Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Terbongkar Pemicu Keributan di Padepokan Sukabumi: Beda Pendapat Lalu Melayang Tamparan!

Selasa, 27 Oktober 2026 12:46 WIB

Tak Ada Sepak Bola Seharga Nyawa! Mengenang Rentetan Insiden Memilukan yang Menewaskan Bobotoh

Selasa, 27 Oktober 2026 12:40 WIB

Pelaku Penyerangan Bobotoh hingga Tewas di Bogor Telah Tertangkap

Selasa, 27 Oktober 2026 12:09 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Terbongkar Pemicu Keributan di Padepokan Sukabumi: Beda Pendapat Lalu Melayang Tamparan!
  • Tak Ada Sepak Bola Seharga Nyawa! Mengenang Rentetan Insiden Memilukan yang Menewaskan Bobotoh
  • Pelaku Penyerangan Bobotoh hingga Tewas di Bogor Telah Tertangkap
  • Nikmati Kuliner Lezat di Roemah Legit, bank bjb Hadirkan Promo Diskon Spesial Pengguna DIGI
  • Emas Antam Naik Rp10.000 Hari Ini, Segini Harga 1 Gram Sekarang
  • Antam Meroket Lagi! Cek Rincian Harga Emas Antam, Galeri 24, dan UBS Hari Ini 27 Oktober 2026
  • Amukan Puting Beliung Sapu Padalarang: 520 Rumah Warga dan Fasilitas Umum Rusak Parah
  • Kedekatannya hanya Gimmick? Amanda Manopo Blak-blakan Soal Hubungannya dengan Fajar Sadboy!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 27 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Defisit APBD Jabar Turun Jadi Rp3,4 Triliun, Pemprov Tak Mau Asal Tarik Utang

By Mulki AlbarJumat, 11 September 2026 18:14 WIB3 Mins Read
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Foto: bukamata.id /Mulki Albar.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih menghadapi tekanan fiskal dalam pelaksanaan APBD 2026. Proyeksi defisit yang sebelumnya mencapai Rp5,7 triliun kini berhasil ditekan menjadi sekitar Rp3,4 triliun melalui efisiensi belanja.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) mengatakan, angka Rp5,7 triliun merupakan proyeksi awal yang masih terus disesuaikan dengan kondisi pendapatan dan belanja daerah.

“Defisit itu kan angka perhitungan awal,” ujar KDM di Bandung, Jumat (11/9/2026).

Salah satu tekanan terhadap APBD berasal dari koreksi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang diperkirakan mencapai Rp1,6 triliun.

Koreksi terbesar berasal dari penerimaan pajak rokok sekitar Rp613 miliar serta Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) sekitar Rp406 miliar.

Menurut KDM, penurunan penerimaan dari sektor kendaraan bermotor bukan karena masyarakat tidak patuh membayar pajak. Pergeseran penggunaan kendaraan menuju kendaraan listrik turut memengaruhi penerimaan daerah.

“Menurunnya pajak kendaraan bermotor ini bukan disebabkan oleh menurunnya partisipasi warga dalam membayar pajak, tetapi karena peralihan ke kendaraan listrik,” kata KDM.

Baca Juga:  Bongkar Pasang Gedung Sate, Sentuhan Candi Bentar dan Pusaran Polemik

“Kendaraan listrik itu PKB dan BBNKB-nya tidak dikenakan pajak daerah, sementara PNBP-nya tetap masuk ke kas pemerintah pusat. Ini yang membuat penerimaan daerah terkoreksi,” lanjutnya.

Dana Transfer Rp3,2 Triliun Belum Tersalurkan

Selain PAD, Pemprov Jabar juga masih menghadapi potensi dana transfer dan Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat yang belum tersalurkan dengan nilai sekitar Rp3,2 triliun.

Sementara dari sisi pengelolaan kekayaan daerah, terdapat sejumlah penyesuaian penerimaan. Dividen Bank BJB yang sebelumnya ditargetkan Rp400 miliar hanya terealisasi sekitar Rp347 miliar.

