bukamata.id – Jumlah korban meninggal akibat tertimbun reruntuhan Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur bertambah menjadi lima orang. Dua jenazah terbaru berhasil ditemukan tim SAR gabungan pada Rabu (1/10/2025).
Sementara itu, lima korban lainnya berhasil diselamatkan meski dalam kondisi luka. Proses evakuasi santri dan warga masih terus dilakukan hingga memasuki hari ketiga pascakejadian.
Data Korban Terbaru: 5 Meninggal, 23 Luka Berat, 75 Luka Ringan
Kepala Badan SAR Nasional, Marsekal Madya TNI M. Syafeii, menyampaikan bahwa pihaknya belum bisa memastikan berapa orang masih terjebak di bawah reruntuhan.
“Saya tidak bisa menjawab jumlah yang terperangkap. Angka 91 [orang] itu belum bisa dipastikan,” ujarnya.
BNPB sendiri sempat merilis data awal bahwa ada 91 orang diduga tertimbun, namun kemudian diperbarui menjadi 59 orang berdasarkan daftar absensi pondok pesantren serta laporan keluarga korban.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menambahkan, hingga Rabu malam terdapat 23 korban luka berat dan 75 korban luka ringan.
“Semuanya sudah bisa ditangani dengan baik,” ujarnya.
Tim SAR Berpacu dengan Waktu dalam Golden Time 72 Jam
Basarnas menegaskan saat ini evakuasi masuk dalam periode krusial atau golden time 72 jam, di mana peluang korban selamat masih terbuka lebar.
“Kita mengejar golden time. Begitu bisa menyentuh korban, kita bisa suplai minuman, vitamin, bahkan infus sehingga mereka bisa bertahan lebih lama,” kata M. Syafeii di lokasi kejadian.
Emi Freezer, Kasubdit Pengarahan dan Pengendalian Operasi Basarnas, menambahkan bahwa petugas berusaha menyalurkan suplemen melalui celah kecil reruntuhan.
“Kami hanya bisa deliver makanan dan minuman melalui pilar utama yang retak,” jelasnya.
Tantangan Evakuasi: Reruntuhan Seperti Jaring Laba-Laba
Proses evakuasi korban Ponpes Al Khoziny tidak bisa dilakukan dengan menggunakan alat berat. Struktur bangunan yang roboh digambarkan seperti jaring laba-laba, sehingga sedikit getaran bisa memicu runtuhan lanjutan.
“Struktur penyangga totally collapse. Jika salah satu titik disentuh, getarannya bisa merambat ke semua sektor. Karena itu, kami harus hati-hati dan memaksimalkan penyelamatan korban dengan cara manual,” papar Emi.
Tim SAR kini juga tengah membuat terowongan kecil (tunnel) di bawah reruntuhan untuk menjangkau korban yang tidak bisa bergerak sama sekali karena terhimpit struktur bangunan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











