Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bosan ke Tempat yang Itu-itu Saja? Coba 5 Wisata Bogor Anti-Mainstream Ini

Kamis, 29 Oktober 2026 03:00 WIB

Cara Cek Bansos PKH dan BPNT Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Begini Langkahnya

Kamis, 29 Oktober 2026 01:00 WIB

Kolaborasi Fiersa Besari dan Arei Hadirkan Cerita di Balik Ekspedisi Gunung Elbrus

Rabu, 28 Oktober 2026 21:43 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bosan ke Tempat yang Itu-itu Saja? Coba 5 Wisata Bogor Anti-Mainstream Ini
  • Cara Cek Bansos PKH dan BPNT Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Begini Langkahnya
  • Kolaborasi Fiersa Besari dan Arei Hadirkan Cerita di Balik Ekspedisi Gunung Elbrus
  • Balsa Sekulic Borong Dua Gol, Persib Semakin Kokoh di Puncak Grup E ACL Two
  • Dijuluki ‘Republik PKB’, Kabupaten Bandung Jadi Model Pemenangan PKB di Pemilu 2029
  • Hanya Pakaian Tertinggal di Tepi Sungai, Lansia Sumedang Ditemukan Meninggal di Cimanuk
  • Demo BEM se-Tasikmalaya Ricuh, Pagar DPRD Dijebol hingga Diseret ke Tengah Jalan
  • Dulu Dipuji Jadi Joki Karapan Kerbau, Kini Vebby Hananto Dihujat Gegara Polemik COP JRF
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 29 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Salah Ucap atau Salah Tafsir soal Zakat? Warganet Tuntut Menag Mundur

