bukamata.id – Belum genap sepekan sejak Vicky Prasetyo menyulut lini masa dengan seruan “Gladiator turun ke jalan”, sikapnya berbalik arah.
Pria yang sebelumnya lantang menyindir Raffi Ahmad dan para pesohor yang hadir dalam Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI itu kini justru membela sang presenter. Ia mengaku terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Perubahan sikap ini membuat publik terbelah. Sebagian menghargai keberanian Vicky meminta maaf, sementara sebagian lain mempertanyakan konsistensi sosok yang beberapa hari lalu dielu-elukan warganet sebagai “King of Gladiator”.
“Maafin Ya Jon, Terlalu Cepat Menyimpulkan”
Pernyataan terbaru Vicky disampaikan pada Selasa (3/11/2026). Dalam unggahannya, ia menyebut baru memahami duduk persoalan setelah mengetahui penjelasan dari pihak Raffi Ahmad.
“Setelah diketahui faktanya, ternyata Raffi Ahmad tidak terlibat apa pun, dia datang hanya sebatas tamu undangan. Maafin ya Jon, terlalu cepat menyimpulkan. Mengkritik kebijakan itu keharusan, tapi memaksakan kesalahan pada orang yang tidak tahu apa-apa adalah kekeliruan yang harus berani kita luruskan,” tulis Vicky melalui akun Threads @vickyprasetyo777.
Kalimat itu terdengar kontras dengan nada yang ia gunakan beberapa hari sebelumnya. Saat itu, Vicky menyebut kehadiran para artis pada 29 Oktober sebagai “blunder paling memalukan” di ruang publik.
Dari “Siap Kehilangan Teman” ke Permintaan Maaf
Untuk memahami mengapa permintaan maaf ini menjadi sorotan, publik perlu menengok kembali seberapa keras sikap Vicky sebelumnya.
Polemik bermula dari dua peristiwa berturut-turut di Bundaran HI, Jakarta. Pada Rabu (28/10/2026), tepat di Hari Sumpah Pemuda, sejumlah mahasiswa merencanakan aksi damai untuk menyuarakan aspirasi rakyat, namun izinnya ditolak dan kawasan itu dijaga ketat.
Sehari kemudian, Kamis (29/10/2026), lokasi yang sama justru menjadi panggung acara Deklarasi Sumpah Pemuda yang meriah. Raffi Ahmad dan Willie Salim termasuk pesohor yang hadir, tampil kompak berpakaian putih dengan ikat kepala merah putih.
Kontras itu memantik kemarahan warganet. Kehadiran para pesohor dinilai nir-empati di tengah situasi ekonomi dan sosial yang sensitif. Isu dugaan pengerahan massa bayaran juga sempat beredar, meski hingga kini belum ada pihak yang membuktikannya.
Di tengah situasi itu, Vicky tampil sebagai salah satu suara paling keras dari kalangan selebritas. Lewat akun Instagram @vickyprasetyo777, ia menulis, “Saatnya Gladiator turun ke jalan… Saya lebih siap kehilangan teman-teman daripada mengkhianati perjuangan rakyat.”
Ia juga melontarkan sindiran yang dibaca banyak warganet sebagai serangan langsung kepada Raffi: “Sumpah Pemuda itu 28 Oktober teman-teman… Kalau 29 itu ulang tahun Sari.”
Tak berhenti di situ, Vicky menuding para artis dan influencer yang hadir sedang “panik mengamankan kepentingan” dan menyebut acara tersebut sebagai “panggung tandingan pesanan” untuk membungkam suara mahasiswa. Ia bahkan menyinggung citra dermawan para pesohor yang kerap membagikan uang di media sosial.
Sikap itu sempat menuai banjir pujian. Banyak warganet menyebutnya pahlawan baru dari kalangan selebritas, terlebih karena Vicky dikenal berada di lingkar pergaulan yang sama dengan Raffi.
Klarifikasi Raffi yang Mengubah Arah
Raffi Ahmad, yang kini menjabat Utusan Khusus Presiden Bidang Generasi Muda dan Pekerja Seni, sebelumnya telah memberikan klarifikasi. Ia menyebut kehadirannya di Bundaran HI murni karena undangan mendadak dan tidak terlibat dalam kepanitiaan.
Penjelasan inilah yang tampaknya menjadi dasar perubahan sikap Vicky. Namun, gelombang penolakan terhadap Raffi sempat merembet hingga ke panggung resmi. Dalam Indonesia Youth Summit 2026 yang digelar Kemenpora di Taman Ismail Marzuki pada 29–30 Oktober, seorang peserta mengacungkan simbol tiga jari ke arah Raffi sebagai bentuk protes, sebelum dibawa keluar oleh petugas keamanan. Raffi saat itu memilih melanjutkan pidatonya dengan tenang.
Warganet Terbelah: Salut atau Curiga?
Permintaan maaf Vicky tidak serta-merta meredakan perbincangan. Kolom komentar justru dipenuhi beragam reaksi, dari yang mengapresiasi hingga yang mencurigai motif di baliknya.
Sebagian warganet menilai langkah Vicky patut dihargai. “Lain kali cari tau dulu kebenarannya jangan asal komen! Tapi salut buat bg Vicky sebagai laki² mau meminta maaf,” tulis akun @cha***.
Namun, tak sedikit yang bersikap sinis. Ada yang mempertanyakan ketulusan Vicky sejak awal. “Lo percaya Vicky beneran ngewakilin rakyat? Dia aja mau nyalon makannya sok bersuara,” tulis akun @boc***.
Yang lain menyinggung gaya bahasa khas Vicky yang pernah viral. “Apa yang kalian harapkan dari twenty nine my age statusisasi kemakmuran kudeta cinta?” tulis akun @fir***.
Ada pula yang melontarkan pertanyaan bernada curiga. “Abang kena ancam ama Raffi Ahmad kah?” tulis akun @sim***.
Pelajaran dari Sang Gladiator
Kisah Vicky dalam sepekan terakhir memperlihatkan betapa cepatnya opini publik terbentuk dan berubah di era media sosial. Dalam hitungan hari, ia bergerak dari “pahlawan baru” menjadi sosok yang dituding menjilat ludah sendiri.
Di satu sisi, keberanian mengakui kekeliruan adalah sikap yang jarang ditemui di kalangan figur publik. Di sisi lain, perubahan arah yang begitu cepat memunculkan pertanyaan tentang seberapa matang sebuah kritik dilontarkan sebelum diumumkan ke jutaan pengikut.
Satu hal yang tak berubah: pertanyaan besar soal kontras perlakuan di Bundaran HI pada 28 dan 29 Oktober masih menggantung. Permintaan maaf Vicky menyangkut keterlibatan Raffi secara pribadi, bukan menjawab mengapa aksi mahasiswa ditolak sementara acara deklarasi sehari setelahnya justru digelar meriah.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










