MUSYAWARAH dalam Islam adalah media sakral untuk menyalurkan amanah, bukan alat untuk merampas kekuasaan. Sayangnya, dalam beberapa konteks kontemporer, musyawarah justru berubah wajah: dari forum untuk menegakkan keadilan menjadi panggung politik untuk menggulingkan pemimpin yang sah. Ironisnya, semua itu dibungkus dengan jargon “kebersamaan” dan “ijtihad kolektif”.
Dalam pandangan saya—yang berasal dari disiplin Ilmu Komunikasi Islam dan Komunikasi Bisnis—fenomena ini adalah bentuk kegagalan komunikasi strategis sekaligus distorsi nilai syura yang telah diwariskan Islam sejak zaman kenabian.
Ketika Syura Disalahgunakan
Dalam Islam, pencopotan pemimpin memiliki syarat yang sangat ketat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti dari Allah tentang hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika syarat ini tidak terpenuhi, maka usaha mencopot pemimpin yang sah adalah bentuk pemberontakan (bughat) yang merusak tatanan umat.
Al-Qur’an juga menekankan prinsip amanah dalam kepemimpinan “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…”
(QS. An-Nisa: 58)
Musyawarah yang dilakukan dengan agenda tersembunyi, tekanan politis, dan tanpa dasar syar’i adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai tersebut.
Framing dan Distorsi: Tinjauan Komunikasi
Dalam perspektif ilmu komunikasi, fenomena ini masuk dalam kategori distorted communication, sebagaimana dijelaskan oleh Jürgen Habermas. Musyawarah yang sehat harus terbuka, jujur, dan rasional. Bila syura dimanipulasi untuk menggulingkan pemimpin tanpa kesalahan syar’i, maka proses itu cacat legitimasi.
Erving Goffman dalam teorinya menyebut ini sebagai proses framing, yakni pembingkaian realitas untuk membentuk persepsi publik. Pemimpin bisa diposisikan sebagai sumber masalah, padahal yang terjadi hanyalah konstruksi naratif dari pihak-pihak yang ingin mengambil alih kendali.
Dalam komunikasi bisnis, strategi semacam ini dikenal sebagai engineering crisis trust—membuat krisis kepercayaan secara sengaja untuk memicu pergantian kepemimpinan. Cara-cara ini tidak hanya merusak organisasi, tetapi juga keutuhan moral komunitas.
Saat Pemimpin Menjadi Perisai yang Dirobohkan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pemimpin adalah perisai. Umat berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.”
(HR. Muslim)
Ketika perisai itu dihancurkan tanpa dasar yang sah, umat menjadi tanpa pelindung, tanpa arah. Musyawarah berubah dari jalan berkah menjadi arena fitnah. Maka, yang rusak bukan hanya seorang pemimpin, tapi juga tatanan kepercayaan, akhlak kolektif, dan stabilitas sosial.
Menjaga Syura, Menjaga Umat
Musyawarah harus kembali pada ruhnya: ruang etis, inklusif, jujur, dan terbebas dari syahwat kekuasaan. Kepemimpinan dalam Islam bukan milik kelompok, tetapi amanah dari Allah yang dijalankan demi maslahat umat. Karena itu, mengacaukan musyawarah sama dengan merusak pilar-pilar komunikasi keumatan.
Dalam era disrupsi narasi, komunikasi strategis umat harus kembali kepada akhlak dan adab, bukan retorika kekuasaan. Hanya dengan demikian, syura bisa menjadi cahaya peradaban, bukan alat kegelapan politik.
Moh. Fajar Shiddiq Permana. S.kom.I.,M.I.kom
Penulis adalah Wakil Ketua Pemuda Persis Kota Bandung dan Humas BKBH PP Persis
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











