bukamata.id – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bandung menunjukkan penurunan sekitar 50 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi penularan DBD yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti, terutama di tengah kondisi cuaca yang berubah-ubah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dadan Mulyana Kosasih, mengatakan penurunan kasus DBD tahun ini cukup signifikan dibandingkan periode yang sama pada 2025.
“Angka persisnya saya lupa, tapi perkiraannya sekitar 50 persen dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama,” kata Dadan, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, kondisi cuaca tahun ini relatif tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Penurunan kasus DBD diduga turut dipengaruhi meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta konsistensi pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Jentik Nyamuk Bisa Berkembang Cepat
Meski kasus mengalami penurunan, Dadan mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Sebab, perkembangan jentik nyamuk menjadi nyamuk dewasa dapat berlangsung lebih cepat ketika kondisi cuaca panas.
“Walaupun demikian, perlu diingat bahwa pertumbuhan jentik nyamuk menjadi nyamuk justru lebih cepat di musim panas dibanding musim hujan. Jadi begitu ada hujan, jentik yang tersisa bisa cepat menetas dan kasus bisa naik kembali,” ujarnya.
Dadan menyebut pada 2025 kasus DBD di Kota Bandung sempat mencapai puncaknya pada Agustus. Kondisi tersebut sempat menjadi kekhawatiran agar tidak kembali terjadi pada tahun ini.
Namun, hingga September 2026, lonjakan kasus seperti tahun sebelumnya belum terlihat. Menurut Dadan, berbagai upaya pencegahan yang dilakukan secara bersama-sama mulai memberikan dampak positif.
“Saya kira kampanye yang dilakukan bersama Pemerintah Kota, termasuk kunjungan ke setiap kelurahan, memberikan efek yang baik. Harapannya kondisi ini bisa terus terjaga,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










