bukamata.id – Kericuhan terjadi di Kantor Desa Sukatani, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, ketika puluhan warga menagih janji kampanye Kepala Desa terkait pembangunan jalan.
Video yang menampilkan anak Kepala Desa sekaligus perangkat desa menggebrak meja hingga memicu emosi warga viral di media sosial dan menuai kecaman.
Viral: Anak Kades Nyebat dan Gebrak Meja di Depan Warga
Sebuah video yang diunggah akun Instagram @fakta.beriita, Minggu (8/12/2025), memperlihatkan suasana panas audiensi warga Sukatani dengan pemerintah desa.
Dalam video tersebut, anak Kades yang diketahui bernama Isep Priatama (Okek) tampak menaikkan nada bicara, merokok di ruangan, hingga menggebrak meja saat warga meminta penjelasan soal pembangunan jalan yang tak kunjung dikerjakan.
Komentar Warganet Usai Aksi Anak Kades Sukatani Viral
Viralnya video aksi anak Kepala Desa Sukatani, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, yang tampak menggebrak meja dan bersikap arogan saat audiensi dengan warga, terus menuai reaksi publik.
Banyak yang menilai tindakan tersebut tidak mencerminkan etika seorang perangkat desa yang seharusnya melayani masyarakat.
Beberapa komentar warganet yang disorot antara lain:
- “Baru anak kades, bibit unggul ini mah,” tulis akun @ang***.
- “Sok-sokan baru jadi anak kades udah bergaya, hadeuh,” komentar @tri***.
- “Anak kacung belagu… warga ngamuk rumah digeruduk jiper lu,” kata @alt***.
- “Bapaknya udah nyari aman, eh anaknya malah ngebongkar semuanya wkwkwk,” tulis @mau***.
Gelombang kritik ini muncul setelah momen ricuh dalam audiensi warga yang menuntut kejelasan pembangunan jalan serta sejumlah janji kampanye Kepala Desa.
Video tersebut kini memicu diskusi publik mengenai etika perangkat desa dan hubungan antara pemerintah desa dengan masyarakat.
Warga Menagih Janji Kampanye Kades
Audiensi yang dihadiri sekitar 50 warga ini difasilitasi oleh Ketua Karang Taruna Desa Sukatani, Isep Priatama atau Okek. Ia menyebutkan bahwa forum tersebut dibuat atas permintaan warga yang ingin menyampaikan sejumlah persoalan kepada pemerintah desa.
“Warga minta difasilitasi agar bisa menyampaikan keluhan. Kami sudah atur jadwal dan disepakati hari Senin berlangsung di aula kantor desa,” jelas Okek, yang juga merupakan putra Kepala Desa Sukatani, Sulaemansyah.
Beberapa isu strategis diangkat warga, mulai dari pengelolaan BUMDes, dana desa, kinerja perangkat desa, keberadaan Gapoktan, hingga pemanfaatan excavator bantuan pemerintah. Warga juga menekankan pentingnya memberdayakan masyarakat lokal dalam pembangunan yang menggunakan Dana Desa, bukan menyerahkannya kepada pihak luar.
Menurut Okek, sebagian besar pertanyaan sudah dijawab oleh Pemdes. Dari penjelasan soal penggunaan dana desa hingga klarifikasi terkait BUMDes, beberapa poin dianggap telah selesai.
Namun perdebatan makin panas ketika warga Kampung Cikopeng kembali menyoal janji kampanye Kepala Desa yang berkomitmen memperbaiki jalan kabupaten dengan dana pribadi.
Isu Jalan Rusak dan Kekhawatiran Banjir Makin Menguat
Warga menganggap kondisi jalan tersebut bukan sekadar soal mobilitas, tetapi juga berkaitan dengan risiko banjir saat musim hujan. Jalan yang rusak parah disebut sering tergenang, memicu kekhawatiran meningkatnya debit air dan mengancam pemukiman.
“Kami sudah jelaskan bahwa itu kewenangan kabupaten, bukan desa. Tapi warga tetap meminta janji itu dipenuhi,” ujar Okek.
Salah satu alasan desakan warga untuk segera dilakukan perbaikan adalah indikasi meningkatnya intensitas hujan dalam dua bulan terakhir. Warga menilai infrastruktur yang belum optimal dapat memperparah limpasan air dan meningkatkan potensi banjir bandang dari arah hulu, mengingat topografi Sukatani termasuk kawasan yang rawan genangan saat curah hujan tinggi.
Kericuhan Pecah, Meja Digeprak untuk Meredam
Kericuhan terjadi ketika Kepala Desa mulai memberikan penjelasan, namun beberapa warga terus menyela hingga melanggar tata tertib audiensi yang telah disepakati. Adu mulut tidak terhindarkan.
“Saya spontan menggebrak meja supaya mereka diam dan mendengarkan. Tapi malah makin ramai. Kami sudah minta maaf, itu reaksi spontan,” tambah Okek.
Ia menegaskan bahwa tata tertib audiensi sudah jelas: hanya penanya dan pihak yang sedang menjawab yang boleh berbicara. Namun sebagian warga tetap bersikeras ingin menyampaikan aspirasi secara langsung meski giliran bicara belum diberikan.
Situasi Kini Kembali Kondusif
Meski sempat memanas, Okek memastikan bahwa kondisi telah kembali normal. Ia bahkan menemui warga secara langsung setelah acara demi mencegah persoalan berkembang lebih jauh.
“Masalahnya sudah selesai di akhir acara. Kami sudah saling memaafkan. Sekarang semuanya kembali seperti biasa,” ungkapnya.
Hingga berita ini ditayangkan, Kepala Desa Sukatani, Sulaemansyah, belum memberikan pernyataan resmi mengenai tuntutan warga, terutama terkait perbaikan jalan yang dikaitkan dengan ancaman banjir pada musim penghujan tahun ini.
Penutup
Kericuhan yang sempat memanas di Kantor Desa Sukatani kini memang telah mereda, namun polemik antara warga dan pemerintah desa masih menyisakan banyak pekerjaan rumah.
Desakan warga agar janji kampanye segera direalisasikan, terutama perbaikan jalan yang dianggap krusial untuk mencegah banjir saat musim hujan menjadi sinyal bahwa komunikasi antara pemerintah desa dan masyarakat perlu dibangun lebih transparan dan responsif.
Viralnya video aksi anak Kepala Desa semakin memperlebar perhatian publik terhadap dinamika internal pemerintahan desa dan etika para perangkatnya. Situasi ini menjadi pengingat bahwa akuntabilitas dan pelayanan publik yang humanis merupakan pilar utama dalam membangun kepercayaan warga.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











