Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Modal Infak Receh Bisa Umrah? Bongkar Rahasia Sukses SMAN 1 Padalarang yang Bikin Warganet Heboh!

Sabtu, 12 September 2026 09:29 WIB
Game Free Fire

Daftar Kode Redeem Free Fire Sabtu 12 September 2026: Amankan Skin Gratis dan Trik Profil Spasi Kosong

Sabtu, 12 September 2026 07:43 WIB

Bansos September 2026 Belum Cair? Begini Cara Cek PKH Lewat HP

Sabtu, 12 September 2026 05:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Modal Infak Receh Bisa Umrah? Bongkar Rahasia Sukses SMAN 1 Padalarang yang Bikin Warganet Heboh!
  • Daftar Kode Redeem Free Fire Sabtu 12 September 2026: Amankan Skin Gratis dan Trik Profil Spasi Kosong
  • Bansos September 2026 Belum Cair? Begini Cara Cek PKH Lewat HP
  • GBK Tanpa Bobotoh, Bandung Siap Membara! Ini 6 Lokasi Nobar Persib vs Persija
  • Bansos September 2026 Bisa Dicek Sekarang, Begini Cara Cek Penerima Pakai NIK
  • Gandeng Irfan Hakim, Bos Koi Hartono Soekwanto Cetak Rekor Global Lewat Kontes Ikan Bogel di Bandung
  • Persija vs Persib, Igor Tolic Ingin Persib Bikin Bobotoh Bangga di GBK
  • Timnas Indonesia Siap Gebrak FIFA ASEAN Cup 2026, Ini Jadwal Lengkap Skuad Garuda
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 12 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Viral Disebut Prabowo! Apa Sebenarnya Londo Ireng? Ini Sejarah Kelam di Baliknya!

By Putra JuangSabtu, 25 Juli 2026 10:53 WIB6 Mins Read
Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan sambutan dalam Puncak Harlah ke-28 yang digelar PKB di Jakarta. (Foto: Tangkapan Layar Youtube/ DPP PKB)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi pusat perhatian publik setelah melontarkan istilah “londo ireng” dalam pidatonya pada puncak Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (23/7/2026).

Pernyataan tersebut langsung memicu perdebatan luas di media sosial maupun ruang publik. Bukan hanya karena istilah yang digunakan memiliki akar sejarah panjang sejak masa kolonial, tetapi juga karena Prabowo mengaitkannya dengan kondisi Indonesia saat ini, termasuk menyinggung media, jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Pidato itu sekaligus menambah daftar pernyataan spontan atau ceplas-ceplos Prabowo yang dalam beberapa bulan terakhir berulang kali menjadi perbincangan nasional.

Prabowo: Masih Ada Orang Indonesia yang Mengabdi kepada Kepentingan Asing

Dalam pidatonya, Prabowo lebih dahulu menyoroti pemberitaan media yang menurutnya cenderung hanya menampilkan sisi negatif dari berbagai program pemerintah.

Ia mencontohkan program renovasi puluhan ribu sekolah yang dinilai kurang mendapat apresiasi.

Menurut Prabowo, pemerintah telah memperbaiki sekitar 67.000 sekolah, namun masih ada media yang memilih menampilkan sekolah yang belum direnovasi sehingga membangun persepsi seolah pemerintah tidak bekerja.

Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak anti terhadap kritik.

Namun, ia mengatakan terdapat segelintir pihak yang menurutnya justru lebih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain dibandingkan kepentingan nasional.

Dalam konteks itulah Prabowo menggunakan istilah “londo ireng.”

“Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Sampai sekarang masih ada, hanya sekarang pakai baju lain.”

Ucapan tersebut kemudian disusul pernyataan yang menyinggung profesi tertentu.

Prabowo mempertanyakan sumber pembiayaan sejumlah wartawan, jurnalis, pengamat hingga LSM.

“Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM harus kita tanya, yang gaji kamu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?”

Pernyataan tersebut segera menjadi sorotan karena dianggap menyentuh isu independensi media dan organisasi masyarakat sipil.

Baca Juga:  Dulu Tenang Hadapi Politisi di TV, Aksi Garang Fathimah Azzahra di Jalanan Kini Bikin Heboh

Singgung Kampanye Indonesia akan Runtuh

Dalam pidato yang sama, Prabowo juga mengungkapkan keyakinannya bahwa terdapat kampanye besar yang bertujuan menggoyahkan kepercayaan masyarakat terhadap Indonesia.

Ia mencontohkan berbagai prediksi yang menyebut Indonesia akan mengalami keruntuhan ekonomi.

