Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bikin Syok! Bebas Penjara, Setya Novanto Tiba-tiba Ikut Pesta K-Pop BTS Super Mewah!

Senin, 27 Juli 2026 10:35 WIB

Dikenalkan Bos Hartono, Ini Sosok Dr. Veronica yang Bikin Irfan Hakim Penasaran Soal Akupunktur Telinga

Senin, 27 Juli 2026 10:22 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 27 Juli 2026 Tetap Stabil, Cek Tarif Terbaru 24 Karat di Sini!

Senin, 27 Juli 2026 10:02 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bikin Syok! Bebas Penjara, Setya Novanto Tiba-tiba Ikut Pesta K-Pop BTS Super Mewah!
  • Dikenalkan Bos Hartono, Ini Sosok Dr. Veronica yang Bikin Irfan Hakim Penasaran Soal Akupunktur Telinga
  • Harga Emas Perhiasan Hari Ini 27 Juli 2026 Tetap Stabil, Cek Tarif Terbaru 24 Karat di Sini!
  • Persib Temukan Bintang Muda Baru? Rafi Rasyiq Resmi Tembus Skuad Utama
  • Bandung Tak Lagi Aman? Sisi Gelap Geng Begal Malam Hari dan Tekanan Ekonomi Modern!
  • Jadwal Kick-off Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026 Malam Ini
  • Alasan Kesehatan di Balik Mundurnya Perry Warjiyo dari Kursi Gubernur BI
  • Veda Ega Pratama Guncang Moto3 2026: Salip Rival Malaysia dan Incar 5 Besar Dunia
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 27 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Filosofi Munggahan: Lebih dari Sekadar Makan Bersama Menjelang Ramadhan

By Aga GustianaSabtu, 14 Februari 2026 13:06 WIB3 Mins Read
Ilustrasi munggahan. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Bagi masyarakat Sunda di Jawa Barat, datangnya bulan suci Ramadan bukan sekadar pergantian kalender ibadah. Ada sebuah ritus budaya yang seolah menjadi gerbang pembuka menuju bulan puasa, yakni Munggahan. Tradisi ini telah menjadi warisan turun-temurun yang menyatukan dimensi spiritualitas dengan kehangatan sosial dalam satu tarikan napas.

Namun, apa sebenarnya esensi di balik istilah yang sering kita dengar setiap tahun ini?

Menelisik Makna Spiritual “Naik Kelas”

Secara etimologi, istilah munggahan berakar dari kata dalam bahasa Sunda, yaitu unggah. Berdasarkan data dari kamus Sundadigi, unggah memiliki arti manjat atau naik menuju tempat yang posisinya lebih tinggi. Dalam konteks menyambut bulan suci, kata ini mengalami perluasan makna menjadi simbol transisi kualitas diri manusia.

Meninjau dari sudut pandang akademis, Tata Twin Prehatinia dan Widiati Isana dalam penelitian mereka di UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang bertajuk ‘Perkembangan Tradisi Keagamaan Munggahan Kota Bandung Jawa Barat Tahun 1990-2020’, menjelaskan kaitan historis istilah ini:

“Munggah berasal dari kata unggah yang berarti naik atau meningkat, yang konon pada zaman dahulu roh dan arwah nenek moyang atau kerabat yang sudah meninggal. Sesuai dengan pengertiannya, kata munggah tersirat arti perihal perubahan ke arah yang lebih baik yang berasal dari bulan sya’ban menuju bulan Ramadhan untuk meningkatkan kualitas iman kita saat sedang berpuasa dalam bulan Ramadhan.”

Dengan demikian, munggahan adalah sebuah pengingat bagi setiap individu untuk “naik kelas” secara batiniah, meninggalkan kebiasaan buruk di bulan Sya’ban demi mencapai derajat takwa yang lebih tinggi di bulan Ramadan.

Ragam Ritual Penyucian dan Kebersamaan

Munggahan biasanya mulai semarak sekitar seminggu hingga sehari sebelum fajar pertama puasa menyingsing. Kegiatannya sangat variatif, namun intinya adalah pembersihan. Secara fisik, masyarakat melakukan aksi bersih-bersih lingkungan rumah dan tempat ibadah. Secara sosial, mereka berkumpul untuk makan bersama (botram) guna mempererat tali silaturahmi.

