bukamata.id – Aktivitas olahraga Ustaz Riza Muhammad kembali menjadi perbincangan di media sosial. Kali ini, unggahan yang memperlihatkan kegiatan berenang menuai beragam komentar dari warganet.
Sorotan muncul karena sebagian pengguna media sosial menilai konten kebugaran dan penampilan fisik Ustaz Riza lebih menonjol dibandingkan pesan dakwah yang selama ini melekat pada dirinya sebagai seorang pendakwah.
Perdebatan tersebut tidak hanya menyangkut aktivitas olahraga, tetapi juga cara berpakaian ketika berenang serta keputusan membagikan kegiatan personal di akun media sosial yang dikenal publik sebagai ruang berbagi dakwah.
Dalam salah satu unggahannya di Instagram, Ustaz Riza menjelaskan kegiatan renang yang dilakukannya sebagai alternatif olahraga ketika tidak pergi ke gym.
“Bismillah, renang salah satu olahraga yang dianjurin Rasul. Kegiatan sore ini libur gym dialihkan pada renang,” tulis Ustaz Riza Muhammad dalam unggahannya.
Meski demikian, unggahan tersebut justru memunculkan perdebatan. Sejumlah warganet mempertanyakan penampilannya ketika berenang, sedangkan pengguna lainnya menilai aktivitas olahraga tidak semestinya langsung menjadi persoalan selama dilakukan sesuai keyakinan dan batasan yang dianut masing-masing.
Konten Renang Ustaz Riza Muhammad Picu Perdebatan soal Aurat
Salah satu hal yang menjadi perhatian warganet adalah pakaian yang dikenakan Ustaz Riza ketika berenang. Perdebatan kemudian berkembang menjadi pembahasan mengenai batas aurat laki-laki dan ekspektasi masyarakat terhadap seorang pendakwah.
Komentar yang dikutip dari kolom Instagram @nyata_media memperlihatkan perbedaan pandangan tersebut.
“Aurat ustad aurat…iih gmn sih …,” tulis akun @mar***.
Sementara itu, akun lain memberikan pandangan berbeda mengenai pakaian yang dikenakan saat berenang.
“lah itu bukan aurat, dan berenang yaa emang gapake baju atau kalo emang pakai baju renang ya silahkan,” tulis akun @tan***.
Ada pula warganet yang mengkritik aktivitas renang tersebut dari sisi pelaksanaannya.
“Renang nya asal asalan,” tulis akun @erf***.
Beragam komentar itu menunjukkan bahwa unggahan yang sama dapat memunculkan penilaian berbeda. Sebagian warganet menyoroti persoalan aurat dan kepantasan, sedangkan yang lain memandang renang sebagai aktivitas olahraga yang tidak perlu dipersoalkan secara berlebihan.
Di tengah perdebatan tersebut, persoalan pakaian ketika berenang menjadi bagian dari diskusi yang lebih luas mengenai batas antara aktivitas pribadi dan citra publik seorang tokoh agama.
Ustaz Riza Muhammad Ungkap Alasan Rajin Gym
Sorotan terhadap aktivitas renang bukanlah kali pertama dialami Ustaz Riza Muhammad. Sebelumnya, kegiatan kebugarannya di gym juga menjadi bahan pembicaraan setelah sejumlah unggahan dan potongan video dirinya beredar di media sosial.
Aktivitas tersebut memunculkan kritik dari pengguna media sosial yang mempertanyakan dominasi konten olahraga dan penampilan fisik di akun seorang pendakwah.
Sebagian orang menilai aktivitas menjaga kebugaran merupakan hal wajar. Namun, ada pula yang berharap konten olahraga dipisahkan dari akun dakwah agar pesan keagamaan tetap menjadi fokus utama.
Menanggapi kritik tersebut, Ustaz Riza menjelaskan bahwa olahraga dilakukan untuk menjaga kesehatan dan memperbaiki kondisi tubuh. Ia juga memiliki pandangan tersendiri mengenai batas aurat laki-laki yang menjadi dasar keputusannya saat berenang.
Meski mengaku sempat merasa sedih karena berbagai komentar yang diterimanya, Ustaz Riza menyatakan tidak terlalu mempermasalahkan hujatan tersebut. Ia menyadari bahwa tidak mungkin membuat semua orang memiliki pandangan yang sama terhadap dirinya.
Sikap tersebut memperlihatkan bagaimana seorang figur publik harus menghadapi beragam respons atas aktivitas yang dibagikan ke ruang digital, termasuk ketika kegiatan yang dianggap biasa oleh pemilik akun justru memicu perdebatan di kalangan pengikutnya.
