bukamata.id – Akhir pekan di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Bogor, Jawa Barat, mendadak berubah heboh. Bukan karena promo besar-besaran atau acara khusus, melainkan akibat sebuah video amatir yang direkam di area parkiran mall tersebut. Rekaman itu memperlihatkan seorang pria berbaju kemeja lengan pendek tengah berseteru dengan sejumlah orang yang diduga debt collector.
Di tengah ketegangan, pria itu lantang mengaku sebagai anak anggota Propam Polda Metro Jaya. Ia juga menyatakan bahwa mobil yang dibawanya adalah kendaraan barang bukti yang dipinjam sang ayah dari kepolisian sektor. Klaim tersebut sontak memancing perhatian orang-orang di sekitarnya, dan lebih luas lagi setelah video itu diunggah ke media sosial.
Akun Instagram @feedgramindo mengunggah rekaman tersebut pada Minggu (23/11/2025) dengan keterangan provokatif berbunyi: “Mobil barang bukti dibuat jalan-jalan keluarga polisi: bapak saya Propam di Polda Metro.” Unggahan itu menuai respons besar dari warganet, memicu diskusi panjang dan spekulasi mengenai kemungkinan penyalahgunaan fasilitas kepolisian.
Mengenal Propam dan Sensitivitas Isu
Banyak publik ikut tersulut karena klaim sang pria menyebut nama Propam. Propam, atau Profesi dan Pengamanan, merupakan divisi internal Polri yang bertugas menjaga etika, kedisiplinan, serta melakukan pengawasan terhadap personel kepolisian. Dengan peran tersebut, lembaga ini sering dianggap sebagai garda terakhir penegakan disiplin internal.
Oleh karena itu, ketika seseorang mengatakan dirinya anak anggota Propam, publik cenderung memberi perhatian lebih. Apalagi ditambah klaim penggunaan barang bukti untuk kepentingan pribadi, narasi yang sangat sensitif di tengah sorotan masyarakat terhadap integritas institusi penegak hukum.
Dalam video, tampak pria tersebut berupaya meyakinkan pihak lain yang mempertanyakan legalitas mobil yang digunakannya. Seorang pria yang diduga debt collector menanyakan kepemilikan kendaraan, memicu adu argumentasi sengit di area parkir mall.
Klarifikasi dari Polda Metro Jaya
Tidak butuh waktu lama bagi institusi kepolisian untuk memberikan tanggapan. Pihak Polda Metro Jaya membenarkan adanya kejadian itu, namun sekaligus membantah klaim yang beredar luas.
Kepala Bidang Propam Polda Metro Jaya, Kombes Radjo Harahap, memberikan pernyataan tegas terkait identitas pria dalam video. “Bukan (anggota Propam Polda Metro), anaknya asbun saja itu. Bapaknya anggota SPKT di Polsek Tajur Halang,” kata Radjo.
Melalui pernyataannya, Radjo menegaskan bahwa pria dalam rekaman bukanlah anak anggota Propam, melainkan putra anggota Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Tajur Halang, Depok. SPKT sendiri memiliki tugas penting memberikan pelayanan awal kepada masyarakat, seperti menerima laporan, memberikan bantuan pertama, hingga mendatangi lokasi kejadian untuk pengamanan dan olah TKP.
Status Mobil Dipertanyakan
Selain masalah identitas, salah satu isu yang paling ramai diperbincangkan menyangkut status mobil yang dibawa pria tersebut. Klaim bahwa mobil itu merupakan barang bukti membuat publik semakin curiga.
Radjo menanggapi isu tersebut dengan menyebut bahwa berdasarkan informasi awal, kendaraan itu tidak termasuk barang bukti. “Sekilas kami dapat infonya itu bukan (barang bukti). Tapi masih kami dalami lagi,” jelasnya. Ia memastikan pihaknya akan menelusuri lebih jauh untuk memastikan status kendaraan tersebut.
Pernyataan serupa juga datang dari Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto. “Sudah didalami oleh Propam tentang video tersebut dan tidak benar orang tua yang bersangkutan berdinas di Propam Polda Metro Jaya,” ujarnya.
Terkait kendaraan, Budi memberikan penjelasan lebih rinci. “Kendaraan dimaksud statusnya pindah kredit, bukan mobil barang bukti,” tegasnya. Penegasan ini mematahkan narasi awal yang berkembang luas di media sosial.
Permintaan Maaf dan Klarifikasi Pelaku
Setelah video tersebut menjadi viral dan menuai banyak kecaman, pihak yang bersangkutan akhirnya muncul memberikan klarifikasi. Dalam video permintaan maaf yang beredar kemudian, pria itu mengakui kesalahannya dan menyampaikan penyesalan.
“Saya ingin meminta maaf kepada institusi Polri karena sudah mencemarkan nama baik Polri,” katanya. Ia juga menegaskan kembali bahwa dirinya bukan anak anggota Propam Polda Metro Jaya.
“Tidak benar orang tua saya berdinas di Propam Polda Metro. Kemudian, kedua terkait kendaraan tersebut tidak benar juga BB (barang bukti) milik Polri,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, ia mengungkap alasan di balik pengakuannya di parkiran mall tersebut. Menurutnya, ia berada dalam kondisi tertekan saat berhadapan dengan debt collector. “Saya terpaksa melakukan hal tersebut karena saya mendapatkan tekanan dan intimidasi dari debt collector,” tuturnya.
Polemik di Tengah Budaya Viral
Kasus ini menjadi gambaran jelas bagaimana sebuah peristiwa kecil di ruang publik dapat berkembang menjadi polemik nasional dalam hitungan jam. Keberadaan kamera ponsel dan akses cepat ke media sosial membuat setiap tindakan terekam dan tersebar luas tanpa filter.
Di sisi lain, peristiwa ini menunjukkan sensitivitas masyarakat terhadap isu yang menyangkut aparat penegak hukum, terutama ketika berhubungan dengan fasilitas negara. Tuduhan penyalahgunaan wewenang menjadi topik yang cepat memancing emosi publik.
Dampak dan Pembelajaran
Bagi kepolisian, respons cepat melalui klarifikasi resmi dari pejabat terkait menjadi langkah penting untuk meredam spekulasi liar. Pernyataan tegas dari Radjo dan Budi turut menjaga kredibilitas institusi.
Namun, bagi sebagian masyarakat, kasus ini membuka diskusi baru tentang praktik penagihan utang oleh debt collector. Tekanan dan intimidasi yang disebut-sebut dialami pelaku memperlihatkan sisi lain dari persoalan yang jarang mendapat sorotan.
Peristiwa di mall Bogor ini memperlihatkan bagaimana dinamika sosial digital membentuk opini publik. Pertengkaran di parkiran.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











