bukamata.id – Lantai oktagon UFC Shanghai pada akhir pekan lalu menjadi saksi sejarah baru bagi panggung Mixed Martial Arts (MMA) tanah air. Petarung berdarah Indonesia, Bilal Hasan, mengukir debut impian di Ultimate Fighting Championship (UFC) lewat kemenangan Knockout (KO) spektakuler atas petarung asal Peru, Nilson Rojas, pada ronde kedua. Penampilan agresif, presisi serangan, dan kombinasi striking-grappling ciamik tak hanya menyegel kemenangan perdana baginya, tetapi juga menghadiahkan bonus Performance of the Night dari manajemen UFC.
Namun, di balik sorak-sorai publik dan euforia yang membumbung tinggi, Bilal Hasan tetap membumi. Kemenangan manis atas Rojas disadarinya baru sekadar pintu masuk. Namanya belum bertengger di jajaran 15 besar peringkat kelas terbang (flyweight) UFC. Daripada terbuai oleh selebrasi instan, Bilal justru merancang sebuah peta jalan (roadmap) bertarung yang penuh kalkulasi dingin dan realistis: Misi 7 Pertarungan Menuju Sabuk Juara UFC.
Cetak Biru 7 Pertarungan: Strategi Menembus Puncak Klasemen
Di tengah atmosfer industri MMA modern yang kerap diwarnai trash talk dan ambisi instan, pendekatan Bilal Hasan terasa sangat berbeda. Dalam wawancara mendalam di kanal YouTube Jaiden Cable, petarung berjuluk “The Indo Ninja” ini memaparkan kalkulasi matematis serta tahapan bertahap yang harus ia lalui sebelum pantas menantang penguasa divisi kelas terbang.
Bagi Bilal, jalan menuju mahkota UFC bukanlah bentangan karpet merah, melainkan tangga berundak yang harus ditapaki satu demi satu tanpa celah kesalahan. Angka tujuh menjadi formula krusial yang ia patok untuk membangun legasi.
“Mungkin saya ingin bertarung melawan dua atau tiga petarung di luar peringkat 15 besar, kemudian saya ingin tiga pertarungan melawan peringkat 15 besar, dengan yang keempat akan jadi perebutan gelar,” tutur Bilal Hasan. “Jadi mungkin itu, (butuh) tujuh pertarungan.”
Bila dibedah secara mendalam, skenario tujuh langkah Bilal Hasan terbagi ke dalam tiga fase strategis:
- Fase Fondasi (Langkah 1 hingga 3): Bertarung melawan 2-3 petarung non-peringkat di luar Top 15. Fase ini bertujuan mengumpulkan jam terbang oktagon, menguji ketahanan fisik di level UFC, serta membangun rekor kemenangan meyakinkan agar namanya makin diperhitungkan oleh matchmaker UFC. Kemenangan atas Nilson Rojas menjadi langkah pertama yang sempurna dalam fase ini.
- Fase Pengujian Papan Atas (Langkah 4 hingga 6): Setelah menembus peringkat 15 besar, Bilal membidik tiga laga sengit melawan para petarung berperingkat (ranked contenders). Ini adalah fase transisi paling krusial di mana ia akan diuji oleh para veteran dan spesialis gaya bertarung tertentu.
- Fase Puncak (Langkah 7): Laga ketujuh yang diproyeksikan sebagai duel perebutan sabuk juara dunia kelas terbang UFC.
Dengan kalkulasi durasi pemulihan dan jeda pemusatan latihan (training camp), Bilal memperkirakan misi tujuh pertarungan ini memerlukan waktu sekitar satu setengah hingga dua tahun ke depan.
Sorotan Pejabat Hingga Riuh Jagat Maya: Respon Kebanggaan Publik
Kiprah Bilal di panggung UFC Shanghai tidak hanya menarik perhatian pencinta MMA global, tetapi juga membakar kebanggaan publik Indonesia. Langkah Bilal mendapat apresiasi langsung dari tokoh olahraga nasional sekaligus Menpora/Menteri BUMN, Erick Thohir. Melalui akun Instagram pribadinya @erickthohir, Erick memberikan pesan hangat nan membakar semangat.
“Debut di UFC yang membanggakan! 🔥 Selamat untuk Bilal Hasan yang sukses meraih kemenangan dalam debut di UFC! 🥊 Bukan sekadar hasil bagus, tapi ada Merah Putih, doa, dan kebanggaan tanah air yang ikut dibawa di setiap perjuangan. Karena di mana pun kita bertanding, Merah Putih selalu ada di hati. 🇮🇩 Bangga!” tulis Erick Thohir.
