Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Prediksi Prancis vs Pantai Gading: Mbappe Siap Pimpin Les Bleus di Nantes

Kamis, 4 Juni 2026 15:00 WIB

Betrand Peto Ungkap Kenangan Pahit, Bela Ruben Onsu di Tengah Konflik dengan Sarwendah

Kamis, 4 Juni 2026 14:40 WIB

Bursa Transfer Panas, Persib Bandung Mulai Bergerak Diam-Diam

Kamis, 4 Juni 2026 14:14 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Prediksi Prancis vs Pantai Gading: Mbappe Siap Pimpin Les Bleus di Nantes
  • Betrand Peto Ungkap Kenangan Pahit, Bela Ruben Onsu di Tengah Konflik dengan Sarwendah
  • Bursa Transfer Panas, Persib Bandung Mulai Bergerak Diam-Diam
  • Punya Aset Rp9 Miliar, Segini Rincian Kekayaan Eks Kepala Badan Gizi Dadan Hindayana
  • Viral! Truk Box Tabrak Palang Pintu KA di Cimindi, Perlintasan Sempat Terganggu
  • Ogah Pikirkan Pemulihan Nama Baik Pasca-SP3, Erwin Pilih Pasrahkan Derajatnya pada Ketetapan Allah
  • Pasca-SP3 Kejari Bandung: Erwin Akui Tetap Kerja Senyap dan Langsung Sowan ke Pimpinan Pesantren
  • Kasus Korupsinya Disetop, Erwin Apresiasi Kejari Bandung hingga Siap Gas Pol Lagi
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 4 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Filosofi Munggahan: Lebih dari Sekadar Makan Bersama Menjelang Ramadhan

By Aga GustianaSabtu, 14 Februari 2026 13:06 WIB3 Mins Read
Ilustrasi munggahan. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Bagi masyarakat Sunda di Jawa Barat, datangnya bulan suci Ramadan bukan sekadar pergantian kalender ibadah. Ada sebuah ritus budaya yang seolah menjadi gerbang pembuka menuju bulan puasa, yakni Munggahan. Tradisi ini telah menjadi warisan turun-temurun yang menyatukan dimensi spiritualitas dengan kehangatan sosial dalam satu tarikan napas.

Namun, apa sebenarnya esensi di balik istilah yang sering kita dengar setiap tahun ini?

Menelisik Makna Spiritual “Naik Kelas”

Secara etimologi, istilah munggahan berakar dari kata dalam bahasa Sunda, yaitu unggah. Berdasarkan data dari kamus Sundadigi, unggah memiliki arti manjat atau naik menuju tempat yang posisinya lebih tinggi. Dalam konteks menyambut bulan suci, kata ini mengalami perluasan makna menjadi simbol transisi kualitas diri manusia.

Meninjau dari sudut pandang akademis, Tata Twin Prehatinia dan Widiati Isana dalam penelitian mereka di UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang bertajuk ‘Perkembangan Tradisi Keagamaan Munggahan Kota Bandung Jawa Barat Tahun 1990-2020’, menjelaskan kaitan historis istilah ini:

Baca Juga:  Alasan Lengkap Dedi Mulyadi Ubah Nama RSUD Al Ihsan Jadi Welas Asih

“Munggah berasal dari kata unggah yang berarti naik atau meningkat, yang konon pada zaman dahulu roh dan arwah nenek moyang atau kerabat yang sudah meninggal. Sesuai dengan pengertiannya, kata munggah tersirat arti perihal perubahan ke arah yang lebih baik yang berasal dari bulan sya’ban menuju bulan Ramadhan untuk meningkatkan kualitas iman kita saat sedang berpuasa dalam bulan Ramadhan.”

Dengan demikian, munggahan adalah sebuah pengingat bagi setiap individu untuk “naik kelas” secara batiniah, meninggalkan kebiasaan buruk di bulan Sya’ban demi mencapai derajat takwa yang lebih tinggi di bulan Ramadan.

Ragam Ritual Penyucian dan Kebersamaan

Munggahan biasanya mulai semarak sekitar seminggu hingga sehari sebelum fajar pertama puasa menyingsing. Kegiatannya sangat variatif, namun intinya adalah pembersihan. Secara fisik, masyarakat melakukan aksi bersih-bersih lingkungan rumah dan tempat ibadah. Secara sosial, mereka berkumpul untuk makan bersama (botram) guna mempererat tali silaturahmi.

