bukamata.id – Kisah memilukan datang dari Ajat (37), seorang pedagang es keliling yang harus berjuang di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi kesehatan serius. Dengan penghasilan sekitar Rp30 ribu per hari, ia justru dicoret dari daftar Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan karena dinilai masuk kategori mampu.
Keputusan tersebut membuat Ajat kebingungan. Sebab, pendapatannya yang tak menentu nyaris tak cukup untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga, apalagi membayar iuran BPJS secara mandiri setiap bulan.
Padahal, Ajat saat ini menjalani prosedur cuci darah rutin yang tidak bisa dihentikan. Terapi itu menjadi satu-satunya jalan untuk mempertahankan kesehatannya. Jika terputus, risiko komplikasi bisa mengancam keselamatannya.
“Tadi saya mau coba daftar lagi ke dinas sosial. Jawabannya sama seperti kemarin, tidak bisa karena sudah terdaftar sebagai peserta BPJS mandiri,” kata Ajat, dikutip dari Instagram @mediaindonesia, Jumat (13/2/2026).
Terpaksa Jadi Peserta Mandiri
Ajat mengaku tak memiliki pilihan lain selain mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS mandiri. Status itu membuatnya wajib membayar iuran secara rutin agar layanan cuci darah tetap bisa diakses.
Di sisi lain, penghasilannya sebagai pedagang es keliling sangat terbatas. Kondisi fisiknya yang harus menjalani terapi seumur hidup juga membatasi ruang geraknya untuk mencari nafkah lebih besar.
Upayanya untuk mengaktifkan kembali kepesertaan PBI ditolak karena namanya tercatat dalam kategori desil 6 pada pendataan kesejahteraan sosial. Artinya, secara administratif ia dianggap berada di kelompok masyarakat menengah ke atas.
Namun Ajat membantah penilaian tersebut. Ia menegaskan kondisi ekonominya jauh dari kategori mampu.
“Katanya tergolong menengah ke atas, padahal kenyataannya jauh banget. Jangankan kerja ke mana-mana, kerja saja cuma jualan,” ujarnya dengan nada lemah.
Persoalan Data dan Realitas Lapangan
Kasus yang dialami Ajat kembali menyoroti persoalan akurasi pendataan bantuan sosial. Perbedaan antara data administratif dan kondisi riil di lapangan kerap memunculkan polemik.
Program PBI sejatinya ditujukan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu agar tetap mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus membayar iuran. Namun, ketepatan sasaran masih menjadi tantangan dalam implementasinya.
Bagi Ajat, status dalam sistem pendataan terasa tak sejalan dengan kenyataan hidupnya sehari-hari. Sebagai kepala keluarga dengan penyakit kronis, ia memiliki keterbatasan fisik sekaligus beban ekonomi yang berat.
Harapan untuk Kebijakan Lebih Berpihak
Di tengah situasi sulit, Ajat hanya berharap ada kebijakan yang mempertimbangkan kondisi nyata masyarakat kecil. Baginya, akses terhadap layanan kesehatan bukan sekadar fasilitas administratif, melainkan kebutuhan mendasar untuk bertahan hidup.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik angka dan kategori desil, ada manusia dengan perjuangan nyata. Bagi Ajat, yang setiap hari berkeliling menjajakan es demi mencukupi kebutuhan keluarga, kepastian jaminan kesehatan adalah soal hidup dan mati.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