Kemudian, dividen PT Migas Utama Jabar (MUJ) dari Participating Interest (PI) migas sebesar Rp27 miliar diproyeksikan belum terealisasi karena dana tersebut digunakan PT Pertamina Hulu Energi ONWJ untuk peremajaan jaringan pipa.

Untuk menjaga kondisi fiskal tetap terkendali, KDM menginstruksikan efisiensi belanja yang dinilai tidak prioritas hingga sekitar Rp2,3 triliun.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Kunjungi Sahara dan Yai Mim di Malang: Tak Perlu Dimediasi, Sudah Rukun

Efisiensi dilakukan antara lain melalui pemangkasan perjalanan dinas rutin, penyesuaian porsi bagi hasil untuk kabupaten/kota sebesar Rp397 miliar, serta pengurangan belanja hibah bagi instansi vertikal hingga 40 persen.

Pengurangan hibah tersebut diperkirakan mencapai Rp200 miliar hingga Rp250 miliar dari total alokasi awal sekitar Rp600 miliar.

Pinjaman Rp3,4 Triliun Masih Wait and See

Pemprov Jabar sebenarnya telah memiliki opsi pinjaman daerah sebesar Rp3,4 triliun melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) yang mendapat persetujuan DPRD.

Namun, KDM menegaskan pinjaman tersebut belum tentu langsung dicairkan seluruhnya. Pemerintah daerah akan menghitung terlebih dahulu kebutuhan kas dan kemampuan APBD.

“Opsi pinjaman tetap kita pegang, tapi dalam praktiknya jangan asal mencairkan jika tidak benar-benar dibutuhkan. Kita hitung dulu kemampuan kas, belanja wajib, dan proyek yang sudah terikat kontrak hingga Desember,” ujar KDM.

Ia tidak ingin pinjaman yang tidak benar-benar dibutuhkan justru menambah beban bunga bagi pemerintah daerah.

Baca Juga:  PT Jaswita Jabar Akui Hibisc Fantasy Langgar Aturan dan Layak Dibongkar

“Jangan sampai kita meminjam uang tapi tidak dimanfaatkan secara efektif, akhirnya rakyat yang rugi bayar bunga,” tegasnya.

KDM meminta belanja wajib dan mengikat tetap menjadi prioritas, termasuk gaji pegawai, PPPK, BPJS Kesehatan masyarakat, serta kebutuhan operasional layanan publik.

Di sisi lain, Pemprov Jabar masih berkomunikasi dengan Kementerian Keuangan terkait pencairan dana bagi hasil yang belum diterima. Pemerintah daerah berharap dana tersebut dapat disalurkan pada Oktober, November, atau Desember 2026.

Dengan begitu, kebutuhan pembiayaan dapat ditekan dan keputusan mengenai pinjaman daerah dapat dilakukan berdasarkan kondisi fiskal yang lebih pasti.

“Kebutuhan riil Rp3,4 triliun kan kita terus berkomunikasi dengan Kementerian Keuangan, dengan harapan yang bagi hasil pajak ini bisa juga dibayarkan di bulan Oktober, November, atau Desember. Sehingga konsep tentang pinjaman daerah Rp3,4 triliun ini masih wait and see,” pungkas KDM.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

APBD Jabar 2026 APBD Jawa Barat 2026 Dedi Mulyadi defisit APBD Jabar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Terbongkar Pemicu Keributan di Padepokan Sukabumi: Beda Pendapat Lalu Melayang Tamparan!

Tak Ada Sepak Bola Seharga Nyawa! Mengenang Rentetan Insiden Memilukan yang Menewaskan Bobotoh

Pelaku Penyerangan Bobotoh hingga Tewas di Bogor Telah Tertangkap

Emas Antam Naik Rp10.000 Hari Ini, Segini Harga 1 Gram Sekarang

Amukan Puting Beliung Sapu Padalarang: 520 Rumah Warga dan Fasilitas Umum Rusak Parah

Polisi Ungkap Detik-detik Bobotoh Dibacok di Jalan Raya Jakarta-Bogor, Motif Masih Misteri

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Delapan Mahasiswa di Bandung Diamankan Polisi Usai Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
  • Prediksi Madura United vs Persib: Ujian Kedalaman Skuad Pangeran Biru di Tengah Jadwal Padat
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.