bukamata.id – Riuh rendah jalanan Kota Bandung selalu menyimpan cerita tentang mereka yang tersisih. Di sudut-sudut trotoar, di antara deru mesin kendaraan dan kepulan asap knalpot, ada raga-raga yang menua dan lelah, berjuang demi sesuap nasi. Seringkali, keberadaan mereka luput dari pandangan mata, dianggap angin lalu oleh para pelaju yang berkejaran dengan waktu. Namun, bagi seorang pria muda berseragam dinas kepolisian lengkap dengan atribut Korps Profesi dan Pengamanan (Propam), langkah kakinya justru sengaja berhenti di tempat orang-orang ini bersandar.
Ia adalah Briptu Rifqi Madhivan. Nama aslinya mungkin baru terdengar akrab akhir-akhir ini di jagat maya, namun melalui akun Instagram miliknya, @r.madhivan, ia telah menularkan gelombang kehangatan yang menyentuh hati jutaan netizen. Rifqi bukanlah polisi biasa yang sekadar menjalankan tugas patroli rutin. Di balik ketegasan seragam Propam yang lazimnya identik dengan penegakan disiplin internal dan pengawasan ketat anggota kepolisian, Rifqi menyimpan sejuta empati. Senjatanya di jalanan bukan lagi sekadar peluit atau surat tilang, melainkan sebuah tas ransel besar berisi peralatan cukur rambut, sisir, pembersih wajah, hingga membelikan pakaian baru.
Aksi kemanusiaan yang dilakukannya menjadi oase di tengah stigma kaku aparat penegak hukum. Rifqi memilih turun ke jalan, mendekati para lansia yang telantar, pemulung yang memikul beban hidup, hingga tukang parkir yang bermandikan keringat, untuk memberikan sebuah hadiah sederhana namun bermakna mendalam: sebuah makeover penampilan untuk mengembalikan martabat mereka sebagai manusia.
Sentuhan Humanis di Taman Kopo Indah: Memanusiakan Sang Kakek Penjual Tisu
Cerita viral ini bermula ketika Briptu Rifqi tengah melintas di kawasan Taman Kopo Indah, Bandung. Pandangannya terhenti pada seorang kakek lansia yang duduk termenung di pinggir jalan. Pakaian kakek itu tampak usang, rambut dan jenggot putihnya tumbuh panjang tak teratur, mencerminkan betapa kerasnya hari-hari yang telah ia lalui. Di sampingnya, terdapat kantong plastik berisi barang dagangan berupa tisu, penanda bahwa di usia senjanya, ia masih harus memeras keringat demi menyambung hidup.
Rifqi menurunkan kecepatan kendaraannya, lalu menghampiri kakek tersebut. Dengan sikap yang sangat santun—membungkukkan badan dan menyejajarkan posisinya—Rifqi mulai mengajak sang kakek mengobrol. Di sanalah sebuah kenyataan getir terungkap. Ternyata, lansia tersebut adalah seorang tuna netra. Kedua matanya tidak dapat melihat sama sekali akibat penyakit katarak parah yang dideritanya. Kenyataan ini membuat hati Rifqi terenyuh. Bagaimana bisa seorang kakek yang tidak melihat harus berjuang sendirian di kerasnya jalanan kota?
“Pak, maaf, berkenan saya rapihin dari atas sampai bawah? Siap?” tanya Rifqi dengan lembut sembari menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya sebagai tanda hormat.
Sang kakek sempat tertegun, namun kebaikan yang tulus dari suara Rifqi meruntuhkan keraguannya. Kakek itu mengangguk setuju. Detik itu juga, “eksekusi gaskeun”—jargon khas yang kerap disematkan dalam videonya—dimulai. Di atas sebuah kursi plastik sederhana di pinggir jalan, Rifqi mulai membuka tas peralatannya. Jemari tangannya yang biasa memegang dokumen kedinasan dengan cekatan mulai memainkan clipper (mesin cukur) dan gunting.
Rambut kakek yang tadinya kusut dan gondrong perlahan terpangkas rapi. Jenggot panjang yang tak terawat dicukur bersih hingga menyisakan kumis yang tertata. Tak berhenti di situ, Rifqi membersihkan sisa-sisa rambut di wajah sang kakek dengan tisu basah dan memberikan perawatan wajah instan agar kulitnya terasa segar kembali. Perubahan itu begitu drastis. Wajah sang kakek yang semula tampak layu dan penuh beban, kini memancarkan aura yang bersih, segar, dan jauh lebih muda.
Namun, transformasi tersebut belum usai. Menyadari pakaian yang dikenakan sang kakek sudah sangat tidak layak, Rifqi menuntun kakek tuna netra itu berjalan perlahan, memegangi tangannya dengan penuh kehati-hatian, menuju sebuah pusat perbelanjaan terdekat. Di sana, Rifqi membelikan pakaian baru—sebuah kaus polo hitam yang modis, celana panjang hitam, hingga jaket kulit tiruan bergaya keren lengkap dengan kacamata hitam. Ketika sang kakek keluar dari lift mengenakan pakaian baru tersebut, penampilannya berubah total bak seorang model senior yang kharismatik.