Konten Gym Sempat Dikaitkan dengan Tudingan Miring
Sebelum perdebatan mengenai aktivitas renang mencuat, nama Ustaz Riza Muhammad juga sempat ramai diperbincangkan setelah beredarnya potongan video ketika dirinya berada di gym bersama seorang pria.
Video lama tersebut disertai narasi yang memancing spekulasi mengenai kehidupan pribadi suami aktris Indri Giana itu. Perbincangan kemudian berkembang hingga muncul tudingan mengenai orientasi seksualnya.
Ustaz Riza membantah tudingan tersebut dan menyebut narasi yang beredar sebagai fitnah. Ia menilai potongan video yang kembali diunggah tanpa konteks utuh telah memunculkan pemberitaan yang menyakitkan bagi dirinya dan keluarga.
“Beritanya agak-agak ngawur ya, mulai dari pemberitaan yang sangat menyakitkan,” ujar Ustaz Riza kepada awak media, sebagaimana diberitakan sebelumnya pada September 2026.
Ia juga menjelaskan bahwa pria yang terlihat bersamanya dalam video tersebut merupakan asisten pribadinya. Menurut Ustaz Riza, asisten itu bahkan tinggal serumah bersama dirinya dan keluarga sehingga bukan sosok asing bagi sang istri.
“Lucunya lagi, yang dituduhkan lagi itu asisten yang tinggal serumah dan istri juga tahu (orangnya). Gimana sih orang-orang?” katanya.
Ustaz Riza menduga video lama tersebut kembali dimunculkan dengan narasi yang memancing spekulasi.
“Video bertahun-tahun lalu dimunculkan kembali dan dibikin narasi yang memancing,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa isu tersebut memberikan dampak emosional bagi keluarganya, terutama Indri Giana.
“Luar biasa menyakitkan, terutama istri. Ya bohong lah kalau tidak down,” ungkapnya.
Klarifikasi itu menjadi bagian dari respons Ustaz Riza terhadap narasi yang berkembang. Potongan video yang beredar di media sosial, tanpa konteks dan bukti yang memadai, tidak semestinya dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan mengenai kehidupan pribadi seseorang.
Antara Aktivitas Pribadi dan Ekspektasi terhadap Pendakwah
Perdebatan mengenai konten gym dan renang Ustaz Riza Muhammad memperlihatkan tantangan yang dihadapi figur publik di era media sosial.
Ketika seseorang dikenal sebagai pendakwah, masyarakat kerap memiliki ekspektasi tertentu terhadap perilaku, penampilan, dan konten yang dibagikan. Unggahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari pun dapat dinilai melalui sudut pandang profesi dan identitas yang melekat pada pemilik akun.
Di satu sisi, olahraga merupakan aktivitas untuk menjaga kebugaran yang dapat dilakukan siapa saja, termasuk seorang pendakwah. Konten olahraga juga dapat menjadi sarana berbagi pengalaman mengenai pola hidup sehat.
Di sisi lain, publik memiliki beragam pandangan mengenai cara seorang tokoh agama menampilkan dirinya di media sosial. Ada yang mengharapkan akun dakwah lebih banyak berisi pesan keagamaan, sementara yang lain tidak mempermasalahkan unggahan mengenai aktivitas personal selama tidak bertentangan dengan nilai yang diyakini.
Perbedaan pandangan tersebut menjadi semakin kompleks ketika kritik terhadap konten berkembang menjadi serangan pribadi atau tudingan yang belum terbukti.
Karena itu, penting untuk membedakan kritik terhadap konten yang dipublikasikan dengan penilaian terhadap kehidupan pribadi seseorang. Kritik dapat disampaikan tanpa harus membangun spekulasi atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Bagi Ustaz Riza Muhammad, aktivitas gym dan renang merupakan bagian dari kesehariannya untuk menjaga kebugaran. Namun, ketika aktivitas itu dibagikan kepada publik, respons yang muncul tidak selalu sesuai dengan harapan pemilik akun.
Pada akhirnya, perdebatan ini bukan hanya soal olahraga atau pakaian ketika berenang. Kasus tersebut juga memperlihatkan bagaimana media sosial mempertemukan kehidupan pribadi, identitas profesi, keyakinan, dan ekspektasi publik dalam satu ruang yang sama.
Di tengah perbedaan pendapat, ruang digital tetap membutuhkan sikap kritis sekaligus bertanggung jawab. Masyarakat dapat menyampaikan ketidaksetujuan terhadap sebuah konten tanpa mengabaikan konteks dan tanpa mengubah kritik menjadi tudingan yang merugikan orang lain.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










