Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Dulu Dipuji Jadi Joki Karapan Kerbau, Kini Vebby Hananto Dihujat Gegara Polemik COP JRF

Rabu, 28 Oktober 2026 18:03 WIB

Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap

Rabu, 28 Oktober 2026 17:38 WIB

Demo Mahasiswa di DPRD Jabar Saat Sumpah Pemuda, Soroti Karhutla hingga MBG

Rabu, 28 Oktober 2026 16:47 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Dulu Dipuji Jadi Joki Karapan Kerbau, Kini Vebby Hananto Dihujat Gegara Polemik COP JRF
  • Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap
  • Demo Mahasiswa di DPRD Jabar Saat Sumpah Pemuda, Soroti Karhutla hingga MBG
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
  • Persib vs Melbourne Victory Malam Ini Tayang di Mana? Ini Jadwal dan Link Live Streaming
  • Sekolah Rasa Rumah Makan Sunda? SMAN 2 Subang Direnovasi Usai Sidak KDM
  • Siapa Mamita? Istri ‘Raja Sawer’ Haji AW yang Dikecam karena Sawer Uang dari Mobil
  • Prediksi Line Up Persib vs Melbourne Victory Malam Ini, Thom Haye dan Klok Kawal Lini Tengah
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 28 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Filosofi Munggahan: Lebih dari Sekadar Makan Bersama Menjelang Ramadhan

By Aga GustianaSabtu, 14 Februari 2026 13:06 WIB3 Mins Read
Ilustrasi munggahan. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Bagi masyarakat Sunda di Jawa Barat, datangnya bulan suci Ramadan bukan sekadar pergantian kalender ibadah. Ada sebuah ritus budaya yang seolah menjadi gerbang pembuka menuju bulan puasa, yakni Munggahan. Tradisi ini telah menjadi warisan turun-temurun yang menyatukan dimensi spiritualitas dengan kehangatan sosial dalam satu tarikan napas.

Namun, apa sebenarnya esensi di balik istilah yang sering kita dengar setiap tahun ini?

Menelisik Makna Spiritual “Naik Kelas”

Secara etimologi, istilah munggahan berakar dari kata dalam bahasa Sunda, yaitu unggah. Berdasarkan data dari kamus Sundadigi, unggah memiliki arti manjat atau naik menuju tempat yang posisinya lebih tinggi. Dalam konteks menyambut bulan suci, kata ini mengalami perluasan makna menjadi simbol transisi kualitas diri manusia.

Meninjau dari sudut pandang akademis, Tata Twin Prehatinia dan Widiati Isana dalam penelitian mereka di UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang bertajuk ‘Perkembangan Tradisi Keagamaan Munggahan Kota Bandung Jawa Barat Tahun 1990-2020’, menjelaskan kaitan historis istilah ini:

Baca Juga:  Meriah! Kirab Budaya Hari Jadi ke-80 Jawa Barat 2025 Semarakkan Bandung

“Munggah berasal dari kata unggah yang berarti naik atau meningkat, yang konon pada zaman dahulu roh dan arwah nenek moyang atau kerabat yang sudah meninggal. Sesuai dengan pengertiannya, kata munggah tersirat arti perihal perubahan ke arah yang lebih baik yang berasal dari bulan sya’ban menuju bulan Ramadhan untuk meningkatkan kualitas iman kita saat sedang berpuasa dalam bulan Ramadhan.”

Dengan demikian, munggahan adalah sebuah pengingat bagi setiap individu untuk “naik kelas” secara batiniah, meninggalkan kebiasaan buruk di bulan Sya’ban demi mencapai derajat takwa yang lebih tinggi di bulan Ramadan.

Ragam Ritual Penyucian dan Kebersamaan

Munggahan biasanya mulai semarak sekitar seminggu hingga sehari sebelum fajar pertama puasa menyingsing. Kegiatannya sangat variatif, namun intinya adalah pembersihan. Secara fisik, masyarakat melakukan aksi bersih-bersih lingkungan rumah dan tempat ibadah. Secara sosial, mereka berkumpul untuk makan bersama (botram) guna mempererat tali silaturahmi.

Secara personal, banyak pula yang melakukan tradisi mandi besar sebagai simbol membasuh diri dari noda sebelum memasuki bulan yang suci. Selain itu, ziarah ke makam keluarga menjadi agenda wajib untuk mengirim doa sekaligus mengingat kematian.

Baca Juga:  bank bjb Dukung Penuh West Java Festival 2025: Wujud Harmoni Budaya dan Inovasi Digital

Harmonisasi Budaya Sunda dan Ajaran Islam

Jika ditelisik secara tekstual, tidak ada perintah khusus dalam Al-Qur’an maupun Hadis yang menyebut kata “munggahan”. Tradisi ini merupakan produk akulturasi yang cerdas antara kearifan lokal Sunda dengan nilai-nilai Islam. Meski namanya lokal, aktivitas di dalamnya memiliki napas yang sangat agamis.

Sebagai contoh, ritual ziarah kubur yang identik dengan munggahan bersandar pada anjuran Rasulullah SAW:

“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah),” (HR. Hakim).

Begitu pula dengan kegiatan makan bersama yang mencerminkan semangat berbagi. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturahim… niscaya kalian akan masuk surga dengan sejahtera.” (HR. At-Tirmidzi).

Baca Juga:  Makna Filosofis Logo Hari Jadi ke-80 Jawa Barat, Berikut Link Download

Adaptasi Hukum Melalui Metode ‘Urf

Dalam studi antropologi Al-Qur’an di Jurnal Urwatul Wutsqo (2024), Alam Tarlam, dkk. memotret bagaimana Islam memandang tradisi lokal seperti munggahan di Subang, Jawa Barat. Dalam Islam, terdapat metode ‘urf—yaitu penetapan hukum berdasarkan kebiasaan masyarakat selama tidak bertabrakan dengan prinsip tauhid dan ibadah murni (mahdhah).

“Penetapan hukum yang didasarkan atas kebiasaan setempat (‘urf) ini tentu tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar syariat dan hanya digunakan dalam bidang muamalah,” tulis Alam Tarlam, dkk.

Para peneliti mengategorikan munggahan sebagai bentuk adaptive-complement (تهميل), di mana Islam menerima dan menyempurnakan tradisi yang sudah ada.

“Sikap ini ditunjukkan dengan adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang menerima dan melanjutkan keberadaan tradisi tersebut serta menyempurnakan aturannya,” tambah mereka dalam jurnal tersebut.

Pada akhirnya, munggahan adalah cermin betapa indahnya keberagaman budaya di Nusantara yang mampu berjalan beriringan dengan ketaatan beragama.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

budaya sunda
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Dulu Dipuji Jadi Joki Karapan Kerbau, Kini Vebby Hananto Dihujat Gegara Polemik COP JRF

Siapa Mamita? Istri ‘Raja Sawer’ Haji AW yang Dikecam karena Sawer Uang dari Mobil

Dianggap ‘B Aja’ oleh Warganet, Jawaban Menohok Aiswarya Pandit Buat Juri Mister International Nyesel?

Harga Emas Antam Hari Ini 28 Oktober 2026 Naik Rp 20.000, Cek Daftarnya

Ilustrasi Sate

Wisata Kuliner Ciamis 2026: 5 Makanan Khas Tatar Galuh yang Wajib Dicoba

Topeng ‘Sultan Dermawan’ Retak? Aisar Khaled Diisukan Bawa Kabur Uang Rp5,7 Miliar

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Lomba Coding SD-SMP 2026 Dibuka, Siswa Ditantang Bikin Solusi Bencana Alam
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.