bukamata.id – Rencana investasi berskala raksasa untuk pembangunan fasilitas pusat data berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) milik BDx CGK 4 di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, terpaksa tertahan. Proyek bernilai fantastis ini wajib melewati serangkaian uji ketat menyusul temuan sejumlah variabel krusial yang belum tuntas diverifikasi secara ilmiah.
Sorotan tajam tersebut dilayangkan langsung oleh Peneliti Ahli Madya Kecerdasan Artifisial Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dini Fronitasari. Hal itu diungkapkannya dalam Rapat Pembahasan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Proyek Data Center AI Jatiluhur yang dihelat di Aula Janaka, Kompleks Pemkab Purwakarta, pada Senin (5/10/2026).
Dalam forum tersebut, Dini membeberkan empat poin variabel vital yang wajib mendapatkan garansi keamanan serta ikatan tertulis sebelum izin pembangunan resmi diketok palu:
- Neraca Air Musim Kemarau: Mengingat Jatiluhur merupakan wilayah sumber daya air strategis, penggunaan air untuk pendingin server dipastikan tidak boleh mengorbankan kebutuhan warga maupun sektor pertanian. Penggunaan teknologi closed-loop cooling system direkomendasikan untuk menekan kebutuhan air hingga 90 persen.
- Stabilitas Kelistrikan: Kebutuhan daya masif untuk komputasi AI harus dikalkulasi secara matang agar tidak mengganggu keandalan sistem kelistrikan di Purwakarta dan Jawa Barat secara keseluruhan.
- Pengelolaan Limbah Elektronik: Siklus operasional pusat data berpotensi menghasilkan limbah elektronik (e-waste) serta baterai secara kontinu. BRIN menuntut kejelasan skema daur ulang sejak tahap awal.
- Manfaat Nyata bagi Warga Lokal: Keberadaan infrastruktur digital ini dituntut tidak sekadar menyerap tenaga kerja saat konstruksi, melainkan turut membangun ekosistem teknologi yang inklusif bagi masyarakat setempat.
“Air bersih yang mengalir ke rumah warga sekitar harus lebih dulu daripada kepentingan server. Kemudian jaminan irigasi di musim kemarau. Kita pengennya tidak hanya lokasi data center, tapi ekosistem AI itu ada di Purwakarta, termasuk adanya akses kapasitas komputasi untuk mendukung riset dan pengembangan teknologi lokal,” tegas Dini selepas rapat, Senin (5/10/2026).
Di sisi lain, BRIN tidak menampik bahwa kebutuhan akan infrastruktur komputasi AI merupakan keniscayaan di era digital saat ini. Berdasarkan proyeksi, kapasitas pusat data nasional yang kini berada di angka 580 MW diprediksi melonjak hingga 3,5 GW pada tahun 2030 mendatang.
Kawasan Jatiluhur sendiri dilirik karena memiliki pasokan daya listrik terkontrak mencapai 845 MVA. Kendati demikian, potensi ekonomi tersebut harus dibarengi mitigasi ekologis yang ketat.
“Kita bukan menolak, bukan juga menerima, tapi masih menguji, saya siap mendukung proyek tersebut asalkan keempat syarat krusial di atas terverifikasi, mengikat secara tertulis, dan memiliki batas waktu yang jelas,” tambahnya.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Purwakarta memastikan bahwa proses perizinan masih berada di fase awal dan belum menghasilkan keputusan final. Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein mengungkapkan, forum yang digelar baru sebatas pemaparan dari pihak pengembang, PDAM, dan konsultan, yang kemudian dievaluasi oleh tim ahli independen termasuk BRIN.
“Ini belum ada kesimpulan. Tadi baru menyampaikan dari pemrakarsa, dari data center, PDAM, kemudian dari konsultannya. Setelah itu disampaikan pendapat dan pertanyaan dari tim ahli yang kita undang, termasuk juga dari BRIN,” jelas Saepul.
Ia menegaskan, dokumen AMDAL saat ini masih menjadi instrumen uji kelayakan, sehingga penerbitan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) masih membutuhkan jalan panjang. Pemkab Purwakarta memastikan bakal bersikap objektif dan tidak berkompromi terhadap aspek kelestarian lingkungan.
“Belum, masih jauh. PBG-nya juga belum. AMDAL itu nanti untuk bahan sertifikasi,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










