bukamata.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menegaskan sikapnya untuk tidak lagi berkompromi dengan perdebatan administratif maupun silang opini terkait bencana di Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Pasca bencana longsor yang melanda kawasan tersebut, Dedi Mulyadi berkomitmen penuh untuk mengembalikan fungsi lahan di sana menjadi hutan seutuhnya.
“Tidak ada niat bercentang perenang terkait faktor longsor Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat. Satu hal yang pasti adalah alam tidak pernah mau diajak bernegosiasi,” tegas Dedi dalam Instagram pribadinya, Rabu (28/1/2026).
Menurutnya, perdebatan mengenai apakah bencana ini murni faktor alami atau dampak alih fungsi lahan sudah tidak lagi relevan di depan mata rakyat yang terdampak.
Bagi Dedi Mulyadi, alam telah memberikan pesan nyata bahwa kawasan tersebut kehilangan penyangganya.
“Mau itu alih fungsi lahan, mau itu faktor alami, alam sudah menunjukan secara nyata dan pasti bahwa Pasirlangu tidak memiliki penyangga. Sehingga saya berkomitmen menghutankan daerah ini,” katanya.
Meskipun Badan Geologi Kementerian ESDM menyebut faktor geologi alamiah sebagai pemicu dominan longsor Cisarua, Dedi Mulyadi tetap melihat penghutanan kembali sebagai solusi tunggal yang tidak bisa ditawar.
Ia menilai, selama manusia masih berdebat tentang teori, alam akan terus bergerak dengan hukumnya sendiri.
“Sejak dulu, silang opini tidak pernah menghasilkan apa-apa selain perdebatan dan tentu saja, alam tidak pernah mau berdebat,” tandasnya.
Sebelumnya, Badan Geologi Kementerian ESDM telah menyelesaikan identifikasi awal terkait bencana tanah longsor yang melanda kawasan Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi Kementerian ESDM, Anjar Heri Waseso mengungkapkan bahwa bencana ini bukan sekadar longsoran biasa, melainkan masuk dalam kategori aliran bahan rombakan (debris flow).
Berdasarkan hasil investigasi lapangan, Anjar menjelaskan ada tiga faktor utama yang memicu besarnya skala kerusakan di lokasi tersebut.
Pertama adalah morfologi yang ekstrem. Dimana kondisi kemiringan lereng di titik awal longsor tercatat sangat curam, berkisar antara 30 hingga 40 derajat.
“Morfologi adanya perbedaan-perbedaan tinggi morfologi antara yang daerah landaan dan daerah yang ancam. Jadi, itu sangat tinggi sekali. Jadi, kemiringan dari yang mulai ekstrim dari sekitar 30 sampai 40 derajat kemudian menuju ke kemiringan antara 20 sampai 30 derajat,” kata Anjar saat dihubungi, Selasa (28/1/2026).
Perbedaan ketinggian yang mencolok antara area puncak dan lembah menyebabkan massa tanah memiliki energi potensial yang besar saat bergerak turun.
Faktor kedua adalah lapisan tanah vulkanik yang tebal. Dimana ditemukan bahwa ketebalan tanah pelapukan di lokasi mencapai lebih dari 15 meter. Tanah yang berasal dari material vulkanik ini memiliki sifat gembur dan sangat mudah menyerap air.
“Tanah setebal itu mengalami penjenuhan akibat pemicu eksternal, sehingga saat mencapai titik jenuh, material tersebut tertransportasi ke lereng bawah dalam volume yang besar,” jelas Anjar.
Faktor ketiga yang paling krusial adalah sistem drainase alami yang menjadi tempat berkumpulnya air. Didukung data BMKG yang menunjukkan curah hujan ekstrem di atas 200 mm per hari, air berkumpul dalam satu jalur yang sempit.
Hal ini menciptakan daya kikis yang sangat kuat, membawa material tanah dan batuan meluncur mengikuti jalur sungai yang ada hingga ke area pemukiman di lahan yang lebih landai.
“Sehingga menciptakan suatu erosional yang sangat kuat pada saat sampai di titik landai, kemudian dia akan menyambar seperti mengikuti jalur sungai yang sudah ada,” imbuhnya.
Menanggapi spekulasi mengenai alih fungsi lahan sebagai penyebab utama, Anjar tidak menampik hal tersebut memberikan pengaruh. Namun, ia menekankan bahwa faktor geologi alamiah tetap menjadi pemicu dominan.
“Faktor alih fungsi memang berpengaruh, tapi kita lihat sumbernya memang di morfologi yang sangat curam dan tanah yang gembur. Karena butiran tanahnya kecil, ia bisa mengalir sangat jauh,” ucapnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











