bukamata.id – Kasus infeksi HIV baru di Jawa Barat mengalami lonjakan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa Barat, sepanjang tahun 2024 tercatat sebanyak 10.405 kasus baru, naik dua kali lipat dibanding rata-rata tahunan sebelum 2022.
Dari 1,19 juta orang yang menjalani tes HIV tahun lalu, kelompok yang paling banyak ditemukan positif HIV adalah mereka yang tertular melalui hubungan seksual.
Data menunjukkan bahwa penularan melalui hubungan seksual kini mendominasi, melampaui penyebaran melalui penggunaan jarum suntik yang sebelumnya menjadi penyebab utama.
“Penularan HIV paling banyak memang melalui hubungan seksual, baik sesama jenis maupun lain jenis,” kata Landry Kusmono, Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa Barat, Kamis (26/6/2025).
Ancaman ke Populasi Umum
Yang menjadi perhatian serius adalah meluasnya risiko penularan HIV ke populasi umum, terutama karena sebagian individu dalam kelompok berisiko juga memiliki pasangan dari kelompok yang tidak menyadari potensi penularan tersebut.
“Banyak orang yang terlihat sehat dan hidup normal, namun tanpa sadar membawa risiko menularkan HIV ke pasangan mereka,” jelas Landry.
“Ini tantangan besar karena sulit mendefinisikan secara tegas kelompok berisiko, mengingat banyak dari mereka memiliki lebih dari satu jenis relasi seksual,” tambahnya.
Dengan begitu, penyebaran HIV tidak lagi terbatas dalam lingkup komunitas tertentu, tapi bisa menjalar ke masyarakat luas, termasuk pasangan heteroseksual yang tidak tergolong dalam kelompok risiko tinggi.
Tren Meningkat Sejak Pandemi
Landry mengungkapkan bahwa tren peningkatan kasus HIV mulai terlihat sejak pandemi COVID-19 mereda. Mobilitas kembali meningkat, terutama dari kalangan pekerja migran dan pekerja seks yang kembali ke kampung halaman karena kehilangan pekerjaan.
“Banyak pekerja seks perempuan yang pulang ke daerah asal karena pandemi. Mereka mungkin tidak sadar menjadi mata rantai penularan di lingkungan baru mereka, baik keluarga maupun masyarakat sekitar,” ujarnya.
Data tahunan memperkuat tren tersebut:
- 2022: 8.620 kasus baru
- 2023: 9.710 kasus baru
- 2024: 10.405 kasus baru
Padahal, sebelumnya penambahan kasus tahunan relatif stabil di kisaran 5.000 kasus, dengan angka tertinggi 6.066 kasus pada tahun 2019.
Pentingnya Tes dan Edukasi Kesehatan Seksual
Melihat tingginya kasus baru yang berasal dari transmisi seksual, Landry menegaskan pentingnya edukasi tentang kesehatan reproduksi dan seksual secara inklusif. Pemeriksaan dini, penggunaan alat pelindung saat berhubungan seksual, dan pengurangan stigma terhadap orang dengan HIV menjadi langkah strategis untuk mencegah penyebaran lebih luas.
“Tes HIV harus menjadi bagian dari gaya hidup sehat, bukan sesuatu yang ditakuti. Edukasi dan keterbukaan informasi akan jadi benteng utama,” tutupnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