Secara personal, banyak pula yang melakukan tradisi mandi besar sebagai simbol membasuh diri dari noda sebelum memasuki bulan yang suci. Selain itu, ziarah ke makam keluarga menjadi agenda wajib untuk mengirim doa sekaligus mengingat kematian.

Baca Juga:  Khutbah Jumat 9 Januari 2026: Persiapan Menyambut Ramadan di Bulan Sya’ban

Harmonisasi Budaya Sunda dan Ajaran Islam

Jika ditelisik secara tekstual, tidak ada perintah khusus dalam Al-Qur’an maupun Hadis yang menyebut kata “munggahan”. Tradisi ini merupakan produk akulturasi yang cerdas antara kearifan lokal Sunda dengan nilai-nilai Islam. Meski namanya lokal, aktivitas di dalamnya memiliki napas yang sangat agamis.

Sebagai contoh, ritual ziarah kubur yang identik dengan munggahan bersandar pada anjuran Rasulullah SAW:

“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah),” (HR. Hakim).

Begitu pula dengan kegiatan makan bersama yang mencerminkan semangat berbagi. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturahim… niscaya kalian akan masuk surga dengan sejahtera.” (HR. At-Tirmidzi).

Baca Juga:  Menelusuri Asal Usul Nama 'Sunda': Dari India Kuno hingga Tanah Pasundan

Adaptasi Hukum Melalui Metode ‘Urf

Dalam studi antropologi Al-Qur’an di Jurnal Urwatul Wutsqo (2024), Alam Tarlam, dkk. memotret bagaimana Islam memandang tradisi lokal seperti munggahan di Subang, Jawa Barat. Dalam Islam, terdapat metode ‘urf—yaitu penetapan hukum berdasarkan kebiasaan masyarakat selama tidak bertabrakan dengan prinsip tauhid dan ibadah murni (mahdhah).

“Penetapan hukum yang didasarkan atas kebiasaan setempat (‘urf) ini tentu tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar syariat dan hanya digunakan dalam bidang muamalah,” tulis Alam Tarlam, dkk.

Para peneliti mengategorikan munggahan sebagai bentuk adaptive-complement (تهميل), di mana Islam menerima dan menyempurnakan tradisi yang sudah ada.

“Sikap ini ditunjukkan dengan adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang menerima dan melanjutkan keberadaan tradisi tersebut serta menyempurnakan aturannya,” tambah mereka dalam jurnal tersebut.

Pada akhirnya, munggahan adalah cermin betapa indahnya keberagaman budaya di Nusantara yang mampu berjalan beriringan dengan ketaatan beragama.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Akulturasi Islam Sunda budaya sunda Persiapan Ramadan Sejarah Munggahan Tradisi Munggahan ziarah kubur
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Betrand Peto Ungkap Kenangan Pahit, Bela Ruben Onsu di Tengah Konflik dengan Sarwendah

Video Cut Syifa Ramai Dicari di TikTok dan X, Ini Fakta yang Sebenarnya

Bukan Matematika! Ini Pelajaran ‘Aneh’ di Pedalaman Papua yang Bikin Netizen Menangis Haru

Update Harga Emas Antam Hari Ini 4 Juni 2026: Turun Rp15.000 per Gram

Devoyage Bogor, salah satu wisata di Bogor yang Instagramble banget.

Bosan dengan Rutinitas? Ini 5 Destinasi Wisata Hits di Bogor yang Wajib Kamu Kunjungi Akhir Pekan Ini!

Heboh! Vell TikTok Blunder Viral di X, Link Video 8 Menit Jadi Buruan Warganet

Terpopuler
  • Video Rok Hijau Tosca di Dapur Viral! Ini Fakta Sebenarnya di TikTok
  • Video ‘Rok Hijau Tosca’ 3 Menit Bikin Heboh Warganet, Ternyata Ini yang Terjadi
  • Video ‘Rok Hijau 3 Menit’ Viral, Link Mencurigakan Mulai Menjebak Warganet
  • Rok Hijau Tosca Viral Gegerkan TikTok, Link Asli Bikin Penasaran Warganet
  • Nama Vell Mendadak Trending Lagi, Benarkah Ada Video Viral Berdurasi 10 Menit?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.