Menurut Prabowo, narasi tersebut terus bergulir dari bulan ke bulan, tetapi tidak pernah terbukti.

“Indonesia akan collapse bulan April, lewat tidak collapse. Bulan Mei tidak collapse. Bulan Juni tidak collapse. Bulan Juli tidak collapse.”

Bagi Prabowo, narasi pesimistis semacam itu merupakan bagian dari upaya membangun persepsi negatif terhadap Indonesia.

Apa Arti “Londo Ireng”?

Ucapan Prabowo membuat banyak masyarakat bertanya mengenai makna sebenarnya dari istilah tersebut.

Secara historis, Londo Ireng bukanlah istilah politik modern.

Istilah itu berasal dari masa kolonial Hindia Belanda dan merujuk kepada “Belanda Hitam” atau Zwarte Hollanders, yaitu prajurit Afrika Barat yang direkrut pemerintah kolonial Belanda untuk bertugas dalam Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL).

Mereka berasal dari wilayah Pantai Emas Belanda (Dutch Gold Coast) yang kini menjadi bagian dari Ghana, serta sejumlah wilayah Afrika Barat lainnya seperti Burkina Faso, Mali, Niger, Benin, dan Pantai Gading.

Meski bukan orang Belanda secara etnis, mereka mengenakan seragam KNIL, menggunakan nama-nama Belanda, serta memperoleh status hukum yang disamakan dengan tentara Eropa.

Karena itulah masyarakat Jawa menyebut mereka Londo Ireng, yang secara harfiah berarti Belanda berkulit hitam.

Mengapa Belanda Merekrut Tentara Afrika?

Perekrutan berlangsung antara 1831 hingga 1872.

Saat itu Belanda mengalami kekurangan pasukan setelah menderita kerugian besar dalam Perang Jawa (1825–1830) melawan Pangeran Diponegoro.

Ribuan tentara Belanda gugur dalam perang tersebut. Di sisi lain, Belanda juga kehilangan sebagian sumber daya militernya setelah Belgia memisahkan diri pada 1830.

Untuk mengatasi krisis personel, pemerintah kolonial mengikuti langkah Inggris dan Prancis yang lebih dahulu memanfaatkan tentara dari Afrika di wilayah jajahan mereka.

Baca Juga:  Pimpin Sidang Perdana DPN, Prabowo Tegaskan Pertahanan sebagai Fondasi Utama Negara

Diperkirakan lebih dari 3.000 orang Afrika Barat direkrut menjadi anggota KNIL.

Sebagian bergabung secara sukarela, namun sebagian lainnya merupakan budak atau tawanan perang yang dibeli dari pasar budak di wilayah Kekaisaran Ashanti.

Belanda menganggap tentara Afrika memiliki beberapa keunggulan.

Selain dinilai lebih tahan terhadap iklim tropis dibandingkan tentara Eropa, mereka juga dianggap tidak memiliki ikatan emosional dengan masyarakat Nusantara sehingga kecil kemungkinan membelot atau bersimpati kepada perjuangan rakyat Indonesia.

Berperang Melawan Rakyat Nusantara

Pasukan Londo Ireng kemudian diterjunkan dalam berbagai operasi militer kolonial.

Mereka ikut terlibat dalam Perang Padri, operasi militer di Kalimantan, Sulawesi, Bali, Timor, hingga Perang Aceh yang berlangsung puluhan tahun.

Dalam catatan militer Belanda, sejumlah prajurit Afrika dikenal memiliki disiplin tinggi dan keberanian luar biasa.

Salah satu yang paling terkenal adalah Jan Kooi, prajurit asal Elmina yang memperoleh penghargaan tertinggi militer Belanda, Militaire Willems-Orde, setelah menyelamatkan seorang perwira Belanda dalam Perang Aceh.

Makna “Londo Ireng” di Era Modern

Dalam perkembangan politik Indonesia modern, istilah tersebut mengalami pergeseran makna.

“Londo Ireng” kini lebih sering digunakan sebagai metafora politik atau kritik sosial.

Istilah itu diarahkan kepada pihak-pihak lokal yang dianggap lebih membela kepentingan asing daripada kepentingan bangsa sendiri.

Dalam konteks pidato Prabowo, istilah tersebut bukan lagi merujuk pada prajurit Afrika pada masa kolonial, melainkan sebagai kiasan bagi orang Indonesia yang menurutnya berpihak kepada kepentingan luar negeri atau menyebarkan narasi yang melemahkan bangsa.

