bukamata.id – Teheran kembali memanaskan situasi di jalur perdagangan energi dunia, Selat Hormuz. Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara terang-terangan memberikan peringatan keras bahwa setiap kapal militer milik Amerika Serikat (AS) maupun sekutunya kini berada dalam bidikan senjata Iran.
Langkah provokatif ini merupakan respons atas klaim sepihak Washington terkait pengawalan kapal tanker di perairan strategis tersebut. Iran menegaskan bahwa kehadiran militer asing di sana hanya akan memicu konfrontasi fisik.
Bantahan Keras Terhadap Klaim Pengawalan AS
Ketegangan terbaru ini bermula dari pernyataan Menteri Energi AS, Chris Wright, yang menyebut Angkatan Laut AS telah melakukan pengawalan terhadap sebuah tanker minyak. Meski unggahan tersebut segera dihapus dari platform X, pihak Iran bereaksi cepat dengan membantah narasi tersebut sebagai informasi sampah.
Kepala Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, menegaskan bahwa wilayah tersebut tetap berada di bawah pengawasan ketat pasukannya. Ia memperingatkan risiko fatal bagi armada Barat yang mencoba pamer kekuatan di sana.
“Klaim tentang sebuah kapal tanker minyak yang melewati Selat Hormuz dengan pengawalan militer AS sama sekali tidak benar. Setiap pelayaran armada AS dan sekutunya akan dihentikan oleh rudal dan drone bunuh diri Iran,” tegas Tangsiri.
Tudingan Manipulasi Pasar Keuangan
Tak hanya dari sisi militer, kecaman juga datang dari jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai bahwa penyebaran berita mengenai pengawalan tanker tersebut adalah taktik kotor Gedung Putih untuk menenangkan pasar energi global yang sedang bergejolak.
Araghchi melontarkan kritik pedas melalui akun media sosialnya, menyebut bahwa kebohongan publik tersebut tidak akan mampu menyelamatkan ekonomi AS dari krisis internal.
“Para pejabat AS menyebarkan berita palsu untuk memanipulasi pasar. Itu tidak akan melindungi mereka dari tsunami inflasi yang telah mereka timpakan kepada rakyat Amerika,” tulis Araghchi dalam unggahannya.
Ia juga menambahkan peringatan mengenai ancaman krisis pasokan energi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern.
“Pasar menghadapi kekurangan terbesar dalam sejarah: lebih besar dari Embargo Minyak Arab, Revolusi Islam Iran, dan invasi Kuwait gabungan,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