Secara personal, banyak pula yang melakukan tradisi mandi besar sebagai simbol membasuh diri dari noda sebelum memasuki bulan yang suci. Selain itu, ziarah ke makam keluarga menjadi agenda wajib untuk mengirim doa sekaligus mengingat kematian.

Harmonisasi Budaya Sunda dan Ajaran Islam

Jika ditelisik secara tekstual, tidak ada perintah khusus dalam Al-Qur’an maupun Hadis yang menyebut kata “munggahan”. Tradisi ini merupakan produk akulturasi yang cerdas antara kearifan lokal Sunda dengan nilai-nilai Islam. Meski namanya lokal, aktivitas di dalamnya memiliki napas yang sangat agamis.

Sebagai contoh, ritual ziarah kubur yang identik dengan munggahan bersandar pada anjuran Rasulullah SAW:

“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah),” (HR. Hakim).

Begitu pula dengan kegiatan makan bersama yang mencerminkan semangat berbagi. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturahim… niscaya kalian akan masuk surga dengan sejahtera.” (HR. At-Tirmidzi).

Adaptasi Hukum Melalui Metode ‘Urf

Dalam studi antropologi Al-Qur’an di Jurnal Urwatul Wutsqo (2024), Alam Tarlam, dkk. memotret bagaimana Islam memandang tradisi lokal seperti munggahan di Subang, Jawa Barat. Dalam Islam, terdapat metode ‘urf—yaitu penetapan hukum berdasarkan kebiasaan masyarakat selama tidak bertabrakan dengan prinsip tauhid dan ibadah murni (mahdhah).

“Penetapan hukum yang didasarkan atas kebiasaan setempat (‘urf) ini tentu tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar syariat dan hanya digunakan dalam bidang muamalah,” tulis Alam Tarlam, dkk.

Para peneliti mengategorikan munggahan sebagai bentuk adaptive-complement (تهميل), di mana Islam menerima dan menyempurnakan tradisi yang sudah ada.

“Sikap ini ditunjukkan dengan adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang menerima dan melanjutkan keberadaan tradisi tersebut serta menyempurnakan aturannya,” tambah mereka dalam jurnal tersebut.

Pada akhirnya, munggahan adalah cermin betapa indahnya keberagaman budaya di Nusantara yang mampu berjalan beriringan dengan ketaatan beragama.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Akulturasi Islam Sunda budaya sunda Persiapan Ramadan Sejarah Munggahan Tradisi Munggahan ziarah kubur
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 27 Juli 2026 Tetap Stabil, Cek Tarif Terbaru 24 Karat di Sini!

Kena Batunya? Influencer Endang Yustika Senggol Warga Threads, Berujung Dirujak Se-Indonesia!

Bye Akun Palsu! Facebook Verified Hadir, Cukup Pakai Video Selfie untuk Dapat Lencana

Buruan Klaim! 20 Kode Redeem FF Terbaru 26 Juli 2026 sebelum Kuota Habis

WhatsApp Tiba-Tiba Nge-Blank Lalu Keluar? Ini Penyebab dan Trik Ampuh Agar Normal Lagi

Kode Redeem FF 25 Juli 2026 Terbaru, Buruan Klaim Hadiah Gratis Weekend dari Garena Free Fire

Terpopuler
  • Korps Alumni KNPI Jabar Bentuk Badan Advokasi untuk Kawal Tata Kelola Pemerintahan dan Cegah Korupsi
  • Bali Is Not Your Home! Viral WNA Gelar Event Lari Ekslusif, Warga Lokal Dilarang Ikut?
  • Proyek PLTP Patuha Unit 2 Capai Fase Vital: Mobilisasi Komponen Generator Sukses Digelar
  • Birokrasi Dedi Mulyadi Terbukti Cacat Prosedur, PTUN Bandung Menangkan Aliansi Buruh Jabar
  • Praperadilan Eks Pengurus GKI Taman Cibunut: Polisi Beberkan Bukti Sah Penetapan Tersangka
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.