bukamata.id – Gelombang spekulasi masih menyelimuti kasus video asusila yang mengguncang publik di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Rekaman berdurasi 13 menit 17 detik yang memperlihatkan sepasang remaja di sebuah kamar dengan sprei merah motif floral tersebut sempat memicu kegaduhan besar setelah narasi liar menghubungkannya dengan kegiatan akademis mahasiswa.
Awalnya, isu yang berkembang di platform WhatsApp menyebutkan bahwa pemeran dalam video tersebut adalah peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN). Namun, setelah dilakukan penelusuran mendalam, klaim tersebut mulai rontok satu per satu.
Kronologi Munculnya Framing Negatif
Isu ini pertama kali mencuat dengan mencatut nama sebuah posko KKN di Desa Lenek, Lombok Timur. Informasi yang simpang siur ini semakin keruh setelah adanya pernyataan dari pihak desa yang membenarkan kehadiran mahasiswa KKN di wilayah tersebut hingga berakhirnya masa tugas pada 5 Februari 2026.
Meski demikian, pihak Universitas Mataram (Unram) dengan cepat mengambil langkah tegas untuk memutus rantai disinformasi ini. Melalui pernyataan resmi, kampus memastikan bahwa pelaku dalam rekaman tersebut sama sekali bukan bagian dari sivitas akademika mereka.
Bantahan Keras dan Dampak Psikologis
Mahasiswi berinisial AJP, yang namanya terseret sebagai tertuduh pemeran wanita, secara terbuka melakukan pembelaan diri. Didampingi Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS), ia membantah keterlibatannya dalam video yang merusak reputasinya tersebut.
“Saya berani bersumpah, bukan saya di dalam video tersebut,” tegas AJP dalam keterangannya di depan Satgas PPKS.
Ketua LPPM Unram, Andi Chairil Ichsan, menyatakan bahwa tudingan tersebut adalah bentuk framing jahat yang menyasar mahasiswa KKN tanpa dasar bukti yang kuat. Fokus kampus saat ini adalah memulihkan kondisi mental AJP yang terguncang akibat perundungan di media sosial.
“Kami lebih fokus ke pemulihan si adik itu terlebih dahulu,” tutur Andi Chairil, sembari memastikan bahwa pihak kampus memberikan pendampingan psikologis penuh.
Penyelidikan Kepolisian Tetap Berjalan
Meski Universitas Mataram telah merilis bantahan, aparat kepolisian tidak serta merta menghentikan proses investigasi. Polres Lombok Timur tetap berkomitmen untuk mengungkap siapa dalang di balik penyebaran konten tersebut serta memastikan kebenaran di balik narasi yang beredar.
Kasatreskrim Polres Lombok Timur, Iptu Arie Kusnandar, menjelaskan bahwa pihaknya sedang melacak jejak digital pengunggah pertama.
“Kami tetap melakukan penelusuran (penyelidikan) terkait kebenaran video tersebut, meskipun sudah ada klarifikasi dari pihak kampus,” pungkas Iptu Arie.
Pelajaran dari Kasus Misinformasi
Kasus ini menjadi potret nyata betapa berbahayanya penggabungan fakta yang tidak relevan (keberadaan mahasiswa KKN) dengan konten asusila untuk menciptakan berita bohong (hoax). Foto-foto mahasiswa yang melakukan kegiatan sosial diputarbalikkan narasinya hingga menimbulkan kerugian moral yang tak ternilai bagi korban yang tidak bersalah.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










