bukamata.id – Daya tarik Kota Kembang tak pernah habis pada kopi kekinian, kuliner malam, atau pemandangan alamnya semata. Bagi penikmat pola makan berbasis tumbuhan, ibu kota Jawa Barat ini menyimpan beragam opsi tempat makan yang sangat bersahabat bagi penganut vegan maupun vegetarian.
Mulai dari kedai khusus olahan nabati, kafe berkonsep sustainable, hingga Restoran hotel berbintang, pilihan menu ramah lingkungan makin mudah dijumpai. Kendati demikian, pencinta kuliner tetap dituntut cermat membedakan kategorinya. Sebab, tidak semua penyedia hidangan di daftar ini murni menyajikan menu vegan-only. Sebagian berstatus restoran vegetarian, sedangkan lainnya merupakan Restoran umum yang menyisipkan opsi berbasis tanaman (plant-based options).
Bagi yang sedang berburu variasi nasi padang nabati, sate tanpa daging, olahan mi, mi artisan, hingga kopi ramah lingkungan, beberapa lokasi berikut dapat menjadi referensi eksplorasi rasa saat berkunjung ke Bandung.
1. Hejo Eatery Eyckman
Pilihan pertama jatuh pada Hejo Eatery Eyckman yang berlokasi di Jalan Prof Eyckman Nomor 26, Pasteur, Sukajadi. Mengusung tagline ‘Guilt-free Everyday Comfort Food’, seluruh sajian di tempat ini diracik bebas bahan hewani, tanpa telur, tanpa produk susu, tanpa minyak kelapa sawit, serta bebas bahan sintesis.
Restoran ini juga aktif mengampanyekan gerakan peduli lingkungan lewat gerakan #senenhejo untuk mengencangkan ajakan mengurangi konsumsi daging berkala. Pilihan menunya mencakup sajian lokal seperti nasi ayam bakar pecak, sate magudas, hingga rendang padang yang memanfaatkan protein kedelai, jamur, dan nangka muda (jackfruit). Tersedia pula pilihan menu Asian fusion dan Barat seperti kimchi fried rice, tom yum, hingga vegan mac & cheese. Rumah makan ini beroperasi saban hari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.
2. Kehidupan Tidak Pernah Berakhir (KTPB)
Bagi pemburu kuliner vegetarian senior di Bandung, nama Kehidupan Tidak Pernah Berakhir di Jalan Pajajaran Nomor 63, Pasir Kaliki, Cicendo tentu tidak asing. Mengusung sistem prasmanan ala warteg higienis, kedai yang beroperasi pukul 07.00 hingga 21.00 WIB ini menyajikan puluhan variasi tumisan dan lauk olahan nabati dengan harga yang sangat ramah di kantong.
Pengunjung bisa memilih paket ekonomis kombinasi nasi dan sayur, atau menambah lauk analog berbasis plant-based meat. Selain model prasmanan, tempat ini menawarkan pilihan a la carte unik seperti nasi timbel, nasi goreng, hingga steak vegetarian. Karena mengusung konsep vegetarian umum, penganut vegan murni disarankan mengonfirmasi penggunaan telur atau turunan susu sebelum memesan.
3. Greens and Beans
Berada di kawasan Jalan Bahureksa Nomor 9, Citarum, Greens and Beans (GnB) menawarkan atmosfer tempat nongkrong modern dengan prinsip keberlanjutan. Kafe ini menerapkan operasional zero waste dengan mengolah sisa makanan bersama pengelola peternakan maggot setempat.
Menu yang disajikan dilengkapi informasi transparan mengenai kalori serta makronutrisi. Pilihan yang bisa dicoba antara lain kreasi salad dan sandwich, smoothie bowl, pizza sourdough, hingga tempe Buddha bowl. Meski bukan restoran murni vegan karena tetap menyediakan opsi daging sapi grass-fed dan ayam bebas hormon, tempat ini memberi label khusus (V/VG) serta opsi Allium-Free (tanpa bawang) dan gluten-free pada tiap lembar menunya.
