Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

NIK KTP Jadi Kunci! Begini Cara Cek Bansos September 2026 Lewat HP

Jumat, 11 September 2026 03:00 WIB
Dapatkan saldo DANA gratis hanya dengan bermain game, tukarkan poin dengan uang cash.

Klaim Saldo DANA Gratis 11 September 2026: Intip Cara Resmi dan Peluang Cuan Hari Ini

Jumat, 11 September 2026 02:00 WIB
Game Free Fire

Banjir Reward! Deretan Kode Redeem FF 11 September 2026 dan Cara Klaim Cepatnya

Jumat, 11 September 2026 01:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • NIK KTP Jadi Kunci! Begini Cara Cek Bansos September 2026 Lewat HP
  • Klaim Saldo DANA Gratis 11 September 2026: Intip Cara Resmi dan Peluang Cuan Hari Ini
  • Banjir Reward! Deretan Kode Redeem FF 11 September 2026 dan Cara Klaim Cepatnya
  • Pernyataan soal Nabi Muhammad Picu Kegaduhan, Abah Setu Akhirnya Minta Maaf
  • Head-to-Head Persija vs Persib: GBK Jadi Saksi Saling Tahan
  • Buntut Tegur Pendaki Ilegal, Pos Simaksi Gunung Gede Pangrango Dirusak dan Petugas Dianiaya
  • Kiper Muda Persib Tantang Atmosfer Panas GBK, Fitrah Maulana Siap Buktikan Diri
  • Bukan Dibunuh ODGJ, Kakek di Garut Tewas di Tangan Pemabuk yang Tersinggung Saat Ditegur
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 11 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Filosofi Munggahan: Lebih dari Sekadar Makan Bersama Menjelang Ramadhan

By Aga GustianaSabtu, 14 Februari 2026 13:06 WIB3 Mins Read
Ilustrasi munggahan. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Bagi masyarakat Sunda di Jawa Barat, datangnya bulan suci Ramadan bukan sekadar pergantian kalender ibadah. Ada sebuah ritus budaya yang seolah menjadi gerbang pembuka menuju bulan puasa, yakni Munggahan. Tradisi ini telah menjadi warisan turun-temurun yang menyatukan dimensi spiritualitas dengan kehangatan sosial dalam satu tarikan napas.

Namun, apa sebenarnya esensi di balik istilah yang sering kita dengar setiap tahun ini?

Menelisik Makna Spiritual “Naik Kelas”

Secara etimologi, istilah munggahan berakar dari kata dalam bahasa Sunda, yaitu unggah. Berdasarkan data dari kamus Sundadigi, unggah memiliki arti manjat atau naik menuju tempat yang posisinya lebih tinggi. Dalam konteks menyambut bulan suci, kata ini mengalami perluasan makna menjadi simbol transisi kualitas diri manusia.

Meninjau dari sudut pandang akademis, Tata Twin Prehatinia dan Widiati Isana dalam penelitian mereka di UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang bertajuk ‘Perkembangan Tradisi Keagamaan Munggahan Kota Bandung Jawa Barat Tahun 1990-2020’, menjelaskan kaitan historis istilah ini:

Baca Juga:  Meriah! Kirab Budaya Hari Jadi ke-80 Jawa Barat 2025 Semarakkan Bandung

“Munggah berasal dari kata unggah yang berarti naik atau meningkat, yang konon pada zaman dahulu roh dan arwah nenek moyang atau kerabat yang sudah meninggal. Sesuai dengan pengertiannya, kata munggah tersirat arti perihal perubahan ke arah yang lebih baik yang berasal dari bulan sya’ban menuju bulan Ramadhan untuk meningkatkan kualitas iman kita saat sedang berpuasa dalam bulan Ramadhan.”

Dengan demikian, munggahan adalah sebuah pengingat bagi setiap individu untuk “naik kelas” secara batiniah, meninggalkan kebiasaan buruk di bulan Sya’ban demi mencapai derajat takwa yang lebih tinggi di bulan Ramadan.

Ragam Ritual Penyucian dan Kebersamaan

Munggahan biasanya mulai semarak sekitar seminggu hingga sehari sebelum fajar pertama puasa menyingsing. Kegiatannya sangat variatif, namun intinya adalah pembersihan. Secara fisik, masyarakat melakukan aksi bersih-bersih lingkungan rumah dan tempat ibadah. Secara sosial, mereka berkumpul untuk makan bersama (botram) guna mempererat tali silaturahmi.

