bukamata.id – Pengusaha sekaligus calon Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Bandung, M. Firaldi Akbar Zulkarnain atau Rifaldi Akbar, mendeklarasikan gerakan Pengusaha Berkibar sebagai bagian dari langkahnya maju dalam bursa pemilihan Ketua KADIN Kota Bandung.
Deklarasi tersebut digelar di Horison Ultima Bandung, Jalan Pelajar Pejuang 45 No.121, Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Kamis (3/9/2026).
Dalam deklarasinya, Firaldi mengatakan Pengusaha Berkibar digagas dengan harapan para pengusaha lokal Kota Bandung mampu mengambil peran lebih besar dalam perputaran ekonomi daerah.
“Pengusaha Berkibar itu dengan harapan bahwa pengusaha-pengusaha di Kota Bandung pada akhirnya bisa mengibarkan dirinya di sektor ekonomi dan bisa menjadi tuan rumah untuk dunia usaha di Kota Bandung itu sendiri,” kata Firaldi.
Ia menyoroti besarnya perputaran ekonomi di Kota Bandung yang disebut mencapai sekitar Rp404 triliun. Namun, menurutnya, pengusaha lokal belum banyak menikmati maupun mengambil bagian dari besarnya potensi tersebut.
“PDRB kita itu 404 triliun. Perputaran keuangan kita di Kota Bandung itu besar. Tapi itu siapa yang menikmati? Siapa pengusahanya? Dan itu harus dipersiapkan supaya kita bisa ambil bagian dalam perekonomian tersebut,” ujarnya.
Bawa Tiga Misi untuk KADIN Kota Bandung
Jika terpilih sebagai Ketua KADIN Kota Bandung, Firaldi membawa tiga misi utama. Pertama, memperkuat internal organisasi dengan memastikan KADIN memberikan manfaat dan mampu meningkatkan bisnis para pengurus maupun anggotanya.
Menurutnya, keberadaan KADIN harus dapat memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan bisnis anggota.
“Kalau kita cinta sama KADIN, maka yang pertama kali harus dipikirkan bagaimana pergaulan kita itu bisa menumpuk omzet bisnis kita. Bagaimana pergaulan kita itu bisa me-leverage bisnis kita,” katanya.
Ia bahkan menilai keberhasilan KADIN dapat diukur dari lahirnya pengusaha-pengusaha baru dan berkembangnya bisnis anggota.
“Kalau tidak bertumbuh, kalau tidak ada orang kaya baru dari KADIN, kalau tidak ada konglomerat baru dari KADIN, kalau tidak ada dunia usaha yang baru dari KADIN, maka bisa dipastikan bahwa KPI KADIN-nya gagal,” ujarnya.
Misi kedua, KADIN Kota Bandung harus mampu menjadi mitra strategis sekaligus organisasi yang memiliki pengaruh terhadap pemerintah, khususnya dalam penyusunan regulasi ekonomi.
Firaldi juga ingin mengoptimalkan jaringan sister city yang dimiliki Kota Bandung. Menurutnya, kerja sama tersebut jangan berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus diarahkan untuk membuka peluang investasi dan bisnis.
“Kita punya 10 sister city. Tapi sister city ini jangan berakhir jadi seremoni. Para pengusaha harus bisa hadir ke chamber-chamber sister city yang memang bersister city dengan KADIN Kota Bandung. Untuk apa? Untuk saling berinvestasi, untuk saling membuka peluang,” tuturnya.
Sementara misi ketiga adalah menjadikan KADIN Kota Bandung sebagai KADIN terbaik di Indonesia.
Ingin Tarik Investasi dan Pekerjaan dari Luar Negeri
Firaldi mengatakan Bandung harus mampu mengikuti perubahan model bisnis yang berkembang, terutama dengan semakin banyaknya anak muda yang membangun bisnis berbasis digital.
“Bandung itu sekarang sudah berubah. Bandung itu bisnis, bisnis modelnya sudah tidak sama dengan dulu. Sekarang bisnis model digital anak muda itu banyak sekali,” katanya.
Ia juga menggagas program Bandung Global Talent yang diharapkan dapat membuka peluang bagi tenaga profesional dan pelaku usaha di Bandung untuk mengerjakan proyek dari luar negeri tanpa harus memindahkan aktivitas ekonominya keluar daerah.
“Harapannya kita bisa mengambil proyek atau misalkan konsultan atau pekerjaan dari luar negeri tapi bisa dikerjakan di Kota Bandung. Sehingga uangnya bisa berputar di Kota Bandung itu sendiri,” ujarnya.
