HARI Pers Nasional (HPN) 2026 tidak sekadar menjadi seremoni tahunan untuk mengenang lahirnya organisasi kewartawanan. Bagi kita yang bergelut di ruang redaksi, hari ini adalah momen refleksi mendalam tentang sejauh mana “pena” kita masih memiliki daya tawar di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) dan dominasi algoritma media sosial yang kian tak terduga.
Tahun ini, tantangan pers bukan lagi soal kecepatan. Kecepatan sudah diambil alih oleh mesin dan warganet. Tantangan terbesar kita hari ini adalah kredibilitas dan relevansi.
Melampaui Sekadar “Clickbait”
Kita harus jujur, dalam beberapa tahun terakhir, industri media terjebak dalam pusaran traffic. Banyak ruang redaksi yang “menghambakan diri” pada algoritma demi sekadar bertahan hidup secara bisnis. Namun, jika pers hanya mengejar klik tanpa memedulikan etika dan kedalaman, lantas apa bedanya kita dengan konten kreator yang sekadar mencari viralitas?
Di HPN 2026 ini, seluruh insan pers tanah air perlu menegaskan kembali bahwa fungsi pers sebagai watchdog atau anjing penjaga demokrasi tidak boleh tumpul. Pers harus berani berdiri sebagai penyaring (filter) di tengah banjir informasi yang seringkali bercampur dengan disinformasi.
Jurnalisme Manusia di Era AI
Kehadiran teknologi AI dalam ruang redaksi memang membantu efisiensi, namun ia tidak memiliki “nurani”. AI bisa menyusun kalimat yang sempurna, tetapi ia tidak bisa merasakan empati saat mewawancarai korban ketidakadilan. Ia tidak bisa mencium aroma konspirasi di balik kebijakan publik yang janggal.
Inilah kedaulatan jurnalis sesungguhnya: kemampuan untuk melakukan verifikasi, membangun narasi yang humanis, dan menjaga integritas. Pers yang sehat adalah pers yang tidak membiarkan nalar publik tumpul oleh hoaks yang dikemas rapi.
Independensi dan Keberlanjutan
Tentu saja, idealisme butuh fondasi ekonomi yang kuat. Keberlanjutan ekosistem media di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Regulasi Publisher Rights yang telah berjalan harus dipastikan manfaatnya benar-benar sampai ke ruang redaksi, bukan hanya menjadi pemanis di atas kertas. Media harus mandiri agar tidak mudah didikte oleh kepentingan politik maupun pemilik modal yang ingin membungkam suara kritis.
Penutup
Menutup momentum HPN 2026 ini, saya ingin mengajak rekan-rekan jurnalis untuk kembali ke khittah: menulis untuk publik, bukan untuk algoritma. Jangan biarkan layar ponsel menjauhkan pembaca dari kebenaran yang hakiki.
Tugas kita belum selesai. Selama masih ada ketidakadilan, selama itu pula tinta jurnalis tidak boleh kering. Selamat Hari Pers Nasional 2026. Teruslah menyuarakan kebenaran dengan kepala tegak.
Penulis: Aga Gustiana, Redaktur Pelaksana bukamata.id
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










