Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Ketajaman Mitchell Baker Kian Bersinar, Kokoh di Puncak Top Skor Piala AFF 2026

Sabtu, 1 Agustus 2026 12:58 WIB

Dago Padel Club Bandung Gebrak Indonesia, Usung Standar Lapangan Kelas Dunia

Sabtu, 1 Agustus 2026 12:44 WIB

Kisah Haru Mbok Tukinil dan Yanto Kucing Oren yang Bikin Satu Indonesia Menangis

Sabtu, 1 Agustus 2026 10:40 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Ketajaman Mitchell Baker Kian Bersinar, Kokoh di Puncak Top Skor Piala AFF 2026
  • Dago Padel Club Bandung Gebrak Indonesia, Usung Standar Lapangan Kelas Dunia
  • Kisah Haru Mbok Tukinil dan Yanto Kucing Oren yang Bikin Satu Indonesia Menangis
  • Daftar Harga Terbaru BBM Nonsubsidi Pertamina, Resmi Turun Per 1 Agustus 2026
  • Cara Cek Bansos Tahap 3: Gunakan NIK KTP untuk Pastikan Namamu Masuk Daftar Penerima
  • Tanggal 1 Agustus Jatuh Hari Sabtu, Apakah Gaji Pensiunan PNS Tetap Cair? Ini Jawaban Taspen
  • Screenshot DM Instagram Bisa Ketahuan? Ini Rahasia Notifikasi yang Wajib Diketahui Pengguna
  • Bansos Kemensos Tahap 3 2026 Cair! Cek NIK KTP Sekarang, Ada PKH dan BPNT Rp600 Ribu
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 1 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Nilai Tukar Rupiah Alami Depresiasi Terburuk Sejak 1998, Penguatan Dolar dan Gejolak Global Jadi Pemicu

By Aga GustianaSelasa, 20 Januari 2026 16:49 WIB2 Mins Read
uang rupiah
Ilustrasi uang rupiah. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/rwa.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan Selasa (20/1/2026) di level Rp16.956, melemah 1,50 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.955. Meskipun koreksi hari ini tidak sedalam pelemahan sebelumnya yang mencapai 0,40 persen, posisi ini tercatat sebagai depresiasi rupiah terburuk sejak 1998, saat mata uang Garuda jatuh ke Rp16.800 per dolar AS pada Juni 1998.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh faktor eksternal yang menguatkan dolar AS, ditambah kekhawatiran atas proyeksi fiskal domestik.

“Selama akhir pekan, kekhawatiran akan perang dagang yang diperbarui meningkat setelah Trump mengatakan dia akan mengenakan bea tambahan 10 persen mulai 1 Februari pada barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris, meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan tentang Greenland yang tercapai,” jelas Ibrahim.

Ia menambahkan bahwa gejolak global dan kebijakan AS menjadi faktor utama penguatan dolar. Di sisi lain, pasar juga memperkirakan Federal Reserve (Fed) AS) akan menahan penurunan suku bunga pada pertemuan kebijakan akhir bulan ini karena kondisi pasar tenaga kerja yang stabil.

“Pasar saat ini memperkirakan hanya 5 persen kemungkinan penurunan suku bunga Fed pada pertemuan kebijakan Januari, menurut alat CME FedWatch,” ujarnya.

Meski tekanan eksternal cukup kuat, sentimen domestik juga memberi beban pada rupiah. Namun, Ibrahim menekankan bahwa prospek ekonomi Indonesia tetap positif, didukung revisi pertumbuhan dari lembaga internasional.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan Indonesia pada 2026 dan 2027 akan berada di level 5,1 persen, sedikit naik dari proyeksi 2025 sebesar 5 persen.

“IMF tak mengulas prospek terbarunya itu untuk ekonomi Indonesia. Namun, secara global, ketahanan pertumbuhan ekonomi lebih disebabkan gencarnya stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif,” katanya.

Bank Dunia juga menyatakan optimisme serupa, memperkirakan pertumbuhan Indonesia tetap di level 5,1 persen pada 2026 dan naik menjadi 5,2 persen pada 2027. Menurut mereka, pertumbuhan ini didukung oleh stimulus ekonomi pemerintah dan investasi yang terus didorong.

Secara relatif, Ibrahim menilai ekonomi Indonesia tetap kuat dibandingkan negara lain:

“Laju pertumbuhan 5,1 persen pada 2026 dan 2027 masih lebih cepat dibandingkan banyak negara dalam daftar 30 negara terpilih IMF, hanya tertinggal dari Filipina 5,6 persen dan India 6,4 persen pada 2026,” jelasnya.

Untuk perdagangan besok, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan fluktuatif, dengan kisaran penutupan di Rp16.950-Rp16.980.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bank Dunia depresiasi dolar AS ekonomi Indonesia IMF nilai tukar rupiah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Daftar Harga Terbaru BBM Nonsubsidi Pertamina, Resmi Turun Per 1 Agustus 2026

Tanggal 1 Agustus Jatuh Hari Sabtu, Apakah Gaji Pensiunan PNS Tetap Cair? Ini Jawaban Taspen

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos Kemensos Tahap 3 2026 Cair! Cek NIK KTP Sekarang, Ada PKH dan BPNT Rp600 Ribu

Tantan Sulthon Bukhawan Resmi Maju Calon Ketua PWI Jabar, Bawa Program 1.000 UKW Gratis untuk Wartawan

Desak Evaluasi Otonomi Daerah, APKASI Nyaring Suarakan Revisi UU Nomor 23 Tahun 2014

Pelecehan Seksual

Demi Rujuk, Ayah di Bandung Barat Siksa Anak Kandung hingga Berdarah dan Direkam

Terpopuler
  • Fakta Baru Satpam Tewas Terborgol di Waduk Jatiluhur: Polisi Tegaskan Belum Ada Tersangka
  • Rindang Jadi Beton! 9 Pohon di Cihapit Ditebang Demi Lapangan Padel?
  • Dikenalkan Bos Hartono, Ini Sosok Dr. Veronica yang Bikin Irfan Hakim Penasaran Soal Akupunktur Telinga
  • Bandung Tak Lagi Aman? Sisi Gelap Geng Begal Malam Hari dan Tekanan Ekonomi Modern!
  • Rahasia Persib Tak Terkalahkan Terungkap, Igor Tolic Sebut Faktor Ini Jadi Kunci Lolos ke Semifinal
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.