Gelombang euforia ini pun langsung membanjiri kolom komentar di berbagai media sosial. Warganet ramai-ramai memberikan pujian atas gaya bertarung Bilal yang percaya diri sekaligus membandingkan pencapaian cantiknya di main card.
“Jiwa petantang petentengnya kuat banget Bilal 🔥 aku suka aku suka haha,” ujar seorang netizen yang terkesan dengan aura percaya diri Bilal di oktagon.
“Agak jauh sih kalau dibanding abang jeka, karena abang jeka kalah cepat di prelim. Sedangkan bang Bilal ini menang KO di main cards dan dengan lawan undefeated 9-0. Salut sama bang Bilal, semoga sukses terus di UFC,” tambah netizen lainnya membandingkan kiprah Bilal dengan Jeka Saragih.
“Semoga ada yang menyusul di belakangnya, jadi gak putus di bilal perjalanan Indonesia di UFC,” tutur netizen lain yang berharap momentum positif ini memicu regenerasi petarung Indonesia di panggung dunia.
Dukungan publik dan apresiasi pejabat negara menjadi bahan bakar emosional bagi Bilal. Ia menyadari betul bahwa setiap kali melangkahkan kaki ke dalam oktagon, ada jutaan doa dan nama bangsa yang ia usung di pundaknya.
Fondasi “Indo Ninja”: Dari Taekwondo Hingga Rekor Sempurna 9-0
Ketenangan dan kematangan taktik yang ditunjukkan Bilal dalam menyusun target tujuh pertarungan tidak muncul begitu saja. Hal itu dibentuk oleh proses panjang dan kedisiplinan tinggi sejak masa kecil.
Lahir di Oahu, Hawaii, pada 16 Juli 2001, petarung berusia 25 tahun ini memiliki ikatan darah Indonesia yang sangat pekat dari kedua orang tuanya yang berasal dari Jakarta. Pada usia 10 tahun, keluarganya pindah ke Washington, Amerika Serikat. Meski tumbuh besar di ranah perantauan, identitas Indonesia tak pernah tanggal dari jati dirinya.
Perjalanan bela dirinya telah dimulai sejak usia sangat belia—empat tahun—melalui disiplin ilmu Taekwondo. Keterampilan dasar ini membentuk kelincahan kaki, akurasi tendangan, serta persepsi jarak bertarung yang luar biasa. Ketekunannya berbuah prestasi manakala ia menjuarai ajang bergengsi PAN-American Taekwondo Junior Championships 2017.
Pada tahun 2021, Bilal memutuskan beralih ke ranah Mixed Martial Arts. Transisi tersebut berjalan mulus berkat adaptasi gaya bertarung yang agresif namun penuh perhitungan:
- Penguasaan Sabuk CFFC: Pada 2024, Bilal merebut sabuk juara kelas flyweight Cage Fury Fighting Championship (CFFC) usai menghentikan Jose Leon dengan teknik rear-naked choke. Semangat juangnya makin teruji saat ia mempertahankan gelar tersebut lewat kemenangan KO atas Brian Hauser setahun kemudian.
- Aksi Kilat di DWCS Season 10: Rekor impresif membawanya ke panggung Dana White’s Contender Series (DWCS) Season 10. Hanya butuh 45 detik bagi Bilal untuk merobohkan Mridul Saikia lewat pukulan overhand kanan tajam yang dilanjutkan serangan ground and pound.
Aksi kilat itu langsung meluluhkan Presiden UFC, Dana White, yang tanpa ragu memberikannya kontrak bertanding.
“Saya sangat terkesan dengan kamu. Saya tidak sabar menantikan kamu di masa mendatang. Saya sangat tidak sabar menonton pertarungan pertamamu di UFC. Selamat datang,” puji Dana White kala itu.
Kini, dengan kemenangan atas Rojas di Shanghai, Bilal memegang rekor profesional sempurna 9-0 (7 TKO/KO, 1 submission, dan 1 decision). Rekor bersih ini menjadi modal berharga dalam mengarungi jalan panjang tujuh pertarungan yang ia rencanakan.