Menurut Firaldi, pengusaha tidak boleh hanya bergantung pada kondisi ekonomi yang sedang naik atau turun. Pengusaha harus mampu menemukan peluang dalam berbagai kondisi.
“Dunia usaha itu harus bisa menemukan celah ekonomi dalam keadaan apa pun. Oleh karena itu, pengusaha KADIN Kota Bandung harus pengusaha-pengusaha yang tangguh, pengusaha-pengusaha yang kuat yang bisa mencium bau uang itu adanya di mana,” katanya.
Didukung Puluhan Asosiasi dan Ratusan Pengusaha
Dalam deklarasi tersebut, Firaldi menyebut dukungan datang dari sejumlah asosiasi dan pengusaha di Kota Bandung.
Ia mengatakan sekitar 15 asosiasi serta 200 perusahaan hadir secara langsung maupun melalui perwakilan.
“Di sini ada sekitar 15 asosiasi. Lalu yang kedua, ada 200 perusahaan yang ada di sini. Hatur nuhun semuanya. Baik yang bisa hadir maupun yang diwakili, terima kasih banyak atas kehadirannya,” ucapnya.
Firaldi mengatakan keputusan untuk maju sebagai calon Ketua KADIN Kota Bandung tidak datang tanpa pertimbangan. Ia mengaku sempat mengalami pergolakan batin karena merasa masih lebih muda dibandingkan sejumlah senior di KADIN.
Namun, dorongan dari para senior membuatnya mantap mengambil langkah tersebut.
“Saya jujur saja, pada saat mau maju ini banyak sekali pergolakan dalam batin saya. Kenapa? Pertama, saya masih merasa sangat muda dibandingkan dengan senior-senior yang ada di KADIN,” ujarnya.
Menurutnya, alasan utama para pengusaha berkumpul dalam deklarasi tersebut adalah kecintaan terhadap KADIN Kota Bandung dan keinginan untuk mendorong dunia usaha daerah.
“Kita berkumpul di sini cuma satu, karena cinta pada KADIN Kota Bandung,” katanya.
Edwin Senjaya: KADIN Harus Jadi Mitra Strategis Pemerintah
Sementara itu, Pimpinan DPRD Kota Bandung H. Edwin Senjaya, SE., M.M. yang hadir dalam kegiatan tersebut menilai KADIN memiliki posisi strategis dalam pembangunan daerah.
Ia mengaitkan peran KADIN dengan konsep pentahelix yang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, akademisi, dan unsur lainnya.
“Kalau ingin mewujudkan pembangunan yang sukses, itu ada yang disebut dengan Pentahelix. Ada lima komponen yang harus bisa berkolaborasi, bersinergi, selain pemerintah, salah satunya adalah pelaku usaha,” kata Edwin.
Edwin juga menyoroti kondisi fiskal Kota Bandung. Ia menyebut Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandung mencapai sekitar Rp4,4 triliun, dengan sekitar Rp3,6 triliun berasal dari sektor pajak.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan sektor ekonomi dan sumber pendapatan daerah lainnya.
“Kekayaan daerah kita hanya menghasilkan Rp36 miliar. Ini satu alarm bagi kita semua agar kita bisa lebih memberdayakan sektor ekonomi di Kota Bandung,” ujarnya.
Edwin berharap KADIN ke depan dapat membuka lebih banyak ruang usaha, menjadi mitra strategis pemerintah, memberikan advokasi kebijakan ekonomi, serta menarik investor dari luar untuk berinvestasi di Kota Bandung.
“Buka ruang usaha di Kota Bandung. Jadi mitra strategis bagi pemerintah. Berikan advokasi kebijakan ekonomi yang brilian, baik bagi sektor usaha swasta maupun juga bagi pemerintah,” katanya.
Ia juga mendorong pengusaha Bandung memperluas jaringan bisnis hingga tingkat internasional.
“Tarik investor-investor dari luar untuk berinvestasi di Kota Bandung. Dan kemudian perluas jaringan bisnis tidak hanya secara nasional, kalau bisa secara internasional,” lanjut Edwin.
Dalam kesempatan tersebut, Edwin turut menyampaikan dukungannya terhadap Rifaldi Akbar untuk maju sebagai calon Ketua KADIN Kota Bandung. Ia menilai Rifaldi memiliki empat kriteria yang disebutnya sebagai Nyantri, Nyundah, Nyakola, dan Nyantika.
Edwin berharap kepemimpinan KADIN Kota Bandung ke depan mampu memperkuat kolaborasi dunia usaha dengan pemerintah sekaligus membawa pengusaha lokal mengambil peran lebih besar dalam perekonomian Kota Bandung.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