By SusanaMinggu, 1 Maret 2026 19:58 WIB4 Mins Read
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar. (Foto: Kemenag)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pernyataan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, tentang zakat mendadak menjadi bola panas di ruang publik. Dalam hitungan jam, potongan video pidatonya beredar luas, diperdebatkan, dipelintir, hingga memicu kemarahan sebagian warganet.
‎
‎Isu ini bukan sekadar soal diksi. Ia menyentuh salah satu fondasi ajaran Islam: zakat sebagai rukun Islam dan kewajiban personal (fardhu ‘ain). Maka ketika muncul frasa “kita harus meninggalkan zakat” dalam konteks pidato tersebut, publik bereaksi cepat bahkan keras.
‎
‎Namun, benarkah Menteri Agama bermaksud menggeser kewajiban zakat?
‎
‎Dari Forum Ekonomi Syariah ke Trending Topic
‎
‎Pernyataan kontroversial itu muncul dalam forum Sarasehan 99 Ekonomi Syariah. Dalam potongan yang viral, Nasaruddin Umar menyebut:
‎
‎“Kalau kita ini (mau) maju sebagai umatnya, kita harus meninggalkan zakat. Zakat itu enggak populer… Kalau pengeluaran kita hanya zakat, terlalu pelit kita.”
‎
‎Cuplikan ini menyebar luas tanpa konteks utuh. Di era media sosial, satu potongan kalimat dapat berdiri sendiri, terlepas dari maksud lengkap pembicara.
‎
‎Dalam waktu singkat, diskursus bergeser dari forum akademik ke kolom komentar Instagram dan X. Emosi publik pun mengemuka.
‎
‎Klarifikasi Resmi: Zakat Tetap Fardhu ‘Ain’
‎
‎Sabtu (28/2/2026), di Jakarta, Menteri Agama akhirnya menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf.
‎
‎“Saya memohon maaf atas pernyataan yang menimbulkan kegaduhan. Perlu saya tegaskan kembali bahwa zakat adalah kewajiban personal dan merupakan rukun Islam yang wajib ditunaikan setiap Muslim yang memenuhi syarat.”
‎
‎Ia menegaskan, gagasan yang disampaikan bukan untuk menggantikan zakat, melainkan memperluas perspektif pengelolaan dana sosial keagamaan. Menurutnya, zakat adalah fondasi, tetapi instrumen lain seperti wakaf, infak, dan sedekah perlu dioptimalkan agar berdampak ekonomi lebih besar dan berkelanjutan.
‎
‎Dalam penjelasannya, ia menyinggung praktik pengelolaan wakaf di negara-negara seperti Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, yang mampu menopang pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan sosial secara profesional dan terintegrasi.
‎
‎Dengan kata lain, pesan yang ingin disampaikan adalah ekspansi filantropi Islam, bukan eliminasi kewajiban zakat.
‎
‎Media Sosial: Antara Kritik, Emosi, dan Sindiran
‎
‎Namun klarifikasi tidak serta-merta meredakan gelombang opini. Di akun Instagram @lambe_turah, komentar warganet menunjukkan spektrum respons yang luas dari sarkasme hingga tuntutan mundur.
‎
‎Salah satu akun menulis:
‎
‎“PAK, SAYA MAU MENINGGALKAN PAJAK AJA BISA???? ITU BUKAN RUKUN ISLAM DAN RUKUN IMAN. UANG SAYA TIAP BULAN DIPOTONG PAJAK. GADA UNTUNGNYA BUAT SAYA.”
‎
‎Komentar lain lebih frontal:
‎
‎“Mundur pak mundur malu!!!”
‎
‎Ada pula yang menyentil kompetensi:
‎
‎“Lebih bijak lagi kalau anda mundur aja pak… nampaknya anda kurang pantas dan kurang kompeten jadi Menteri Agama.”
‎
‎Sementara komentar lain mengaitkan isu zakat dengan pajak negara:
‎
‎“Terus gak ada tuh di Al Qur’an ‘WAJIB PAJAK’. Bahkan pajak hukumnya haram loh hehe.”
‎
‎Narasi di atas menunjukkan bahwa polemik ini berkembang melampaui zakat. Ia menyentuh isu kepercayaan publik, legitimasi kebijakan, bahkan relasi agama dan negara.
‎
‎Mengapa Isu Ini Sensitif?
‎
‎Zakat bukan sekadar kewajiban finansial. Ia simbol keadilan sosial dalam Islam. Ia terkait langsung dengan rukun Islam, identitas keimanan, dan solidaritas umat.
‎
‎Ketika topik tersebut disentuh dalam konteks “ditinggalkan”, walau secara retoris, publik bereaksi secara emosional. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang menantang, di mana isu pajak, potongan gaji, dan beban hidup menjadi keluhan sehari-hari.
‎
‎Antara Substansi dan Persepsi
‎
‎Secara substansi, Menteri Agama menegaskan bahwa zakat tetap kewajiban (fardhu ‘ain). Namun secara persepsi, sebagian publik sudah lebih dulu menangkap pesan berbeda.
‎
‎Di sinilah tantangan komunikasi publik muncul: bukan hanya apa yang disampaikan, tetapi bagaimana ia diterima.
‎
‎Klarifikasi Nasaruddin Umar berupaya mengembalikan fokus pada tujuan awal, optimalisasi filantropi Islam agar lebih produktif dan berdampak jangka panjang. Zakat tetap dasar, sementara wakaf dan sedekah diperkuat sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat.
‎
‎Refleksi: Diskursus yang Lebih Besar dari Sekadar Zakat
‎
‎Polemik ini pada akhirnya membuka diskusi lebih luas:
‎
– ‎Bagaimana pengelolaan dana sosial keagamaan bisa lebih efektif?
‎
‎- Sejauh mana pejabat publik perlu berhati-hati dalam retorika?
‎
‎Di tengah derasnya arus informasi, satu kalimat bisa menjadi badai. Namun di balik badai itu, terdapat ruang refleksi: bahwa filantropi Islam tidak berhenti pada 2,5 persen zakat, tetapi bisa berkembang melalui pengelolaan wakaf dan sedekah yang profesional, tanpa mengurangi kewajiban dasar yang telah ditetapkan syariat.
‎
‎Polemik mungkin mereda. Tetapi perdebatan tentang bagaimana umat mengelola kekuatan ekonominya, tampaknya baru saja dimulai.

Baca Juga:  Indonesia Resmi Akan Berangkatkan 221 Ribu Jemaah pada Musim Haji 2025

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Nasaruddin Umar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Cara Cek Bansos PKH dan BPNT Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Begini Langkahnya

Dijuluki ‘Republik PKB’, Kabupaten Bandung Jadi Model Pemenangan PKB di Pemilu 2029

Hanya Pakaian Tertinggal di Tepi Sungai, Lansia Sumedang Ditemukan Meninggal di Cimanuk

Demo BEM se-Tasikmalaya Ricuh, Pagar DPRD Dijebol hingga Diseret ke Tengah Jalan

Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap

Demo Mahasiswa di DPRD Jabar Saat Sumpah Pemuda, Soroti Karhutla hingga MBG

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
  • Berkas Kasus UU ITE Bambang Soeharto Hampir Rampung, Simalango Law Firm Soroti Langkah Tersangka Lapor Balik Saksi
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.