bukamata.id – Gubernur Jawa Barat terpilih 2025-2030, Dedi Mulyadi menyoroti kegiatan study tour yang akan dilaksanakan SMA Negeri 6 Depok ke Bali.
“Saya pagi hari ini baca berita ada orang tua yang keberatan terhadap kegiatan study tour di SMA Negeri 6 Depok dengan biaya Rp3,5 juta,” ucap Dedi dikutip dari Instagram pribadinya, Sabtu (15/2/2025).
“Kalau ditambah uang saku katanya dan biaya jajan dan yang lainnya bisa Rp5,5 juta per orangnya atau Rp4,5 juta,” lanjutnya.
Dedi menjelaskan bahwa study tour merupakan sebuah orientasi berpikir yang bisa digunakan untuk dunia pendidikan, dengan mengarahkan anak-anak melakukan pengkajian, penelitian pada sebuah tempat yang dikunjungi.
“Kalau kita mau fokus pada kalimat study tour maka sebenarnya gampang, sampah di Depok menjadi masalah besar itu bisa menjadi rangkaian studi,” ungkapnya.
“Dimana anak-anak jurusan biologi atau jurusan IPA saat ini bisa menggunakan metodologi bakteri sebagai pengurai sampah dengan menggunakan Y4. Sehingga sampah diurai sejak di rumah, yang plastiknya karena tidak bisa diurai bisa digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang produktif lainnya,” tambahnya.
Dedi mengatakan, sekolah bisa menggerakkan siswanya melakukan penelitian ke setiap rumah untuk mengajarkan bagaimana memilih sampah organik, anorganik sehingga tidak menjadi masalah di masyarakat.
Bukan hanya itu, sekolah juga bisa mengajak para siswanya untuk pergi study tour ke industri-industri yang ada di sekitarnya.
“Mempelajari percepatan proses produksi bagaimana menggunakan robot sebagai kekuatan teknologi hari ini, bagaimana proses produksi membuat minyak goreng misalnya dari hulu sampai hilir, membuat motor dari hulu sampai hilir, tekstil dari hulu sampai hilir, industri-industri lainnya, nah ini bisa menjadi bahan kajian, bahan study,” bebernya.
Oleh karena itu, Dedi memandang jika study tour hanya ditujukan pergi ke tempat-tempat rekreatif maka disebut piknik atau berwisata.
“Tapi kalau pergi ke Bali, pergi ke tempat-tempat rekreatif itu namanya sudahlah enggak usah pakai kalimat studi-studian, itu namanya wisata, piknik,” ungkapnya.
Dedi pun tidak melarang setiap masyarakat untuk pergi berwisata. Hanya saja, yang tidak boleh adalah kegiatan tersebut dijadikan sebuah kebijakan pada sebuah lembaga pendidikan formal.
“Boleh setiap orang berhak piknik? Boleh banget dan itu hak setiap orang tetapi tidak boleh dilembagakan menjadi kebijakan pada sebuah lembaga pendidikan formal, di mana orang-orangnya adalah orang-orang akademis yang pernah kuliah, baik S1 maupun S2,” jelasnya.
Dedi mengatakan, saat ini dirinya belum bisa mengeluarkan sebuah kebijakan yang mengatasnamakan gubernur Jabar. Karena itu, dirinya pun mengimbau agar kepala sekolah SMA Negeri 6 Depok untuk membatalkan kegiatan study tour tersebut.
“Memang saya belum dilantik ya, dilantiknya tanggal 20 Februari hari Kamis yang akan datang tahun 2025. Jadi saya hanya bersifat himbauan belum bisa membuat sesuatu yang tertulis menjadi keputusan gubernur,” imbuhnya.
“Untuk itu saya meminta pada kepala sekolah SMA Negeri 6 Depok mudah-mudahan beritanya tidak salah, tunda ya, atau engga usah deh ya studi tour-nya. Gunakan uangnya untuk kepentingan yang lain. Kalau orang tuanya yang mampu ya silahkan aja piknik bersama keluarganya,” tandasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











