bukamata.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan Selasa (20/1/2026) di level Rp16.956, melemah 1,50 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.955. Meskipun koreksi hari ini tidak sedalam pelemahan sebelumnya yang mencapai 0,40 persen, posisi ini tercatat sebagai depresiasi rupiah terburuk sejak 1998, saat mata uang Garuda jatuh ke Rp16.800 per dolar AS pada Juni 1998.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh faktor eksternal yang menguatkan dolar AS, ditambah kekhawatiran atas proyeksi fiskal domestik.
“Selama akhir pekan, kekhawatiran akan perang dagang yang diperbarui meningkat setelah Trump mengatakan dia akan mengenakan bea tambahan 10 persen mulai 1 Februari pada barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris, meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan tentang Greenland yang tercapai,” jelas Ibrahim.
Ia menambahkan bahwa gejolak global dan kebijakan AS menjadi faktor utama penguatan dolar. Di sisi lain, pasar juga memperkirakan Federal Reserve (Fed) AS) akan menahan penurunan suku bunga pada pertemuan kebijakan akhir bulan ini karena kondisi pasar tenaga kerja yang stabil.
“Pasar saat ini memperkirakan hanya 5 persen kemungkinan penurunan suku bunga Fed pada pertemuan kebijakan Januari, menurut alat CME FedWatch,” ujarnya.
Meski tekanan eksternal cukup kuat, sentimen domestik juga memberi beban pada rupiah. Namun, Ibrahim menekankan bahwa prospek ekonomi Indonesia tetap positif, didukung revisi pertumbuhan dari lembaga internasional.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan Indonesia pada 2026 dan 2027 akan berada di level 5,1 persen, sedikit naik dari proyeksi 2025 sebesar 5 persen.
“IMF tak mengulas prospek terbarunya itu untuk ekonomi Indonesia. Namun, secara global, ketahanan pertumbuhan ekonomi lebih disebabkan gencarnya stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif,” katanya.
Bank Dunia juga menyatakan optimisme serupa, memperkirakan pertumbuhan Indonesia tetap di level 5,1 persen pada 2026 dan naik menjadi 5,2 persen pada 2027. Menurut mereka, pertumbuhan ini didukung oleh stimulus ekonomi pemerintah dan investasi yang terus didorong.
Secara relatif, Ibrahim menilai ekonomi Indonesia tetap kuat dibandingkan negara lain:
“Laju pertumbuhan 5,1 persen pada 2026 dan 2027 masih lebih cepat dibandingkan banyak negara dalam daftar 30 negara terpilih IMF, hanya tertinggal dari Filipina 5,6 persen dan India 6,4 persen pada 2026,” jelasnya.
Untuk perdagangan besok, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan fluktuatif, dengan kisaran penutupan di Rp16.950-Rp16.980.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











