bukamata.id – Ramai di media sosial yang menampilkan rekaman para siswi sedang mengantre di toilet sekolah untuk melakukan tes kehamilan.
Sekolah yang melakukan tes kehamilan kepada siswi itu salah satunya terjadi di Sekolah Menengah Atas (SMA) Sulthan Baruna, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Menanggapi hal ini, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kestra), Alissa Qotrunnada Wahid menilai bahwa praktik tersebut merupakan bentuk diskriminasi terhadap perempuan.
“Itu diskriminasi terhadap perempuan, walaupun niatnya baik ya. Tapi tes kehamilan itu kan sesuatu yang sangat privat, mengandung unsur kesakitan, dan kekerasan,” ucap Alissa dikutip laman NU Online, Senin (27/1/2025).
Alissa mengatakan bahwa pihak sekolah tidak percaya kepada para siswinya, sehingga justru membawa iklim atau penilaian yang sangat tidak baik kepada pihak sekolah.
“Berarti pihak sekolah itu tidak percaya sama sekali kepada murid-muridnya, ketidakpercayaan itu sendiri sudah membawa iklim sangat tidak baik di sekolah,” ungkapnya.
Alissa mengungkapkan bahwa anak-anak perlu tumbuh dalam kondisi dan situasi yang mereka dipercaya.
“Anak-anak kita perlu tumbuh dalam kondisi yang dipercaya,” ujarnya.
Alissa menyebut, anak-anak perlu tumbuh dalam kondisi dan situasi yang dipercaya, maka mereka dapat mengambil keputusan berbagai hal dengan baik.
“Anak-anak kita perlu tumbuh dalam kondisi yang dipercaya, karena kalau dia (anak) dipercaya, dia (anak) bisa mengambil keputusan dengan baik,” imbuhnya.
Alissa menegaskan, semua tes kehamilan dan keperawanan bagi perempuan, maupun tes keperjakaan kepada laki-laki, merupakan hal yang tidak boleh dilakukan karena sifatnya sangat privasi.
“Tidak boleh tes keperjakaan, tes keperawanan, tes kehamilan. Itu hal yang sangat privat dan tidak selayaknya dilakukan seperti itu,” tegasnya.
Alumnus Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mengatakan bahwa pihak sekolah seharusnya membantu para siswanya melindungi diri dengan cara memberikan edukasi kesehatan reproduksi dan seks.
“Kalau pihak sekolah ingin agar anak-anak ini menjaga dirinya, bantu mereka untuk menjaga dirinya, bukan dengan melakukan tes-tes kehamilan atau tes keperawanan,” tandasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