4. Resto Dunia Vegan
Berlokasi di Jalan Ciwastra No. B2 Nomor 319 (Lantai 2 Studio L’Ashamour), Resto Dunia Vegan hadir kembali meramaikan pilihan santap sehat di Bandung. Tempat yang beroperasi pukul 09.00 hingga 20.00 WIB ini membawa filosofi ‘Hidup Sehat Hidup Bahagia’.
Fokus utamanya adalah menghadirkan aneka masakan berbahan dasar tumbuhan yang disesuaikan dengan cita rasa masakan Nusantara. Tekstur dan bumbu lauk pauk yang disajikan dibuat mirip dengan sajian harian masyarakat Indonesia, sehingga pas bagi pemula yang baru menjajal pola makan tanpa daging.
5. Sadrasa Kitchen & Bar
Bagi yang menginginkan pengalaman fine dining atau santap prasmanan di kawasan pusat kota, Sadrasa Kitchen & Bar di Pullman Bandung Grand Central (Jalan Diponegoro Nomor 27) menjadi lokasi yang tepat. Restoran berinterior Art Deco ini menyajikan program sarapan bertajuk Active Breakfast serta hidangan a la carte.
Meski menyajikan menu umum, Sadrasa memberi tanda khusus berlogo daun hijau untuk setiap masakan vegetarian. Opsi yang ditawarkan berkisar dari kuliner lokal seperti lotek Bandung dan urap, hingga hidangan internasional seperti pizza margherita, penne arrabiata, serta sup jamur. Dapur restoran ini juga melayani permintaan menu tailor-made sesuai kebutuhan diet khusus pelanggan.
6. Saffron Restaurant
Terletak di Four Points by Sheraton Bandung, Jalan Ir H Juanda Nomor 46, Dago, Saffron Restaurant menyajikan pengalaman kuliner all-day dining dari pukul 06.00 hingga 22.30 WIB. Restoran ini menyertakan penanda khusus bermakna Vegetarian (ikon wortel) pada jajaran daftar menunya.
Pilihan masakan berbasis tumbuhan yang ditawarkan cukup beragam, meliputi jamur maranggi, karedok, gado-gado, mendoan krispi, hingga camilan khas Bandung Platter (cireng, cimol, cilok). Untuk menu ala Barat, pengunjung dapat memilih green garden sandwich atau cream of mushroom soup. Mengingat sifatnya yang ramah vegetarian, penganut gaya hidup vegan perlu menanyakan detail bahan olahan agar terhindar dari turunan hewani seperti mentega atau madu.
Memahami Perbedaan Vegan dan Vegetarian
Secara mendasar, vegetarian dan vegan memiliki batasan konsumsi yang tak sama. Pelaku vegetarian umumnya hanya menghindari daging merah, unggas, serta boga bahari (seafood), namun beberapa kategori di antaranya masih mengonsumsi telur (ovo-vegetarian), susu dan produk turunannya (lacto-vegetarian), atau keduanya (lacto-ovo-vegetarian).
Sementara itu, penganut vegan menerapkan batasan penuh dengan menolak seluruh bahan yang berasal dari hewan, termasuk susu, telur, madu, hingga gelatin. Bahkan dalam penerapannya, veganisme kerap meluas menjadi gaya hidup yang menghindari pemakaian barang berbahan kulit, sutra, maupun wol.
Mengapa Pola Makan Berbasis Tumbuhan Makin Diminati?
Pilihan untuk beralih ke pola makan nabati didorong oleh beragam alasan, mulai dari perhatian pada kesehatan personal, isu lingkungan, kesejahteraan hewan, hingga preferensi etis.
Secara medis, pola makan berbasis tumbuhan yang direncanakan dengan seimbang terbukti membawa dampak positif, seperti membantu menjaga berat badan ideal, menurunkan tekanan darah, serta menekan risiko diabetes tipe 2. Di sisi lain, dari sudut pandang lingkungan, konsumsi nabati dinilai menghasilkan jejak karbon yang jauh lebih rendah ketimbang industri peternakan hewani. Tren ini pun tercatat terus meningkat, terutama di kalangan generasi muda yang makin sadar akan pentingnya menjaga kebugaran sekaligus kelestarian alam.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










