bukamata.id – Di tengah hamparan lahan berlumpur yang membentang di kawasan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sebuah pemandangan yang tak biasa baru-baru ini menyita perhatian dunia maya. Bukan pemandangan petani dengan caping yang sedang mencangkul, melainkan sosok pekerja perkebunan yang melayang di udara, digantungkan pada sebuah pesawat nirawak (drone) berukuran masif. Video yang diunggah oleh akun TikTok @mbahkaruhon.tiktok.com1 ini seketika viral, memicu gelombang kekaguman sekaligus perdebatan di kolom komentar.
Siapa sangka, alat yang lazimnya digunakan untuk menyemprotkan pestisida atau menebar benih dari angkasa, kini bertransformasi menjadi “ojek” udara bagi para petani. Di balik video berdurasi singkat yang ditonton jutaan kali tersebut, tersimpan cerita tentang inovasi, kebutuhan mendesak, hingga tantangan modernisasi pertanian di Indonesia.
Solusi di Tanah yang Sulit Dijangkau
Di balik layar kesuksesan video viral tersebut adalah Budianto (47), Direktur PT Bina Tani Makmur Jombang. Pria ini adalah sosok di balik operasional perkebunan yang memanfaatkan teknologi drone tersebut. Saat dihubungi, Budianto menceritakan bahwa penggunaan teknologi canggih ini bukanlah sekadar pamer kemewahan atau mencari sensasi belaka. Ada realitas pahit di lapangan yang memaksa mereka berpikir kreatif.
“Akses jalannya ini sulit dilalui kendaraan, soalnya memang tidak ada jalan,” ujar Budianto. Lahan di Merakurak yang mereka kelola merupakan tanah milik tuan tanah yang belum pernah tersentuh penggarapan. Kondisinya adalah lahan berlumpur yang terletak di dekat kawasan pantai. Bagi petani, membawa perlengkapan pertanian seperti pupuk atau bibit ke sana adalah ujian fisik yang berat.
Ide menggunakan helikopter sempat terlintas, namun segera ditepis karena regulasi izin yang rumit dan biaya yang fantastis. Akhirnya, mereka melirik drone pertanian berkapasitas besar. Dengan harga yang setara dengan mobil SUV tipe Fortuner—berkisar Rp320 juta hingga Rp350 juta per unit—alat ini menjadi solusi paling masuk akal untuk mengatasi medan yang ekstrem.
Modifikasi Kreatif untuk Efisiensi
Awalnya, drone ini didatangkan murni untuk tujuan agrikultur: menyemprotkan pestisida dan mendistribusikan air. Namun, seiring berjalannya waktu, Budianto dan timnya mulai memodifikasi alat tersebut. “Itu kan muatannya bisa sampai 150 liter air. Nah, tandon airnya kita copot, lalu kita pasang tali tambang untuk mengikat pupuk atau bibit,” jelas Budianto.
Langkah ini ternyata berdampak besar pada produktivitas. Selain memangkas waktu pengangkutan yang bisa memakan tenaga berjam-jam, teknologi ini juga menjadi daya tarik bagi regenerasi petani. Budianto mengungkapkan fakta menarik bahwa anak-anak muda di daerahnya sering kali enggan terjun langsung ke lapangan jika harus bergelut dengan pupuk kandang yang berbau menyengat.
Dengan memfasilitasi drone, para pekerja muda bersedia mengoperasikan mesin sebagai operator, sementara tugas-tugas “berat” seperti menangani pupuk kandang diserahkan kepada petani senior yang sudah terbiasa. “Anak muda itu kita tarik untuk kerja di sini. Kalau difasilitasi drone, mereka mau karena tidak harus bersentuhan langsung dengan kohe (kotoran ternak),” tambah Budianto.
Antara Iseng dan Realitas Keselamatan
Video viral yang memperlihatkan seorang kepala pekerja area terbang diangkut drone sejauh 1,5 kilometer sebenarnya bermula dari keisengan. Budianto mengaku ingin mengetes kemampuan drone tersebut dalam menopang beban manusia. Meski drone mampu mengangkat beban hingga 150 kg, Budianto tetap mengedepankan aspek keselamatan dengan menerbangkan satu orang saja secara perlahan.
Respons netizen pun sangat beragam. Di kolom komentar, kekaguman bercampur dengan kekhawatiran. “Keren banget bapak, hati-hati ya,” ujar salah satu netizen. Adapula yang menanggapinya dengan nada jenaka, “Pinjam pak, buat menerobos macetnya Malang!” Namun, tak sedikit pula yang mengingatkan potensi bahaya. “It’s strictly prohibited, jangan ditiru ya teman-teman semua yang punya drone besar untuk pertanian,” tulis komentar lainnya.
Budianto sadar sepenuhnya bahwa drone tersebut memang tidak dirancang untuk mengangkut manusia. Oleh karena itu, ia hanya memperbolehkan pekerja yang bersedia saja untuk “terbang”, sementara yang lain tetap berjalan kaki.
Respon Pemerintah dan Masa Depan Pertanian
Viralnya video ini menarik perhatian Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Dalam konferensi pers di Jakarta, Amran tidak lantas memarahi, melainkan justru mengapresiasi kreativitas tersebut. Bagi Amran, ini adalah bukti bahwa petani Indonesia mulai melek teknologi.
“Itu cukup kreatif. Yang penting tidak jatuh, tidak membahayakan. Tapi kalau drone-nya setinggi dua jengkal dari atas tanah, itu menarik juga dipakai pulang,” ujar Amran dengan nada santai.
Lebih jauh, Amran melihat ada peluang masa depan yang lebih besar. Ia berencana mengembangkan penggunaan drone berkapasitas besar untuk membantu petani mengangkut hasil panen, terutama gabah, dari lahan-lahan yang belum memiliki jalan usaha tani. Amran sendiri mengaku sedang meneliti inovasi ini dan telah memiliki dua hak paten selama menjabat sebagai menteri.
“Nanti yang tidak ada jalan usaha tani, ngangkut gabah pakai drone. Setelah tanam pakai drone, tapi itu tahap berikutnya,” kata Amran.
Tantangan Modernisasi
Kisah di Merakurak ini menjadi potret mini tantangan pertanian Indonesia. Di satu sisi, ada kebutuhan akan efisiensi dan teknologi tinggi untuk mengatasi kondisi geografis yang sulit. Di sisi lain, penggunaan teknologi ini harus tetap dalam koridor keamanan.
Transformasi dari cangkul dan kerbau ke drone dan AI tentu bukan perjalanan yang mudah. Biaya yang mahal, ketergantungan pada suku cadang, hingga kebutuhan akan operator yang terampil menjadi sederet tantangan yang harus dijawab. Namun, apa yang dilakukan Budianto membuktikan bahwa inovasi tidak selalu datang dari laboratorium di kota besar, melainkan bisa lahir dari sawah-sawah di pelosok yang butuh solusi instan untuk masalah yang menahun.
Pada akhirnya, video drone yang membawa petani ini bukan sekadar konten hiburan yang numpang lewat di lini masa. Ia adalah pesan bahwa pertanian masa depan Indonesia sedang bergerak ke arah yang lebih mekanis, lebih efisien, dan mungkin, sedikit lebih “mengudara”. Selama keselamatan tetap menjadi prioritas, kreativitas petani dalam mengadopsi teknologi adalah api semangat yang harus terus dijaga agar pertanian Indonesia tidak tertinggal zaman.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










