bukamata.id – Situasi berbahaya kini harus dihadapi puluhan pelajar di wilayah perbatasan Desa Karangpapak dan Desa Cikelat, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Setiap hari, anak-anak tingkat sekolah dasar hingga menengah pertama terpaksa melintasi jembatan gantung yang kondisinya nyaris roboh demi bisa berangkat dan pulang sekolah.
Jembatan tersebut membentang di atas aliran sungai berbatu dengan arus yang cukup deras. Kerusakan parah terlihat jelas, terutama di bagian fondasi. Salah satu sisi penyangga jembatan ambruk, membuat struktur utama kehilangan keseimbangan. Akibatnya, lantai jembatan dari kayu miring tajam ke satu arah dan hanya tersisa kabel baja sebagai pegangan.
Meski membahayakan nyawa, jembatan itu tetap menjadi satu-satunya akses penghubung antarwilayah. Warga dan pelajar tidak memiliki alternatif lain selain meniti kabel baja yang kondisinya sudah kendur dan berkarat.
Dalam sebuah rekaman video yang ramai beredar di media sosial, tampak sejumlah pelajar berseragam hijau-putih berjalan perlahan di atas jembatan yang miring. Mereka berpegangan erat pada kabel sambil melangkah hati-hati. Dari kejauhan, warga terlihat memantau dengan raut cemas.
“Awas, hati-hati! Jangan lari, pelan-pelan saja!” teriak seorang warga memperingatkan anak-anak tersebut.
Suasana semakin menegangkan ketika suara derasnya aliran sungai di bawah jembatan terdengar jelas, seolah menegaskan risiko besar yang setiap saat mengintai.
Kondisi ini dibenarkan oleh Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cisolok, Andri Firmansyah. Ia menyebut telah melakukan pengecekan langsung ke lokasi bersama Ketua BPD Desa Cikelat, Agus, untuk memastikan tingkat kerusakan jembatan.
“Hari ini kami melakukan asesmen terhadap jembatan rusak penghubung Desa Karangpapak dan Desa Cikelat,” ujar Andri.
Menurutnya, jembatan tersebut memiliki peran vital bagi aktivitas warga. Tidak hanya digunakan sebagai jalur pendidikan bagi anak-anak sekolah, tetapi juga menjadi akses utama perekonomian masyarakat setempat.
“Jembatan ini dipakai anak-anak sekolah, baik SD maupun SMP. Selain itu, di Kampung Sukabakti terdapat sekitar 40 Kepala Keluarga (KK) yang kini terisolasi. Jembatan ini juga menjadi akses utama para petani menuju lahan mereka,” jelasnya.
Dari hasil pemeriksaan, kerusakan jembatan diduga kuat disebabkan oleh fondasi batu kali yang tergerus aliran sungai serta kondisi tanah yang tidak stabil. Material penyangga terlihat bergeser dan runtuh ke tepi sungai, membuat posisi jembatan menggantung tanpa tumpuan yang aman.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat untuk memperbaiki jembatan tersebut. Kekhawatiran terbesar mereka adalah jatuhnya korban jiwa, mengingat jembatan itu masih terus digunakan setiap hari oleh anak-anak dan warga.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










