bukamata.id – Gemuruh di Stadion Segiri, Samarinda, pada Minggu (10/5/2026) sore, bukan sekadar menandai berakhirnya laga El Clasico Indonesia. Lebih dari itu, peluit panjang wasit Firdavs Norsafarov menjadi lonceng peringatan bagi seluruh kontestan BRI Super League bahwa sang raja bertahan, Persib Bandung, sedang berlari kencang menuju gerbang sejarah.
Kemenangan tipis 2-1 atas Persija Jakarta tidak hanya sekadar soal gengsi rivalitas abadi. Tambahan tiga poin ini membuat Maung Bandung mengemas 75 poin, unggul tiga angka dari pesaing terdekatnya, Borneo FC. Dengan sisa dua laga di depan mata, Persib kini berada di ambang hattrick juara—sebuah pencapaian yang belum pernah dirasakan klub manapun di era liga profesional Indonesia modern.
Awal Musim yang Terseok dan Keraguan yang Sirna
Jika ditarik ke belakang, perjalanan musim 2025/2026 tidaklah semulus yang dibayangkan. Di pekan-pekan awal, Persib sempat tampil tidak konsisten. Kehilangan beberapa poin krusial di laga kandang sempat memunculkan riak-riak ketidakpuasan di kalangan Bobotoh. Namun, perlahan tapi pasti, mesin Maung Bandung mulai panas. Memasuki paruh musim, momentum kebangkitan itu tiba hingga akhirnya sukses menyalip Borneo FC di puncak klasemen.
Spesialis “Remontada” dan Mentalitas Bandung
Satu hal yang paling menonjol dari skuad musim ini adalah “Bandung Mentality”. Persib bukan lagi tim yang mudah runtuh saat tertinggal. Musim ini, Maung Bandung berkali-kali mencatatkan remontada atau aksi comeback yang luar biasa. Tertinggal lebih dulu lewat gol Alaaeddine Ajaraie di menit ke-20, Persib tidak panik dan berbalik unggul lewat dua gol Adam Alis.
Pengamat sepak bola, Eko Maung, menilai fenomena ini murni karena kekuatan mental yang sudah matang.
“Ini murni tentang mental ya. Mental Bandung udah terbentuk. Yang paling nyata ini deh, kita comeback dari ketinggalan 2-0 kan dua kali ya di ajang ACL, berarti kan di luar negeri itu di kandang lawan juga itu yang kemarin, terus yang berikutnya yang kemarin kalah 2-0 dari Bhayangkara jadi 4-2. Jadi ini murni mental ya,” ujar Eko Maung kepada bukamata.id, Minggu (10/5/2026).
Tangan Dingin Bojan Hodak
Dibalik performa impresif ini, ada sosok Bojan Hodak yang dingin dan taktis. Pelatih asal Kroasia ini tahu betul cara mengelola kedalaman skuadnya yang bertabur bintang seperti Thom Haye hingga Layvin Kurzawa. Usai laga melawan Persija, Hodak dengan jujur mengakui bahwa kemenangan ini diraih dengan perjuangan yang sangat melelahkan secara psikis dan fisik.
“Saya sudah katakan sebelumnya bahwa ini tidak akan menjadi pertandingan yang indah, ini akan menjadi laga yang sangat sulit, ini bukan tipe pertandingan yang terbaik untuk dinikmati, tetapi sangat menguras tenaga, kerja keras,” kata Hodak dalam konferensi pers pascalaga.
Bagi Hodak, kemenangan adalah soal efisiensi dan momen individu yang tepat. Ia secara khusus memberikan kredit kepada sang pahlawan kemenangan.
“Pada akhirnya kemenangan pertandingan melalui Adam (Alis) yang hari ini tampil sangat menginspirasi. Kami senang dengan raihan tiga poin ini dan sekarang fokus ke pertandingan berikutnya,” pungkasnya.
Skuad yang “Terlalu Mewah”
Keunggulan Persib musim ini juga diakui karena kedalaman materi pemain yang dianggap berada di atas level rata-rata liga domestik. Eko Maung menyebutkan bahwa kegagalan di level Asia justru menjadi berkah tersembunyi bagi Persib untuk mendominasi kompetisi lokal.
“Secara kemampuan fisik, kemampuan teknis kan udah pada bagus ya, merata ya di atas rata-rata lah. Dan squad ini terlalu bagus memang, buat ukuran liga Indonesia karena kan squad ini kan dipersiapkan untuk level Asia. Nah, ketika di Asia gugur udah bisa fokus di liga ya jomplang lah sama kontestan lain. Ini udah terlalu bagus gitu. Apalagi mental yang bagus ditambah pengalaman jam terbang ya, udah deh, paling bagus squad musim ini plus mentalnya,” tambah Eko.
Kesimpulan: Takdir di Tangan Sendiri
Kemenangan dramatis di Samarinda telah mengubah peta persaingan menjadi sangat jelas: Persib Bandung kini memegang penuh kendali atas nasib mereka sendiri. Unggul tiga poin dengan sisa dua pertandingan melawan tim papan bawah berarti Maung Bandung hanya membutuhkan konsistensi serupa untuk mengunci gelar.
Lebih dari sekadar statistik poin, musim ini menjadi pembuktian bahwa kekuatan sebuah tim tidak hanya dibangun di atas kertas melalui skuad mewah, melainkan ditempa melalui mentalitas pantang menyerah yang telah mendarah daging. Persib telah menunjukkan bahwa mereka mampu bangkit dari keterpurukan awal musim, membalikkan keadaan di laga-laga sulit, dan tetap tenang di bawah tekanan tensi tinggi El Clasico.
Kini, trofi BRI Super League sudah tampak di depan mata. Jika langkah ini tak terhenti di dua laga pamungkas, sejarah hattrick juara bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang akan menempatkan generasi Persib saat ini ke dalam buku sejarah sepak bola Indonesia selamanya. Kota Bandung sedang bersiap, dan takdir seolah sedang bersiap menyambut sang raja untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