Secara personal, banyak pula yang melakukan tradisi mandi besar sebagai simbol membasuh diri dari noda sebelum memasuki bulan yang suci. Selain itu, ziarah ke makam keluarga menjadi agenda wajib untuk mengirim doa sekaligus mengingat kematian.

Baca Juga:  Wacana Provinsi Sunda Menguat, DPRD Jabar Sepakati Pembahasan Resmi

Harmonisasi Budaya Sunda dan Ajaran Islam

Jika ditelisik secara tekstual, tidak ada perintah khusus dalam Al-Qur’an maupun Hadis yang menyebut kata “munggahan”. Tradisi ini merupakan produk akulturasi yang cerdas antara kearifan lokal Sunda dengan nilai-nilai Islam. Meski namanya lokal, aktivitas di dalamnya memiliki napas yang sangat agamis.

Sebagai contoh, ritual ziarah kubur yang identik dengan munggahan bersandar pada anjuran Rasulullah SAW:

“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah),” (HR. Hakim).

Begitu pula dengan kegiatan makan bersama yang mencerminkan semangat berbagi. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturahim… niscaya kalian akan masuk surga dengan sejahtera.” (HR. At-Tirmidzi).

Baca Juga:  Lautan Manusia Padati Gedung Sate, Kemeriahan Kirab Milangkala Tatar Sunda Sukses Hipnotis Warga Bandung

Adaptasi Hukum Melalui Metode ‘Urf

Dalam studi antropologi Al-Qur’an di Jurnal Urwatul Wutsqo (2024), Alam Tarlam, dkk. memotret bagaimana Islam memandang tradisi lokal seperti munggahan di Subang, Jawa Barat. Dalam Islam, terdapat metode ‘urf—yaitu penetapan hukum berdasarkan kebiasaan masyarakat selama tidak bertabrakan dengan prinsip tauhid dan ibadah murni (mahdhah).

“Penetapan hukum yang didasarkan atas kebiasaan setempat (‘urf) ini tentu tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar syariat dan hanya digunakan dalam bidang muamalah,” tulis Alam Tarlam, dkk.

Para peneliti mengategorikan munggahan sebagai bentuk adaptive-complement (تهميل), di mana Islam menerima dan menyempurnakan tradisi yang sudah ada.

“Sikap ini ditunjukkan dengan adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang menerima dan melanjutkan keberadaan tradisi tersebut serta menyempurnakan aturannya,” tambah mereka dalam jurnal tersebut.

Pada akhirnya, munggahan adalah cermin betapa indahnya keberagaman budaya di Nusantara yang mampu berjalan beriringan dengan ketaatan beragama.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

budaya sunda
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Dapatkan saldo DANA gratis hanya dengan bermain game, tukarkan poin dengan uang cash.

Klaim Saldo DANA Gratis 11 September 2026: Intip Cara Resmi dan Peluang Cuan Hari Ini

Game Free Fire

Banjir Reward! Deretan Kode Redeem FF 11 September 2026 dan Cara Klaim Cepatnya

Jangan Sampai Lupa! Ini Deretan Hari Besar Nasional dan Internasional September 2026

Semua Warga Bakal Dibuatkan Rekening Bank Gratis dan Isi Saldo Rp50 Ribu, Yang Sudah Punya Tetap Dapet?

Bikin Penasaran! Sosok Lylia Kasir Indomaret Jadi Buruan Warganet di TikTok

Viral Kelas Dunia! Parodi Sepak Bola Sonecil Group Majene Bikin Netizen Global Ketagihan

Terpopuler
  • Aksi Sosial PT MBK Ventura di Purwakarta: Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis dan Donor Darah untuk Warga
  • Heboh Video Viral Kasir Indomaret, Lylia Beri Klarifikasi dan Bongkar Hal Ini
  • Suara Mirip Bass Bergema dari Bandung Hingga Purwakarta, Dikaitkan Erupsi Anak Krakatau
  • Viral Rekaman Air Pesisir Surut Dekat Anak Krakatau, Begini Kata BMKG
  • Uang Pendidikan Mengalir ke Mana? Bongkar Manfaat Rp6,3 Triliun Jabar vs Rp351 Miliar Sulteng
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.