bukamata.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menuai kritik tajam setelah mengusulkan penggantian nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Al Ihsan menjadi RSUD Welas Asih. Kebijakan ini dinilai kontroversial dan memicu penolakan dari Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI).
Ketua Umum FUUI, KH Athian Ali M. Dai, menilai bahwa penggantian nama tersebut tidak memiliki urgensi yang jelas dan justru menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Ia menyoroti bahwa nama Al Ihsan sarat akan makna spiritual dan sejarah perjuangan umat Islam di Jawa Barat.
“Nama Al Ihsan dipilih dengan pertimbangan filosofis. Ihsan dalam Islam berarti berbuat terbaik, baik kepada Tuhan maupun sesama,” tegas KH Athian dalam pernyataan tertulis, dikutip Minggu (6/7/2025).
Identitas Budaya atau Polemik Baru?
Gubernur Dedi mengemukakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya membangun identitas baru yang lebih merefleksikan nilai-nilai budaya Sunda. Dalam konferensi pers yang digelar di Bandung pada Selasa (2/7/2025), ia menyatakan, “Orang Sunda itu welas asih. Nama ini lebih mudah dipahami masyarakat dan menciptakan brand baru.”
Namun pernyataan ini justru menuai tanggapan kritis. Menurut KH Athian, istilah Welas Asih justru bukan berasal dari bahasa Sunda sebagaimana diklaim oleh Gubernur.
“Saya sudah diskusi, ternyata ‘Welas Asih’ itu bukan dari bahasa Sunda, tapi bahasa Jawa. Ini perlu dikaji lebih dalam. Jangan membuat keputusan tanpa urgensi yang jelas,” ujarnya.
Rumah Sakit dan Jejak Perjuangan
KH Athian mengingatkan bahwa RSUD Al Ihsan memiliki akar sejarah kuat. Rumah sakit ini didirikan pada 1993 oleh Yayasan Al Ihsan sebelum diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Perubahan nama, menurutnya, seakan menghapus jejak perjuangan tokoh dan ulama yang terlibat dalam pendiriannya.
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa meskipun rumah sakit ini membawa nama Islami, pelayanannya tidak diskriminatif. “Al Ihsan memang dari Islam, tapi pelayanan rumah sakit ini untuk semua golongan tanpa membedakan agama. Justru ini bukti bahwa nilai Islam sangat inklusif,” jelasnya.
Sorotan Terhadap Gaya Kepemimpinan Dedi
Dalam kritiknya, KH Athian juga menyinggung beberapa kebijakan kontroversial Gubernur Dedi sejak menjabat, termasuk wacana menjadikan Nyi Roro Kidul sebagai ikon pariwisata, program vasektomi sebagai syarat bansos, serta penghapusan bantuan untuk pesantren.
“Belum genap setahun menjabat, sudah membuat gaduh. Nama Al Ihsan sudah 32 tahun tidak pernah dipermasalahkan siapa pun. Kenapa sekarang diganti? Ada apa?” ujar KH Athian.
Ia juga memperingatkan soal potensi munculnya persepsi negatif terhadap Gubernur, yang dinilai terlalu condong pada budaya lokal tanpa memperhatikan harmoni dengan nilai-nilai agama.
“Wajar kalau muncul anggapan beliau anti-Islam, terlalu fanatik pada budaya Sunda, khususnya Sunda Wiwitan. Padahal Islam dan budaya Sunda bisa sejalan selama tidak bertentangan dengan syariat,” katanya.
Seruan untuk Fokus pada Substansi
Sebagai penutup, KH Athian meminta Gubernur untuk lebih fokus pada program-program strategis yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
“Jabatan tidak lama. Fokus saja pada upaya menyejahterakan rakyat, jangan habiskan waktu dengan hal-hal yang bikin gaduh,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











