bukamata.id – Di Dusun Cibeureum, Desa Balokang, Kota Banjar, Jawa Barat, hidup keluarga Kar’an dan Tati seperti hidup di ujung kesabaran. Selama lebih dari tiga tahun, mereka bertahan di sebuah gubuk reyot bersama 11 anggota keluarga. Dinding bilik bambu lapuk dan atap bocor menjadi saksi bisu perjuangan sehari-hari mereka—tempat di mana ketiga keluarga hidup berdesakan, tidur di lantai tanah, dan bertahan dengan makanan seadanya.
“Kadang kami hanya makan singkong. Kalau ada uang, beli beras. Kalau tidak, ya makan apa yang ada,” ungkap Kar’an, 64 tahun, sambil menatap cucu-cucunya yang bermain di sudut rumah. Ia mengaku sedih melihat anak dan cucunya hidup dalam kekurangan, terutama setelah bantuan beras dari pemerintah berhenti beberapa bulan terakhir.
Kisah pilu keluarga ini akhirnya sampai ke telinga Hartono Soekwanto, pengusaha asal Bandung yang dikenal sebagai “Bos Koi”. Tergerak oleh berita dan unggahan media sosial, Hartono tak menunggu lama. Ia langsung datang ke lokasi, dan hatinya tersentuh melihat kondisi gubuk yang nyaris roboh itu.
“Aduh Bapak, Ibu, saya khawatir melihat rumahnya. Izin saya bangunkan rumah ya. Sekarang lebih baik tinggal di kontrakan dulu sambil menunggu rumah selesai,” kata Hartono kepada keluarga Kar’an pada Rabu (22/10/2025).
Tidak sekadar janji, Hartono segera menyewakan kontrakan agar keluarga Kar’an bisa tinggal dengan aman dan nyaman selama proses pembangunan rumah baru. Langkah ini memberi mereka rasa aman yang selama ini hilang.
“Saya sekarang merasa lega rumah lama yang nyaris sudah dirobohkan, rumah baru kita bangun, untuk sementara agar tenang Ibu dan bapak tinggal di kontrakan dulu selama proses pembangunan,” tutur Hartono.
Bagi Hartono, aksi ini hanyalah awal dari niatnya menebar kebaikan bagi mereka yang membutuhkan. “Saya ingin menebar kebaikan. Semoga mereka bisa sukses dan suatu hari juga bisa membantu orang lain,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi warga dan pihak pemerintah Desa Balokang, yang ikut membantu proses pembangunan rumah.
“Saya ucapkan terima kasih untuk semua warga dan unsur pemerintah Desa Balokang Kecamatan Banjar, yang juga bahu membahu membantu membangun rumah pak Kar’an,” tambah Hartono.
Pembangunan rumah baru ini menjadi buah dari kolaborasi berbagai pihak. Baznas Kota Banjar memberikan bantuan awal sebesar Rp10 juta melalui program rumah tidak layak huni (Rutilahu), Hartono menyumbang Rp25 juta, dan Jabar Bergerak bertindak sebagai fasilitator.
Kini, meski rumah baru belum sepenuhnya selesai, keluarga Kar’an telah menapaki babak baru dalam hidup mereka. Dari gubuk reyot dan perjuangan sehari-hari, mereka mulai merasakan kehangatan rumah layak, keamanan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Kisah ini bukan sekadar tentang pembangunan fisik, tetapi tentang kemanusiaan, kepedulian, dan solidaritas. Dari tangan seorang pengusaha hingga gotong royong warga, terlihat bahwa kebaikan bisa menyalakan harapan bahkan di hati yang paling rapuh sekalipun.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










