bukamata.id – Bandung tak hanya dikenal sebagai kota dengan suasana yang nyaman dan kreativitas anak mudanya, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya generasi yang memiliki semangat untuk terus belajar dan memberikan manfaat. Salah satunya adalah Salza Nabila Nurpratiwi, mahasiswi D-IV Kebidanan Universitas Padjadjaran (Unpad).
Sebagai mahasiswa tingkat akhir, Salza kini tengah disibukkan dengan penyelesaian tugas akhir. Penelitian, revisi, hingga persiapan menyelesaikan perkuliahan menjadi bagian dari kesehariannya. Meski demikian, ia tetap berusaha menikmati kehidupan sebagai mahasiswa dengan bertemu teman dan melakukan berbagai hal yang disukai.
“Sekarang aku lagi cukup fokus menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa tingkat akhir. Sebagian besar waktu aku tersita untuk penelitian, revisi, dan persiapan menyelesaikan perkuliahan,” ujar Salza kepada bukamata.id.
Di mata orang-orang terdekat, Salza dikenal sebagai sosok yang cukup ambisius ketika memiliki sesuatu yang ingin dicapai. Ia juga berusaha bertanggung jawab terhadap setiap hal yang telah dimulai.
Namun, di balik sisi ambisius tersebut, Salza mengaku dirinya juga merupakan pribadi yang mudah diajak berbicara dan cukup terbuka terhadap orang-orang di sekitarnya.
Kini, Salza merasa sedang berada dalam fase transisi. Status sebagai mahasiswa tingkat akhir membuatnya mulai memikirkan kehidupan setelah lulus, sekaligus menentukan langkah yang ingin ditempuh di masa depan.
“Aku merasa sekarang lagi di fase transisi. Di satu sisi masih menjadi mahasiswa, tapi di sisi lain sudah mulai dituntut untuk memikirkan kehidupan setelah lulus,” ungkapnya.
Pilihan Salza untuk menekuni dunia kebidanan berawal dari ketertarikannya terhadap bidang kesehatan, khususnya kehidupan perempuan.
Menurutnya, profesi bidan tidak hanya berkaitan dengan membantu proses persalinan, tetapi memiliki peran yang lebih luas, mulai dari edukasi, pencegahan, hingga mendampingi perempuan dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan kesehatan dirinya.
“Semakin dijalani, aku semakin menyadari bahwa bidan bukan hanya membantu ketika seseorang sakit atau melahirkan, tetapi juga punya peran dalam edukasi dan pencegahan,” katanya.
Bagi Salza, pencapaian paling bermakna bukan semata-mata sesuatu yang dapat dicantumkan dalam CV maupun sertifikat. Ia justru menganggap keberhasilan menyelesaikan sesuatu yang sebelumnya diragukan sebagai pencapaian tersendiri.
Salah satunya adalah mampu bertahan hingga tahap akhir pendidikan kebidanan. Di balik pencapaian tersebut, terdapat berbagai tekanan, proses panjang, dan keraguan yang harus dilewati.
“Kalau secara pribadi, pencapaian yang paling bermakna adalah ketika aku berhasil menyelesaikan sesuatu yang sebelumnya aku sendiri merasa nggak yakin bisa,” tuturnya.
Perjalanan pendidikan tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Salza mengaku pernah menghadapi tugas yang menumpuk, penelitian yang terasa buntu, hingga revisi yang datang berkali-kali.
Namun, pengalaman itu mengajarkannya bahwa setiap proses tidak harus selalu berjalan cepat.
“Kadang yang penting adalah tetap bergerak, meskipun sedikit demi sedikit,” ujarnya.
Keraguan terhadap kemampuan diri juga pernah dirasakan Salza, terutama ketika melihat pencapaian orang lain yang dianggap sudah jauh lebih maju. Namun, ia perlahan belajar untuk tidak membandingkan perjalanan dirinya dengan orang lain.
Menurutnya, setiap orang memiliki waktu dan proses masing-masing. Karena itu, ia memilih untuk fokus terhadap hal-hal yang dapat dikerjakan hari ini.
“Aku belajar untuk nggak terlalu lama membandingkan perjalanan sendiri dengan perjalanan orang lain. Setiap orang punya waktunya masing-masing,” katanya.
Ketika rasa lelah datang, Salza selalu berusaha mengingat kembali alasan mengapa ia memulai perjalanan tersebut.
Ia percaya bahwa rasa lelah bukan berarti harus berhenti. Baginya, istirahat diperlukan untuk kembali melanjutkan perjalanan dengan kondisi yang lebih baik.
“Ketika capek, aku biasanya mengingat lagi tujuan akhirnya dan orang seperti apa yang ingin aku jadi. Kadang aku memang perlu istirahat, tapi setelah itu aku harus kembali melanjutkan perjalanan,” ungkapnya.
Sebagai calon tenaga kesehatan, Salza juga menghadapi tantangan untuk mampu menyeimbangkan teori dan praktik. Menurutnya, mahasiswa kebidanan tidak hanya dituntut memahami materi, tetapi juga menerapkannya ketika berhadapan langsung dengan pasien.
Selain kemampuan akademik, seorang bidan juga membutuhkan empati dan komunikasi yang baik karena berhadapan dengan perempuan dan keluarga dalam berbagai kondisi.
“Jadi bukan hanya kemampuan akademik, tapi juga kemampuan untuk tetap tenang, bertanggung jawab, dan manusiawi,” tuturnya.
Sebagai mojang Bandung, Salza menggambarkan Kota Bandung dengan tiga kata, yakni nyaman, kreatif, dan penuh cerita.
Menurutnya, Bandung memiliki suasana yang membuat orang mudah merasa dekat. Berbagai tempat, orang, hingga pengalaman yang ditemui di kota ini dapat meninggalkan cerita tersendiri.
“Bandung itu punya suasana yang membuat orang gampang merasa dekat. Banyak tempat, orang, dan pengalaman yang akhirnya punya cerita masing-masing,” katanya.
Salza juga menilai Bandung merupakan kota yang memiliki karakter kuat. Identitas tersebut tidak hanya terlihat dari tempat wisata maupun kulinernya, tetapi juga dari kreativitas anak muda, komunitas, dan suasana kotanya.
“Bandung punya kemampuan untuk terus berkembang tanpa benar-benar kehilangan ciri khasnya,” ujarnya.
Dengan latar belakang di bidang kebidanan, Salza berharap dapat berkontribusi bagi Bandung melalui edukasi kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan perempuan dan remaja.
Ia ingin edukasi kesehatan dapat diberikan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan anak muda, tanpa kesan menggurui, sehingga informasi yang disampaikan dapat lebih mudah dipahami.
“Kalau diberi kesempatan, aku ingin membuat edukasi yang lebih dekat dengan anak muda, nggak menggurui, tapi menggunakan bahasa dan pendekatan yang mereka pahami,” katanya.
Menutup perbincangan, Salza berpesan kepada generasi muda yang sedang berjuang agar tidak terlalu terbebani ketika perjalanan mereka terasa lebih lambat dibandingkan orang lain.
“Nggak apa-apa kalau hari ini kamu belum sampai di tempat yang kamu inginkan. Yang penting, jangan berhenti hanya karena perjalananmu terlihat lebih lambat dari orang lain. Tetap jalan, tetap percaya sama diri sendiri, dan jangan lupa menikmati prosesnya,” pesannya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









