Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Peta Dunia Resmi Berubah: Tampilan Afrika Makin Luas, Amerika dan Eropa Menyusut

Rabu, 9 September 2026 12:19 WIB

Hari Kedua Pencarian Speedboat di Selat Sunda, 5 Jurnalis Belum Ditemukan

Rabu, 9 September 2026 12:07 WIB

Debut di Persib Langsung Jadi Starter, Ikwan Ali Tanamal Akui Ada Tekanan Besar

Rabu, 9 September 2026 11:52 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Peta Dunia Resmi Berubah: Tampilan Afrika Makin Luas, Amerika dan Eropa Menyusut
  • Hari Kedua Pencarian Speedboat di Selat Sunda, 5 Jurnalis Belum Ditemukan
  • Debut di Persib Langsung Jadi Starter, Ikwan Ali Tanamal Akui Ada Tekanan Besar
  • Tak Bergerak! Harga Emas Antam, UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini
  • Bukan Cuma Soal Otot, Ustaz Riza Muhammad Akhirnya Bongkar Pria di Balik Video Gym yang Viral
  • Anak Krakatau Kembali Meletus, Sensor Seismograf Catat Getaran Erupsi 28 Detik
  • Cek Ramalan Zodiak Hari Ini: Aries Mesti Jaga Lisan, Taurus Jangan Gegabah, Gemini Siap-siap Senyum
  • Hasil Liga Champions: Real Madrid Tekuk Inter Milan 2-1 di Santiago Bernabeu
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 9 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Peta Dunia Resmi Berubah: Tampilan Afrika Makin Luas, Amerika dan Eropa Menyusut

By Aga GustianaRabu, 9 September 2026 12:19 WIB2 Mins Read
Peta Dunia. (Foto: wikipedia)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Langkah mendasar dalam menyajikan gambaran dunia kembali diambil oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lewat dukungan dari 164 negara anggota, sebuah resolusi yang diusung sejumlah negara Afrika resmi disahkan untuk mengadopsi peta dunia baru berbasis proyeksi Equal Earth. Langkah ini secara signifikan mengoreksi tampilan visual benua Afrika menjadi jauh lebih luas, sekaligus menyesuaikan ukuran kawasan Amerika Utara dan Eropa agar sesuai dengan proporsi sebenarnya.

Meskipun disokong mayoritas, kebijakan ini mendapat penolakan dari Amerika Serikat, sementara enam negara lainnya memilih untuk abstain. Resolusi tersebut secara terbuka mendorong seluruh negara untuk meninggalkan peta proyeksi Mercator—model kartografi buatan Gerardus Mercator tahun 1569 yang awalnya difungsikan untuk navigasi pelayaran.

“Peta memandu pendidikan, menumbuhkan imajinasi, dan memengaruhi persepsi kolektif. Karenanya peta tak pernah netral. Ketika peta menyajikan gambaran planet kita yang terdistorsi, ada risiko melestarikan representasi tidak akurat yang diwariskan dari generasi ke generasi,” cetus Menlu Togo, Robert Dussey.

Di sisi lain, perwakilan dari Amerika Serikat menyampaikan kritik keras atas pengesahan ini dan menganggap pembahasan tersebut kurang relevan dengan fokus utama PBB.

“Alih-alih fokus pada masalah-masalah yang sesungguhnya, badan ini malah memperdebatkan proyeksi peta dari abad ke-16,” ujar perwakilan AS, Yaryna Ferencevych.

Secara teknis, peta Mercator dirancang untuk mempertahankan akurasi sudut dan bentuk daratan, tetapi memiliki kelemahan fatal pada skala luas area akibat kerumitan meratakan permukaan bumi yang bulat ke media datar. Dampaknya, kawasan di sekitar kutub utara seperti Amerika Serikat dan Eropa tampak melar secara tidak proporsional, sedangkan wilayah di sekitar garis khatulistiwa justru terlihat menyusut.

Hadir sebagai solusi sejak 2018, proyeksi Equal Earth yang dirancang oleh tim kartografer modern menawarkan pembagian rasio daratan yang lebih presisi untuk wilayah Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, hingga Oseania.

“Equal Earth mempertahankan perbandingan luas permukaan benua-benua dan berupaya semaksimal mungkin menunjukkan bentuk aslinya seperti yang terlihat pada bola dunia,” ungkap salah satu kartografer tersebut, Bojan Savric.

Komitmen untuk berpindah dari peta konvensional ini salah satunya ditunjukkan oleh Prancis. Negara tersebut mengonfirmasi akan segera menghentikan penggunaan skema Mercator di lembaga pemerintahan dan pendidikannya.

“Dalam peta tersebut Amerika Serikat, Rusia, dan China tampak memiliki dominasi visual yang tidak proporsional dibanding Afrika, Amerika Latin, atau Asia Tenggara, sementara Greenland terlihat nyaris sebesar Afrika,” jelas Menlu Prancis, Jean Noel Barrot yang dikutip dari AFP.

Langkah diplomatik Prancis ini dipandang sebagai bagian dari pendekatan baru untuk merajut kembali relasi serta diplomasi dengan negara-negara di benua Afrika.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Peta Dunia Baru Peta Mercator Proyeksi Equal Earth
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Hari Kedua Pencarian Speedboat di Selat Sunda, 5 Jurnalis Belum Ditemukan

Anak Krakatau Kembali Meletus, Sensor Seismograf Catat Getaran Erupsi 28 Detik

Kemarau Panjang Meluas: 72 Ribu Warga di 14 Kecamatan Purwakarta Kesulitan Air Bersih

Penghuni Paling Misterius Muncul Lagi di Hutan Kalimantan

Bansos

Jangan Terlewat! 6 Bansos Masih Cair September 2026, Cek PKH dan BPNT

Gunung Anak Krakatau

BMKG Pastikan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Tak Lagi Capai Jakarta

Terpopuler
  • Video Kasir Indomaret 7 Menit Viral, Waspada Link ‘Full’ Palsu
  • Link Full 7 Menit Kasir Indomaret Viral, Benarkah Videonya Ada?
  • Suara Mirip Bass Bergema dari Bandung Hingga Purwakarta, Dikaitkan Erupsi Anak Krakatau
  • Jangan Asal Klik! Link Full 7 Menit Kasir Indomaret Viral Bisa Bawa Bahaya
  • FSP BPD SI Tolak Pengalihan Payroll ASN ke Himbara, Warning Risiko PHK dan Anjloknya Ekonomi Daerah
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.