Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

GBK Tanpa Bobotoh, Bandung Siap Membara! Ini 6 Lokasi Nobar Persib vs Persija

Sabtu, 12 September 2026 04:00 WIB
Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos September 2026 Bisa Dicek Sekarang, Begini Cara Cek Penerima Pakai NIK

Sabtu, 12 September 2026 03:00 WIB

Gandeng Irfan Hakim, Bos Koi Hartono Soekwanto Cetak Rekor Global Lewat Kontes Ikan Bogel di Bandung

Jumat, 11 September 2026 22:56 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • GBK Tanpa Bobotoh, Bandung Siap Membara! Ini 6 Lokasi Nobar Persib vs Persija
  • Bansos September 2026 Bisa Dicek Sekarang, Begini Cara Cek Penerima Pakai NIK
  • Gandeng Irfan Hakim, Bos Koi Hartono Soekwanto Cetak Rekor Global Lewat Kontes Ikan Bogel di Bandung
  • Persija vs Persib, Igor Tolic Ingin Persib Bikin Bobotoh Bangga di GBK
  • Timnas Indonesia Siap Gebrak FIFA ASEAN Cup 2026, Ini Jadwal Lengkap Skuad Garuda
  • September Jadi Bulan Terakhir Bansos Tahap 3, PKH hingga Beras 30 Kg Siap Disalurkan
  • Pernah Bobol Persija, Balsa Sekulic Kini Bidik Gol Lagi di SUGBK
  • Langkah Senyap Presiden Prabowo: 30 Kebijakan Strategis untuk Kelas Menengah Indonesia
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 12 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Defisit APBD Jabar Turun Jadi Rp3,4 Triliun, Pemprov Tak Mau Asal Tarik Utang

By Mulki AlbarJumat, 11 September 2026 18:14 WIB3 Mins Read
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Foto: bukamata.id /Mulki Albar.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih menghadapi tekanan fiskal dalam pelaksanaan APBD 2026. Proyeksi defisit yang sebelumnya mencapai Rp5,7 triliun kini berhasil ditekan menjadi sekitar Rp3,4 triliun melalui efisiensi belanja.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) mengatakan, angka Rp5,7 triliun merupakan proyeksi awal yang masih terus disesuaikan dengan kondisi pendapatan dan belanja daerah.

“Defisit itu kan angka perhitungan awal,” ujar KDM di Bandung, Jumat (11/9/2026).

Salah satu tekanan terhadap APBD berasal dari koreksi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang diperkirakan mencapai Rp1,6 triliun.

Koreksi terbesar berasal dari penerimaan pajak rokok sekitar Rp613 miliar serta Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) sekitar Rp406 miliar.

Menurut KDM, penurunan penerimaan dari sektor kendaraan bermotor bukan karena masyarakat tidak patuh membayar pajak. Pergeseran penggunaan kendaraan menuju kendaraan listrik turut memengaruhi penerimaan daerah.

“Menurunnya pajak kendaraan bermotor ini bukan disebabkan oleh menurunnya partisipasi warga dalam membayar pajak, tetapi karena peralihan ke kendaraan listrik,” kata KDM.

Baca Juga:  Dikritik Atalia soal Kelas Padat, Dedi Mulyadi Balik Sindir Era Ridwan Kamil

“Kendaraan listrik itu PKB dan BBNKB-nya tidak dikenakan pajak daerah, sementara PNBP-nya tetap masuk ke kas pemerintah pusat. Ini yang membuat penerimaan daerah terkoreksi,” lanjutnya.

Dana Transfer Rp3,2 Triliun Belum Tersalurkan

Selain PAD, Pemprov Jabar juga masih menghadapi potensi dana transfer dan Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat yang belum tersalurkan dengan nilai sekitar Rp3,2 triliun.

Sementara dari sisi pengelolaan kekayaan daerah, terdapat sejumlah penyesuaian penerimaan. Dividen Bank BJB yang sebelumnya ditargetkan Rp400 miliar hanya terealisasi sekitar Rp347 miliar.

Kemudian, dividen PT Migas Utama Jabar (MUJ) dari Participating Interest (PI) migas sebesar Rp27 miliar diproyeksikan belum terealisasi karena dana tersebut digunakan PT Pertamina Hulu Energi ONWJ untuk peremajaan jaringan pipa.

