Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Siap Gelora! Lokasi Nobar Persib Bandung vs Melbourne Victory Sore Ini

Rabu, 4 November 2026 08:30 WIB

Dibikin Heran Satu Dunia! Selebrasi Paling Nyeleneh Veda Ega: Makan Belalang Goreng di Sepang!

Rabu, 4 November 2026 08:20 WIB

Bawa JNE Makin Adaptif, Hui Chandra Fireta Sabet Gelar Most Innovative CFO Awards 2026

Rabu, 4 November 2026 07:45 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Siap Gelora! Lokasi Nobar Persib Bandung vs Melbourne Victory Sore Ini
  • Dibikin Heran Satu Dunia! Selebrasi Paling Nyeleneh Veda Ega: Makan Belalang Goreng di Sepang!
  • Bawa JNE Makin Adaptif, Hui Chandra Fireta Sabet Gelar Most Innovative CFO Awards 2026
  • Pincang Tanpa Duo Asing, Persib Tetap Ngotot Segel Tiket 16 Besar ACL 2
  • Klaim Sekarang! Daftar Kode Redeem FF Terbaru 4 November 2026, Amankan Hadiah Gratisnya
  • Link Video Viral Egar dan Fina Banyuwangi Part 1 Sampai 4 Full Durasi Dicari Netizen, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Pemerintah Salurkan BSU Rp900 Ribu Lewat Bank Himbara dan Pos, Cek Namamu Sekarang!
  • Bareskrim Amankan Barang Bukti Digital, Listyo Sigit Cs Ditahan di Rutan Mabes Polri
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 4 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Nilai Tukar Rupiah Alami Depresiasi Terburuk Sejak 1998, Penguatan Dolar dan Gejolak Global Jadi Pemicu

By Aga GustianaSelasa, 20 Januari 2026 16:49 WIB2 Mins Read
uang rupiah
Ilustrasi uang rupiah. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/rwa.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan Selasa (20/1/2026) di level Rp16.956, melemah 1,50 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.955. Meskipun koreksi hari ini tidak sedalam pelemahan sebelumnya yang mencapai 0,40 persen, posisi ini tercatat sebagai depresiasi rupiah terburuk sejak 1998, saat mata uang Garuda jatuh ke Rp16.800 per dolar AS pada Juni 1998.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh faktor eksternal yang menguatkan dolar AS, ditambah kekhawatiran atas proyeksi fiskal domestik.

“Selama akhir pekan, kekhawatiran akan perang dagang yang diperbarui meningkat setelah Trump mengatakan dia akan mengenakan bea tambahan 10 persen mulai 1 Februari pada barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris, meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan tentang Greenland yang tercapai,” jelas Ibrahim.

Ia menambahkan bahwa gejolak global dan kebijakan AS menjadi faktor utama penguatan dolar. Di sisi lain, pasar juga memperkirakan Federal Reserve (Fed) AS) akan menahan penurunan suku bunga pada pertemuan kebijakan akhir bulan ini karena kondisi pasar tenaga kerja yang stabil.

Baca Juga:  Data Bank Dunia Ungkap Warga Miskin Indonesia Capai 194 Juta Orang, Luhut Minta Revisi

“Pasar saat ini memperkirakan hanya 5 persen kemungkinan penurunan suku bunga Fed pada pertemuan kebijakan Januari, menurut alat CME FedWatch,” ujarnya.

Meski tekanan eksternal cukup kuat, sentimen domestik juga memberi beban pada rupiah. Namun, Ibrahim menekankan bahwa prospek ekonomi Indonesia tetap positif, didukung revisi pertumbuhan dari lembaga internasional.

Baca Juga:  Lampu Kuning Ekonomi! Rupiah Terkapar Akibat 'Perang', APBN Mulai Terancam?

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan Indonesia pada 2026 dan 2027 akan berada di level 5,1 persen, sedikit naik dari proyeksi 2025 sebesar 5 persen.

“IMF tak mengulas prospek terbarunya itu untuk ekonomi Indonesia. Namun, secara global, ketahanan pertumbuhan ekonomi lebih disebabkan gencarnya stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif,” katanya.

Bank Dunia juga menyatakan optimisme serupa, memperkirakan pertumbuhan Indonesia tetap di level 5,1 persen pada 2026 dan naik menjadi 5,2 persen pada 2027. Menurut mereka, pertumbuhan ini didukung oleh stimulus ekonomi pemerintah dan investasi yang terus didorong.

Baca Juga:  Sri Mulyani Terkena Reshuffle, Ini Rekam Jejak Ekonom Peraih Penghargaan Dunia

Secara relatif, Ibrahim menilai ekonomi Indonesia tetap kuat dibandingkan negara lain:

“Laju pertumbuhan 5,1 persen pada 2026 dan 2027 masih lebih cepat dibandingkan banyak negara dalam daftar 30 negara terpilih IMF, hanya tertinggal dari Filipina 5,6 persen dan India 6,4 persen pada 2026,” jelasnya.

Untuk perdagangan besok, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan fluktuatif, dengan kisaran penutupan di Rp16.950-Rp16.980.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

dolar AS ekonomi Indonesia rupiah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo

Bareskrim Amankan Barang Bukti Digital, Listyo Sigit Cs Ditahan di Rutan Mabes Polri

Skandal Penyadapan Ilegal, Mabes Polri Tetapkan KSP Jenderal Listyo Sigit Tersangka!

Siapa Sebenarnya Herri Pras? Guru Besar Silat Kena Mental Diserbu Rombongan MMA Usai Hina UAS dan UAH!

Pelecehan Seksual

Aksi Bejat Predator Anak di Karawang Terbongkar, 9 Bocah Jadi Korban Kekerasan Seksual

Aksi di DPRD Jabar, HMI Bandung Tegaskan Gerakan Ekstra Parlementer Adalah Gerakan Rakyat

Pajak

Uang Kita ke Mana? Menilik Pidato Hashim yang Jadikan Tukang Cukur hingga Warteg Target Pajak Baru

Terpopuler
  • Ilustrasi video syur
    Link Video Egar dan Fina Banyuwangi Viral di TikTok, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Link Video Viral Egar dan Fina Banyuwangi Part 1 Sampai 4 Full Durasi Dicari Netizen, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Perang Estetika Kota: Utopia Art Deco vs Megalomania Kerajaan di Saat Kas Pemprov Jabar Sekarat
  • Geger Link Video Viral Karyawan HWI Durasi 6 Menit, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.