Membaca Peta Persaingan: Belajar dari Akselerasi Joshua Van
Untuk menuntaskan target tujuh pertarungan dalam rentang waktu 1,5 hingga 2 tahun, Bilal Hasan harus cermat mempelajari dinamika kelas terbang UFC saat ini. Takhta tertinggi kelas ini saat ini dikuasai oleh Joshua Van, petarung muda berbakat asal Myanmar.
Joshua Van mengukir sejarah usai merebut sabuk juara kelas terbang dari tangan petarung veteran Alexander Pantoja pada Desember 2025. Van kemudian mempertegas dominasinya dengan mempertahankan gelar juara lewat kemenangan TKO atas Tatsuro Taira pada Mei lalu.
Perjalanan Joshua Van menjadi tolok ukur sekaligus bukti bahwa jalur cepat menuju tangga juara sangat mungkin diwujudkan:
- Tempo Bertanding Tinggi: Van melakoni debut UFC pada 2023 dan hanya butuh waktu dua tahun untuk merebut sabuk juara.
- Frekuensi Pertarungan: Rahasia Van terletak pada intensitasnya di dalam oktagon. Sepanjang kurun waktu 2023–2025, Van mencatatkan 9 pertarungan (8 menang, 1 kalah). Bahkan pada rentang 2024 dan 2025, ia aktif bertarung rata-rata empat kali dalam setahun.
Kiprah Joshua Van membuktikan bahwa target tujuh pertarungan milik Bilal Hasan sangat realistis untuk dicapai dalam durasi 18–24 bulan, dengan catatan Bilal mampu menjaga kebugaran tubuh, terhindar dari cedera parah, dan mempertahankan konsistensi kemenangan. Bonus Performance of the Night pada laga debutnya menjadi nilai tambah yang membuat pihak UFC berpeluang memberikan jadwal bertarung lebih rutin bagi Bilal.
Daftar Rintangan: Para “Penjaga Pintu” Top 15 UFC
Sebelum bisa menantang Joshua Van atau nama besar seperti Alexander Pantoja, misi tujuh pertarungan Bilal Hasan mewajibkannya melewati barisan petarung tangguh yang menghuni peringkat 15 besar divisi kelas terbang. Divisi ini dikenal sebagai salah satu kelas paling padat dengan kombinasi kecepatan dan ketahanan fisik tertinggi di UFC.
Beberapa nama yang diproyeksikan bakal menjadi batu ujian Bilal dalam fase pertarungan ke-4 hingga ke-6 meliputi:
- Charles Johnson: Petarung veteran berstamina tinggi yang kerap menjadi ujian berat bagi para prospek baru yang ingin masuk jajaran peringkat.
- Kevin Borjas: Striker berbahaya dengan gaya bertarung yang eksplosif dan tidak mudah dikanvaskan.
- Ramazan Temirov: Petarung berdarah dingin asal Asia Tengah dengan kemampuan wrestling dan sambo yang sangat dominan.
- Brandon Moreno & Brandon Royval: Mantan penguasa dan petarung papan atas divisi yang memiliki pengalaman perang di level tertinggi.
Masing-masing nama tersebut menyajikan ancaman gaya bertarung yang berbeda. Namun, kombinasi kelincahan Taekwondo, keahlian grappling CFFC, serta akurasi pukulan mematikan menjadikan Bilal Hasan ancaman nyata bagi siapa pun yang berdiri di sudut berlawanan.
Langkah Pertama dari Tujuh Pijakan Menuju Sejarah
Target tujuh pertarungan yang dicanangkan Bilal Hasan adalah manifestasi dari visi, disiplin, dan kepercayaan diri seorang petarung sejati. Ia tidak mencari panggung pamer yang cepat redup, melainkan membangun fondasi juara yang kokoh dan berkelanjutan.
Kemenangan KO atas Nilson Rojas di UFC Shanghai adalah Langkah Pertama dari Misi Tujuh Kemenangan tersebut. Enam pertarungan tersisa kini membentang di hadapannya—penuh dengan potensi ujian darah, keringat, dan taktik di dalam oktagon.
Dengan modal rekor tak terkalahkan 9-0, fondasi ilmu bela diri yang matang sejak kecil, serta dukungan penuh dari masyarakat Indonesia, Bilal “The Indo Ninja” Hasan telah memulai perjalanan bersejarahnya. Dunia kini menunggu langkah kedua, ketiga, hingga langkah ketujuh, saat Merah Putih berpeluang dikibarkan di puncak tertinggi divisi kelas terbang UFC.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









