai ikon desa, patung ini memiliki misi edukatif. Kepala Desa Husain menekankan pentingnya pelestarian Pesut Mahakam, mamalia air yang kini populasinya terus menurun.
“Masyarakat dan nelayan harus melestarikan Pesut Mahakam. Jangan sampai alat tangkap ikan yang merusak lingkungan mengancam keberadaan mereka,” ujar Husain.
Keberadaan patung diharapkan juga dapat menjadi daya tarik wisatawan, yang tidak hanya datang untuk melihat karya seni, tetapi juga habitat asli Pesut Mahakam di Sungai Mahakam. Dengan meningkatnya kunjungan, diharapkan ekonomi lokal warga turut terdorong.
Warisan Kreatif Sebagai Kenangan
Joko mengaku, patung ini juga menjadi bentuk kenang-kenangan setelah 10 tahun merantau. Ia berencana kembali ke Jawa dan ingin meninggalkan sesuatu yang berarti bagi desa yang telah menerimanya dengan baik.
“Saya dihargai di sini, jadi membuat patung ini sebagai kenangan,” tutur Joko.
Reaksi Warganet
Karya unik ini juga menjadi sorotan warganet di media sosial. Dari kolom komentar Instagram @pembasmi.kehaluan, Rabu (11/2/2026):
- “Harus diaudit nih dananya harusnya yang begini itu 10 Miliar,” tulis akun @ain***
- “Beneran 350k?” komentar @par***
- “5 milyar lah.. ayo ada yg berani nawar lebih..?” tambah akun @jak***
Komentar tersebut menunjukkan betapa luar biasanya kreativitas lokal dan memicu keheranan publik atas biaya rendah pembuatan patung yang bernilai estetika dan edukatif tinggi.
Patung Pesut Mahakam: Simbol Kreativitas dan Pelestarian
Patung Pesut Mahakam bukan sekadar karya seni, tetapi juga simbol kreasi tanpa batas dan kesadaran lingkungan. Dengan modal terbatas, karya ini menggabungkan seni, edukasi, dan konservasi, menjadi inspirasi bahwa inovasi lokal dapat lahir dari ide sederhana namun berdampak luas.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