Untuk menjaga kondisi fiskal tetap terkendali, KDM menginstruksikan efisiensi belanja yang dinilai tidak prioritas hingga sekitar Rp2,3 triliun.

Baca Juga:  Soroti Pengelolaan Anggaran, Dedi Mulyadi: Pegang Triliun Tapi Rakyat Masih Sengsara?

Efisiensi dilakukan antara lain melalui pemangkasan perjalanan dinas rutin, penyesuaian porsi bagi hasil untuk kabupaten/kota sebesar Rp397 miliar, serta pengurangan belanja hibah bagi instansi vertikal hingga 40 persen.

Pengurangan hibah tersebut diperkirakan mencapai Rp200 miliar hingga Rp250 miliar dari total alokasi awal sekitar Rp600 miliar.

Pinjaman Rp3,4 Triliun Masih Wait and See

Pemprov Jabar sebenarnya telah memiliki opsi pinjaman daerah sebesar Rp3,4 triliun melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) yang mendapat persetujuan DPRD.

Namun, KDM menegaskan pinjaman tersebut belum tentu langsung dicairkan seluruhnya. Pemerintah daerah akan menghitung terlebih dahulu kebutuhan kas dan kemampuan APBD.

“Opsi pinjaman tetap kita pegang, tapi dalam praktiknya jangan asal mencairkan jika tidak benar-benar dibutuhkan. Kita hitung dulu kemampuan kas, belanja wajib, dan proyek yang sudah terikat kontrak hingga Desember,” ujar KDM.

Ia tidak ingin pinjaman yang tidak benar-benar dibutuhkan justru menambah beban bunga bagi pemerintah daerah.

Baca Juga:  Keluarga Hilang Kontak di Aceh, Dedi Mulyadi Gerak Cepat Terbang ke Lokasi Bencana

“Jangan sampai kita meminjam uang tapi tidak dimanfaatkan secara efektif, akhirnya rakyat yang rugi bayar bunga,” tegasnya.

KDM meminta belanja wajib dan mengikat tetap menjadi prioritas, termasuk gaji pegawai, PPPK, BPJS Kesehatan masyarakat, serta kebutuhan operasional layanan publik.

Di sisi lain, Pemprov Jabar masih berkomunikasi dengan Kementerian Keuangan terkait pencairan dana bagi hasil yang belum diterima. Pemerintah daerah berharap dana tersebut dapat disalurkan pada Oktober, November, atau Desember 2026.

Dengan begitu, kebutuhan pembiayaan dapat ditekan dan keputusan mengenai pinjaman daerah dapat dilakukan berdasarkan kondisi fiskal yang lebih pasti.

“Kebutuhan riil Rp3,4 triliun kan kita terus berkomunikasi dengan Kementerian Keuangan, dengan harapan yang bagi hasil pajak ini bisa juga dibayarkan di bulan Oktober, November, atau Desember. Sehingga konsep tentang pinjaman daerah Rp3,4 triliun ini masih wait and see,” pungkas KDM.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

APBD Jabar 2026 APBD Jawa Barat 2026 Dedi Mulyadi defisit APBD Jabar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos September 2026 Bisa Dicek Sekarang, Begini Cara Cek Penerima Pakai NIK

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

September Jadi Bulan Terakhir Bansos Tahap 3, PKH hingga Beras 30 Kg Siap Disalurkan

Langkah Senyap Presiden Prabowo: 30 Kebijakan Strategis untuk Kelas Menengah Indonesia

Kasus Abah Setu Belum Usai, Polisi Masih Dalami Video yang Disebut Hasil Editan AI

Semarak HUT TNI ke-81, Ribuan Peserta Siap Ikuti Fun Run di Cimahi

Video Abah Setu Bikin Geger, Minta Maaf hingga Muncul Tuntutan Majelis Ditutup Total

Terpopuler
  • Aksi Sosial PT MBK Ventura di Purwakarta: Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis dan Donor Darah untuk Warga
  • Heboh Video Viral Kasir Indomaret, Lylia Beri Klarifikasi dan Bongkar Hal Ini
  • Link Full 7 Menit Kasir Indomaret Coolmax Viral, Benarkah Ada Video Utuh?
  • Viral Rekaman Air Pesisir Surut Dekat Anak Krakatau, Begini Kata BMKG
  • Uang Pendidikan Mengalir ke Mana? Bongkar Manfaat Rp6,3 Triliun Jabar vs Rp351 Miliar Sulteng
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.