Menambah Daftar Pernyataan Ceplas-Ceplos Prabowo

Pernyataan mengenai “londo ireng” bukan kali pertama gaya komunikasi Prabowo menjadi sorotan.

Dalam beberapa bulan terakhir, Presiden kerap melontarkan ucapan spontan yang memicu perdebatan sekaligus menjadi viral di media sosial.

1. “Ndasmu”, Lalu Minta Wartawan Hapus Rekaman

Pada 24 Juni 2026 saat menghadiri Puncak Pekan Nasional Petani dan Nelayan di Gorontalo, Prabowo sempat melontarkan kata “ndasmu” ketika menirukan gaya para koruptor yang dinilainya berpura-pura santun.

Baca Juga:  Viral Aksi Remaja Bawa Sajam Sweeping di Majalengka, Polisi Duga Cuma Konten

Menyadari ucapannya terekam kamera, Prabowo kemudian berseloroh meminta wartawan menghapus bagian tersebut.

Candaan itu justru memancing gelak tawa para peserta dan kemudian viral di berbagai platform media sosial.

Meski demikian, substansi pidatonya menekankan kritik keras terhadap praktik korupsi yang menurutnya merugikan rakyat.

2. Sebut Menteri dengan Kata “Bajingan”

Beberapa pekan kemudian, tepatnya saat Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79, Prabowo kembali menarik perhatian publik.

Dalam pidatonya, ia sempat mengucapkan kata “bajingan” saat menyinggung Menteri Pendidikan.

Tak lama kemudian, Prabowo memberikan klarifikasi bahwa istilah tersebut bukan dimaksudkan sebagai makian.

Ia mengatakan kata itu merupakan bagian dari kebiasaan bahasa Betawi yang secara refleks keluar ketika berbicara dengan penuh semangat.

“Saya lahir di Betawi, maaf kalau semangat kata-kata Betawi keluar.”

Penjelasan tersebut memunculkan beragam tanggapan. Sebagian masyarakat menganggap gaya bicara Prabowo mencerminkan karakter yang lugas dan apa adanya, sementara sebagian lainnya menilai seorang kepala negara perlu lebih berhati-hati dalam memilih diksi di ruang publik.

Memancing Perdebatan tentang Gaya Komunikasi Presiden

Terlepas dari substansi pidatonya, gaya komunikasi Prabowo yang spontan, lugas, dan sering menggunakan istilah populer maupun bahasa sehari-hari terus menjadi ciri khas yang membedakannya dari banyak pemimpin sebelumnya.

Bagi para pendukungnya, gaya tersebut dianggap membuat pesan lebih mudah dipahami masyarakat serta menunjukkan sosok pemimpin yang berbicara apa adanya.

Namun di sisi lain, setiap ucapan yang menyentuh isu sensitif, termasuk penggunaan istilah sejarah seperti “londo ireng” atau penyebutan profesi tertentu, kerap memicu diskusi mengenai dampaknya terhadap ruang demokrasi, kebebasan pers, dan dinamika politik nasional.

Pernyataan terbaru mengenai “londo ireng” pun diperkirakan masih akan menjadi bahan pembahasan berbagai kalangan, baik dari perspektif sejarah, komunikasi politik, maupun hubungan antara pemerintah dengan media dan masyarakat sipil.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Prabowo Subianto viral
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bansos September 2026 Belum Cair? Begini Cara Cek PKH Lewat HP

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos September 2026 Bisa Dicek Sekarang, Begini Cara Cek Penerima Pakai NIK

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

September Jadi Bulan Terakhir Bansos Tahap 3, PKH hingga Beras 30 Kg Siap Disalurkan

Langkah Senyap Presiden Prabowo: 30 Kebijakan Strategis untuk Kelas Menengah Indonesia

Kasus Abah Setu Belum Usai, Polisi Masih Dalami Video yang Disebut Hasil Editan AI

Defisit APBD Jabar Turun Jadi Rp3,4 Triliun, Pemprov Tak Mau Asal Tarik Utang

Terpopuler
  • Aksi Sosial PT MBK Ventura di Purwakarta: Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis dan Donor Darah untuk Warga
  • Heboh Video Viral Kasir Indomaret, Lylia Beri Klarifikasi dan Bongkar Hal Ini
  • Link Full 7 Menit Kasir Indomaret Coolmax Viral, Benarkah Ada Video Utuh?
  • Viral Rekaman Air Pesisir Surut Dekat Anak Krakatau, Begini Kata BMKG
  • Uang Pendidikan Mengalir ke Mana? Bongkar Manfaat Rp6,3 Triliun Jabar vs Rp351 Miliar Sulteng
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.