Sebagai penutup hari yang indah itu, Rifqi mengajak sang kakek makan bersama di sebuah restoran, menyuapinya dengan sabar, dan mengajaknya ke pusat perbelanjaan modern untuk memborong bahan-bahan kebutuhan pokok (sembako) seperti beras, minyak goreng, dan susu. Sebuah pelayanan total yang bukan sekadar mengubah fisik, tapi mengembalikan senyum dan kebahagiaan yang mungkin sudah lama hilang dari hidup sang kakek.
Kejar-kejaran di Leuwi Panjang dan Patroli Tegalega
Aksi humanis Briptu Rifqi tidak berhenti di Taman Kopo Indah saja. Dalam potongan video lainnya, Rifqi menunjukkan komitmennya yang konsisten saat melakukan patroli di kawasan Leuwi Panjang, Bandung. Di tengah padatnya arus lalu lintas, ia mendapati seorang juru parkir dengan rambut yang sangat gondrong dan tidak terawat.
Menariknya, aksi kali ini diwarnai momen menggelikan sekaligus mengharukan. Ketika situasi lalu lintas mulai kondusif, Rifqi mencoba berjalan mendekati sang tukang parkir. Namun, melihat seorang polisi Propam bertubuh tegap berjalan cepat ke arahnya, sang tukang parkir justru ketakutan dan langsung mengambil langkah seribu alias lari terbirit-birit. Terjadilah aksi kejar-kejaran singkat di trotoar jalanan Bandung. Rifqi mengejarnya bukan untuk menangkap, melainkan untuk merangkul.
Setelah berhasil menghentikan langkah sang tukang parkir yang terengah-engah, Rifqi segera menenangkan pria tersebut dan menjelaskan maksud baiknya.
“Bang, maaf sebentar. Saya cuma mau rapihin dari atas sampai bawah. Gimana, siap?” ucap Rifqi meyakinkan.
Setelah tercapai kesepakatan lewat jabatan tangan, sang tukang parkir pun pasrah. Di depan sebuah ruko dengan pintu harmonika hijau, Rifqi kembali beraksi. Rambut gondrong sang tukang parkir dipangkas dengan gaya rambut modern yang rapi. Rifqi bahkan membersihkan wajahnya dengan sabun pembersih khusus pria (facial wash) untuk mengangkat minyak berlebih dan mencerahkan kulitnya yang kusam akibat sengatan matahari jalanan. Setelah selesai, juru parkir tersebut juga dibawa ke gerai pakaian ternama untuk diganti bajunya menjadi lebih modis.
Cerita serupa kembali terulang saat Rifqi berpatroli di kawasan Taman Tegalega. Kali ini sasaran kebaikannya adalah seorang pemulung muda yang kedapatan sedang mengais tempat sampah dengan karung besar di pundaknya. Sama seperti tukang parkir di Leuwi Panjang, pemulung ini juga sempat panik dan mencoba kabur saat dihampiri. Namun, pendekatan persuasif dan ketulusan hati Rifqi lagi-lagi berhasil melunakkan kecurigaan. Pemulung yang semula berpenampilan kotor dan kusam itu disulap menjadi pria muda yang rapi, bersih, dan tampak jauh lebih percaya diri setelah dicukur dan diajak berbelanja pakaian baru.
Gelombang Pujian dan Sisi Humis Polri di Mata Netizen
Video-video yang diunggah oleh akun @r.madhivan ini pun langsung menjadi viral dan memicu gelombang respons positif dari masyarakat luas. Di tengah berbagai dinamika dan tantangan institusi kepolisian dalam menjaga citra di masyarakat, apa yang dilakukan oleh Briptu Rifqi seolah menjadi pembuktian bahwa masih banyak anggota Polri yang berhati emas dan tulus mengabdi kepada masyarakat dari hati ke hati.
Kolom komentar di akun Instagram-nya langsung dibanjiri pujian, doa, hingga komentar-komentar jenaka dari netizen yang terhibur sekaligus terharu:
“Sehat sehat ndan kamu baik hati,” tulis salah seorang netizen yang mendoakan kesehatan bagi sang polisi.
“Bpk polisi seperti ini sungguh baik semoga berbuat baik terus ya pak amalan untuk din akhirat,” timpal netizen lain, memberikan apresiasi atas nilai spiritual dari aksi sosial ini.
Tak ketinggalan, ada pula komentar menggelitik yang mengundang tawa, “Pa raziaaa suami saya rambutnya udah gondrong,” canda seorang netizen perempuan.
Bagi masyarakat, transformasi yang dilakukan Rifqi bukan sekadar urusan estetika atau memotong rambut agar terlihat tampan. Lebih dari itu, aksi ini adalah bentuk pemulihan martabat kemanusiaan (human dignity). Kaum marginal seperti kakek tuna netra, tukang parkir, dan pemulung seringkali dianggap “tak terlihat” oleh sistem sosial perkotaan. Dengan memberikan mereka potongan rambut yang rapi, baju yang bersih, dan makanan yang layak, Briptu Rifqi sedang mengirimkan pesan kuat kepada mereka: “Anda berharga, Anda manusia yang layak dihormati.”
Melalui gerakan sederhana yang konsisten ini, Briptu Rifqi Madhivan telah mendefinisikan ulang arti dari tugas seorang pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Penegakan disiplin tidak harus selalu berwajah sangar; ia bisa tampil dalam wujud sepasang tangan yang telaten memegang gunting cukur, demi mengukir senyum di wajah-wajah yang lelah di pinggiran jalan Kota Kembang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










