Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Persib, Persija, Persebaya Langsung Diuji! Ini Jadwal Perdana Super League 2026/2027

Kamis, 6 Agustus 2026 04:00 WIB

Bansos Agustus 2026 Cair! PKH, BPNT hingga Beras 30 Kg Siap Disalurkan, Cek Nama Anda Sekarang

Kamis, 6 Agustus 2026 03:00 WIB
Game Free Fire

Klaim Sekarang! Deretan Kode Redeem FF Terbaru 6 Agustus 2026, Buruan Ambil Hadiah Gratisnya

Kamis, 6 Agustus 2026 01:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Persib, Persija, Persebaya Langsung Diuji! Ini Jadwal Perdana Super League 2026/2027
  • Bansos Agustus 2026 Cair! PKH, BPNT hingga Beras 30 Kg Siap Disalurkan, Cek Nama Anda Sekarang
  • Klaim Sekarang! Deretan Kode Redeem FF Terbaru 6 Agustus 2026, Buruan Ambil Hadiah Gratisnya
  • 16 Bakal Calon Presidium MW KAHMI Jabar Jalani Verifikasi, Siapkan Pemimpin Baru Periode 2026-2031
  • Prediksi Persib vs Persebaya Final Piala Presiden 2026: Mariano Peralta Starter atau Jadi Senjata Kejutan?
  • Kabar Baik! 33 Juta Warga Bakal Terima Bantuan Beras 30 Kg, Cek Apakah Anda Termasuk
  • Pecah Tangis Ruben Onsu! Akhirnya Buka Suara Soal Perceraian hingga Ucapan ‘Anak Pungut’ Onyo
  • Bukan Pemain Pelapis! Umuh Ungkap Kualitas Skuad Persib yang Bikin Lawan Ketar Ketir
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 6 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Skandal Emas Digital di China: Puluhan Ribu Investor Terjebak, Dana Triliunan Menguap

By Aga GustianaRabu, 4 Februari 2026 11:09 WIB2 Mins Read
Ilustrasi emas digital. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pasar emas digital China diguncang badai besar setelah platform investasi JieWoRui (JWR Group) kolaps secara mendadak. Ribuan investor ritel dibuat panik ketika akses penarikan dana diblokir, sementara emas fisik yang selama ini dijanjikan ternyata tidak bisa diwujudkan.

Skala kerugian dalam kasus ini mencengangkan. Laporan South China Morning Post menyebutkan nilai dana nasabah yang membeku menembus 10 miliar yuan, setara sekitar Rp24 triliun. Bahkan, sejumlah estimasi lain memperkirakan total potensi kerugian bisa mencapai 19 miliar dolar AS, menjadikan runtuhnya JWR sebagai salah satu skandal emas terbesar di China dalam beberapa tahun terakhir.

Ironisnya, krisis ini terjadi saat harga emas dunia sedang menanjak tajam. Lonjakan tersebut mendorong investor ritel beralih ke emas digital, yang dianggap lebih praktis, cepat diperdagangkan, dan mudah dicairkan. Namun euforia itu berubah menjadi mimpi buruk ketika ribuan pengguna melakukan penarikan bersamaan. Tekanan likuiditas membuat JWR kewalahan dan gagal memenuhi kewajibannya.

Alih-alih mengembalikan dana atau menyerahkan emas fisik, perusahaan hanya menawarkan skema kompensasi sekitar 20 persen dari total nilai investasi. Tawaran ini memicu kemarahan investor yang merasa ditipu oleh sistem yang selama ini tampak aman di atas kertas.

Hasil penelusuran awal mengungkap akar masalah yang serius. Sebagian besar “emas” yang tercatat dalam sistem JWR ternyata hanya berbentuk angka digital, tanpa jaminan cadangan fisik yang sebanding. Dengan kata lain, emas yang diyakini dimiliki investor belum tentu benar-benar ada di brankas mana pun.

Kasus ini juga membuka kelemahan besar dalam sistem pengawasan keuangan China. Platform seperti JWR bisa beroperasi tanpa status resmi sebagai bank, broker, maupun pedagang komoditas yang diawasi ketat. Ketika penarikan massal terjadi, ketimpangan antara kewajiban dan aset langsung terbongkar, memicu krisis kepercayaan yang menyebar cepat.

Dampaknya terasa luas. Minat terhadap emas digital anjlok, sementara permintaan emas fisik justru melonjak tajam. Pemerintah China pun bergerak cepat dengan memperketat pengawasan dan mulai menertibkan platform investasi daring yang dinilai berisiko tinggi.

Bagi investor di Indonesia, runtuhnya JieWoRui menjadi alarm keras. Meski emas digital sering dipromosikan sebagai solusi investasi modern, faktor keamanan tetap bergantung pada transparansi cadangan, audit independen, serta tata kelola yang jelas. Investor perlu memastikan emas benar-benar tersedia secara fisik, dapat ditarik kapan saja, dan seluruh risiko dijelaskan sejak awal.

Skandal JieWoRui kembali menegaskan satu prinsip lama di dunia investasi: teknologi bisa mempercepat transaksi, tetapi tanpa kepercayaan dan transparansi, inovasi keuangan justru bisa berubah menjadi bencana dalam sekejap.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

emas digital emas fisik Investasi Emas JieWoRui JWR Group krisis investasi Penipuan Investasi skandal emas China
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Game Free Fire

Klaim Sekarang! Deretan Kode Redeem FF Terbaru 6 Agustus 2026, Buruan Ambil Hadiah Gratisnya

Pecah Tangis Ruben Onsu! Akhirnya Buka Suara Soal Perceraian hingga Ucapan ‘Anak Pungut’ Onyo

Pendaftaran Magang Kemenkeu 2026 Batch 2 Resmi Dibuka, Simak Syarat dan Jadwalnya

SIG Luncurkan Kembali Semen Kujang, Gandeng Persib Bandung Lewat Kerja Sama Tiga Tahun

Cek penerima PIP 2025

Panduan Lengkap Cara Daftar PIP Kemendikdasmen 2026: Syarat, Alur, dan Cek Status

Cara War Tiket Upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka dan Jadwal Pendaftarannya

Terpopuler
  • FOTO: Dedikasi Tanpa Batas Tim Medis Mengawal Keselamatan Laga Piala Presiden 2026
  • Pengelola Harian SixNine Buka Suara soal Dugaan Penebangan Pohon di Jalan Riau: Kami Hanya Jalankan Operasional
  • Cara Nonton Link Live Streaming Persib vs Tampines Rovers Malam Ini di Piala Presiden 2026
  • Gebrakan atau Kontroversi? Polemik Hadiah Tangkap Begal ala Dedi Mulyadi di Tengah Resah Warga Jabar
  • Timnas Indonesia Bungkam Timor Leste dan Kuasai Puncak Klasemen Piala AFF 2026
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.